
Gadis itu menunduk kemudian berkata, "Selamat, kau sudah lulus dari ujian hawa nafsu."
Dia berjalan mendekat pada Gu Lang dengan sebuah kotak kayu di tangannya yang entah datang darimana, kemudian menyerahkan kotak itu pada Gu Lang.
"Ini adalah hadiah untukmu, karena berhasil di ujian ke-lima ini. Semoga berhasil di ujian selanjutnya."
Tanpa ragu Gu Lang mengambil kotak kayu itu, dan memasukkannya ke dalam cincin ruang hingga ilusi itu mulai hilang dan dia kembali berada di altar lantai ke lima menara sembilan tingkat.
Masih ada empat tingkatan lagi, dan Gu Lang tak ingin membuang-buang waktu. Dia harus segera menyelesaikan semua ujian di menara sembilan tingkat, dan mendapatkan pil penyambung nyawa.
Karena setelah ini dia masih harus mencari obat untuk memulihkan Xiao San seperti sedia kala.
Tangan Gu Lang terkepal erat, "Tang Yu Long!"
Sorot mata yang begitu menakutkan, karena kondisi Xiao San saat ini tak luput dari campur tangan manusia laknat itu.
Gu Lang ingin sekali menghabisi pria itu, sebagai balasan atas kematian Bao Feng dan kondisi Xiao San yang sedang sekarat saat ini.
Gu Lang kembali menaiki tangga, menuju lantai ke-enam di menara sembilan tingkat itu.
Ada rasa penasaran yang terselip di hati Gu Lang, tentang ujian apa yang akan dia terima di lantai ke-enam ini.
Dia melangkah maju menuju altar untuk menerima ujian ke-enam.
Sinar biru terang tiba-tiba saja menyeruak dan membuat Gu Lang sampai menutup kedua matanya, dengan lengan.
Sinar biru terang itu memenuhi seluruh ruangan, kemudian menghilang bersamaan dengan Gu Lang yang mendengar suara gemericik air yang terjatuh dari tempat yang tinggi.
Angin sejuk menghembus wajahnya dan membuat Gu Lang membuka mata perlahan, dia terpana.
Terpana dengan keindahan air terjun di hadapannya, sebuah air terjun yang menjulang tinggi dan jatuh dengan indah.
Di bagian tengah air terjun itu, ada sebongkah batu besar yang rata membuat Gu Lang memiliki dugaan jika air terjun ini biasa digunakan untuk berlatih dan memperkuat jiwa.
"Selamat datang di air terjun Giok. Duduklah di atas batu itu, dan bertahanlah di sana sampai batas waktu yang ditentukan."
__ADS_1
Ternyata dugaan Gu Lang benar, suara itu menginstruksikan dirinya untuk menempa jiwa dengan cara bersemedi di bawah guyuran air terjun itu.
Dilihat dari ketinggian air terjunnya saja, sudah bisa dipastikan jika kekuatan hantaman air yang mengenai tubuhnya pasti akan sangat menyakitkan.
Terlebih lagi air terjun ini di khususkan untuk berlatih, yang pastinya memiliki keistimewaan sendiri yang entah apa.
Tanpa basa basi, Gu Lang melepas bajunya dan melesat menuju batu pijakan itu.
Baru saja dia menampakkan kakinya di atas batu itu, aura yang begitu kuat namun menyegarkan disaat yang sama pun menyeruak masuk ke dalam tubuhnya.
Gu lang baru akan bersiap dan memulai semedinya, namun di saat yang sama, muncul sebuah tanda di punggung tangan Gu Lang.
Tanda itu menunjukkan berapa lama waktu yang Gu Lang butuhkan, untuk bisa lolos dari ujian ini.
"Hanya satu jam? Tidak mungkin semudah itu kan?" gumamnya.
Namun di bawahnya juga tertera angkat tiga, yang Gu Lang yakini jika itu adalah jumlah kesempatan yang dia miliki.
"Aku punya tiga kali kesempatan. Baiklah, mari mulai." Gu Lang segera duduk dan memulai semedinya.
Yang Gu Lang rasakan saat ini adalah rasa terbakar dan membeku di saat yang sama. Entah kenapa bisa seperti itu, tapi yang jelas itu sangat menyakitkan.
Sesaat tubuhnya terasa terbakar, dan sesaat setelahnya terasa dingin hingga membeku lalu kembali meleleh dan terbakar.
Hal itu terus terjadi, membuat Gu Lang sangat tersiksa dan bahkan dia tak bisa fokus dan masuk ke dalam persepsi jiwanya.
"Aaarrrghh!"
Bersamaan dengan teriakan Gu Lang yang terdengar sangat menyakitkan itu, tubuh Gu Lang terlempar keluar dari air terjun itu.
"Sakit sekali, ternyata memang tidak semudah itu," ujar Gu Lang dengan tersendat-sendat, karena rasa perih di tubuh terutama punggungnya masih begitu terasa.
Gu Lang masih mencoba menetralkan nafasnya, dan berusaha bangkit untuk duduk.
Dengan sedikit usaha, akhirnya dia berhasil duduk dan yang pertama kali dia lihat adalah angka yang tertera punggung tangannya.
__ADS_1
Wajah Gu Lang begitu terkejut dan tidak percaya. Siksaan yang tadi dia rasakan seolah sudah sangat lama, tapi ternyata dia baru berada di sans selama lima menit saja. Bukankah itu gila?
Saking dahsyatnya efek dari air terjun itu, bahkan membuat Gu Lang seperti tidak tahan lagi dengan kesakitan itu.
Semenit terasa seperti satu jam, itulah yang Gu Lang rasakan.
"Ini Gila! Kesempatanku tinggal dua kali, dan kali ini aku tak boleh gagal lagi!"
Gu Lang kembali naik ke atas batu itu, untuk menantang rasa sakit yang begitu membuatnya merasa berada di neraka dunia itu.
Namun kali ini, Gu Lang berusaha keras untuk fokus agar dirinya bisa masuk ke persepsi jiwanya, untuk mengurangi rasa sakit pada raganya.
Dan kini Gu Lang berhasil masuk ke persepsi jiwanya.
Dia kembali pusaran mengerikan itu, pusaran yang pernah mencabik-cabik jiwanya dan membuatnya merasa terombang-ambing di tengah gerbang alam baka.
Rasa dimana dia ingin hidup dan mati di saat yang bersamaan, rasa dimana dia ingin nenyerah namun juga tak ingin menyerah di saat yang sama.
Tapi sepertinya Gu Lang menyadari keanehan dalam pusaran itu, ada sebuah pusaran lain yang membumbung tinggi layaknya tornado.
Namun anehnya, pusaran tinggi itu memiliki dua warna yaitu merah dan biru. Warna merah yang melambangkan hawa panas dari api dan warna biru yang melambangkan hawa dingin dari es.
"Apa ini efek dari air terjun giok?" batin Gu Lang.
Perlahan namun pasti, pusaran tornado dua warna itu mulai mendekati pusaran kekosongan milik Gu Lang.
Dan kini dia mulai merasakan kembali, kesakitan akibat hawa dingin dan panas yang menyerangnya secara bersamaan itu.
Namun kini tak hanya raganya yang merasakan penyiksaan gila itu, melainkan jiwanya juga.
Rasa sakit yang kini Gu Lang rasakan, jauh lebih hebat dari rasa sakit yang sebelumnya.
Tubuhnya masih terus mengalami penyiksaan di bawah derasnya guyuran air terjun giok, sedangkan jiwanya juga sedang mengalami penyiksaan kejam oleh tornado es dan api itu.
Mungkin disaat inilah orang-orang dengan tekad lemah akan memilih untuk menyerah, lebih baik mati dengan tenang daripada hidup dalam penyiksaan.
__ADS_1
Namun bagi orang-orang seperti Gu Lang, saat-saat seperti ini seolah mengingatkan dirinya tentang kehidupan kelamnya di masa lalu.