Penguasa Menara Langit

Penguasa Menara Langit
Episode 44


__ADS_3

"Tuan Cai, lebih cepat sedikit..."


Di dalam sana tuan Cai nampak tengah menikmati surga dunia, di atas ranjang panasnya sehingga Gu Lang memilih untuk melancarkan aksinya setelah Gong Cai selesai dengan aktivitasnya.


Jangan salah paham, Gu Lang bukan melakukannya karena dia ingin atau suka melihat pemandangan yang menodai matanya itu. Hanya saja bukankah akan lebih seru jika membuat musuh yang sedang terbang tinggi ke angkasa, jatuh dengan begitu menyedihkan ke dasar bumi?


Itulah yang Gu Lang inginkan. Menjatuhkan musuhnya di saat dia merasa tengah berada di puncak tertinggi, dan merasa tak ada yang bisa menjatuhkannya.


Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya suara-suara lucknut yang berasal dari kedua insan yang tengah mereguk nikmatnya surga dunia di dalam sana pun berakhir.


Dan inilah saatnya bagi Gu Lang untuk beraksi.


Brak!


Pyar!


Gu Lang memecahkan atap kediaman itu dan melompat turun, membuat kedua manusia yang masih berpelukan tanpa sehelai benang pun di tubuhnya itu begitu terkejut.


"Aaaaa!" jerit si wanita sambil menarik selimutnya untuk menutupi tubuh polosnya.


Sedangkan Gong Cai langsung panik karena mengira Gu Lang adalah perampok yang menginginkan hartanya.


"Siapa kau?! Apa tujuanmu datang ke kediamanku? Apa kau mengingini harta? Akan aku berikan berapapun yang kau mau, asal kau tak menyakitiku."

__ADS_1


Sontak saja Gu Lang tertawa hambar mendengar hal itu. Harta? Bisakah benda bernama harta itu mengembalikan nyawa seluruh anggota keluarganya? Bisakah benda bernama harta itu membuat ayahnya kembali padany? Jawabannya tidak, tidak bisa. Jadi untuk apa juga Gu Lang menginginkan benda itu? Yang dia inginkan hanyalah informasi. Informasi dimana ayahnya berada saat ini, juga balas dendam. Dia ingin membalaskan dendam darah yang mengalir dari anggota keluarga Gu, pada orang yang sudah membantai mereka. Membuat darah para iblis bertopeng manusia itu mengalir dan menemani mereka di alam sana.


Meskipun dia tau darah di bayar dengan darah, tetap tak akan mengembalikan nyawa keluarganya. Tapi setidaknya, dia ingin para pendosa itu mendapatkan ganjaran yang setimpal.


Gu Lang tidak ingin para pendosa itu bahagia di atas darah dan daging anggota keluarga Gu. Gu Lang ingin membuat arwah seluruh anggota keluarganya yang gugur itu tenang dengan mengantarkan para pendosa ke tempat yang sama.


Terlebih semua orang yang dia temui, tak terlihat menyesali perbuatan mereka sama sekali dan justru berbahagia, melakukan pesta dan merayakan kemenangan mereka atas kehancuran keluarganya, sungguh biadab yang patut di ampuni.


Mereka bahkan tidak mengampuni perempuan dan anak-anak, mereka membantai habis semuanya dan hanya menyisakan sang ayah yang saat ini entah berada di mana.


Gong Cai, kepala keluarga Gong memang terkenal lemah dalam hal kultivasi tapi dia pandai dalam hal bisnis. Sehingga setiap kali dia bepergian, maka akan ada banyak pengawal yang mengikutinya demi keamanannya.


Dan di saat seperti ini, maka hanya harta yang dapat dia andalkan untuk menyelamatkan nyawanya. Sayangnya Gu Lang bukanlah perampok harta, melainkan perampok nyawa yang merasa harta bukanlah benda berharga melebihi nyawa seluruh anggota keluarganya.


Dengan suara bergetar Gong Cai kembali bertanya pada Gu Lang, "Apa kau pembunuh bayaran yang di kirim untuk membunuhku? Berapa yang dia janjikan padamu? A-aku akan memberikanmu lima kali lipat, asal kau tidak membunuhku."


Gu Lang bedecak kesal mendengar Gong Cai terus saja menggunakannya kekayaannya yang tidak seberapa itu sebagai alat negosiasi dan membuat Gu Lang muak mendengarnya, "Apa menurutmu hartamu yang tidak seberapa itu bisa mengembalikan nyawa keluargaku, tuan Gong Cai? Lagipula bukankah jika aku menghabisimu, maka semua harta bendamu itu bisa menjadi milikku?"


Gong Cai terperanjant mendengarnya, "Keluarga?" batin Gong Cai.


Ingatan Gong Cai pun langsung tertuju pada keluarga Gu karena memang hanya darah keluarga Gu, yang baru saja dia tumpahkan sebagai bentuk kepatuhannya pada orang misterius itu.


Gong Cai beringsut mundur hingga tubuhnya menempel ke tembok, dan wanita yang baru saja menghabiskan malam panas bersamanya juga tengah meringkuk memeluk lututnya di atas kasur itu.

__ADS_1


"A-apa kau datang untuk membalaskan dendam keluarga Gu? K-kalau iya kau datang ke tempat yang salah. S-seharusnya kau membalas dendam itu pada tuan besar, b-bukan padaku!" ujarnya dengan memberanikan diri.


"Cih! Sudah kuduga, memang ada dalang di balik lima keluarga besar. Tapi kaulah yang sudah menjadi salah satu anjing pesuruhnya, Gong Cai. Kau bahkan sudi membunuh orang-orang tidak bersalah hanya demi orang itu."


"S-sialan. Penga~" Belum sempat Gong Cai berteriak memanggil para pengawalnya, Gu Lang sudah lebih dulu melesat ke arahnya.


Dia mencekik leher Gong Cai, membuat wajahnya pias dan semakin ketakutan. Wanita yang berada di sampingnya pun, berusaha menutup rapat mulutnya dengan bekapan kedua telapak tangannya sendiri.


Saat Gong Cai sudah hampir kehabisan nafasnya, Gu Lang pun melepaskan cengkeraman tangannya di leher Gong Cai dan berkata, "Semua pengawalmu tidak akan datang, karena aku sudah melumpuhkan mereka semua. Sekarang katakan padaku, siapa tuan besar itu dan dimana ayahku berada!"


"D-dia orang dari sekte Racun hitam. Tapi aku tidak siapa, yang jelas d-dia sangat kuat dan kami semua tidak bisa melawan perintahnya."


"Terimakasih atas informasinya." Gu Lang mencengkram kepala Gong Cai dan menghabisinya dengan api iblis, membuat wanita di sampingnya berteriak histeris dan tentu saja Gu Lang sengaja membiarkannya.


Teriakan itu membuat para dayang di kediaman Gong Cai panik dan datang beramai-ramai. Dan mereka semua ketakutan saat melihat tubuh Gong Cai hampir habis terbakar. Mereka semua berlutut dengan mulut terbuka dan tubuh bergetar saking takutnya.


"Aku tidak akan menyakiti kalian. Panggil para tetua kemari, bilang saja Gong Cai yang menyuruh mereka untuk datang menghadap."


"B-baik tuan."


Akhirnya semua dayang itu pun berlarian menuju kediaman para tetua dan melaksanakan perintah Gu Lang, demi nyawa mereka. Lagipula selama ini mereka selalu diperlakukan dengan buruk oleh para majikan mereka di keluarga itu, sehingga mereka tidak akan segan melakukannya.


Begitulah sifat asli manusia. Mereka akan lebih memikirkan kepentingan diri sandiri di atas kepentingan orang lain, mementingkan nyawa sendiri di atas nyawa orang lain. Bahkan manusia tega berjalan di atas darah dan daging para saudaranya hanya agar mereka bisa terus naik ke puncak tertinggi, menjadi tidak tertandingi.

__ADS_1


__ADS_2