
"Kalian semua harus mati!"
Gu Lang melesat cepat menuju rumah besar keluarga Xi. Dengan jarak rumah keluarga Gong dan Xi yang cukup jauh, Gu Lang harus memakan waktu beberapa puluh menit hanya untuk sampai di kediaman ahli senjata perang itu.
Sesampainya di sana, Gu Lang sudah di suguhkan dengan pemandangan yang membuatnya berdecak kesal.
"Sial! Ternyata informasinya menyebar begitu cepat. Tapi tak apa, jika aku tak bisa menghancurkan pertahanan kalian maka panggil namaku secara terbalik!"
Gu Lang pun memilih untuk masuk ke menara langit dan mencari cara untuk bisa menembus benteng pertahanan keluarga Xi, yang sudah setara dengan benteng perang itu.
Bagaimana tidak disebut setara dengan benteng perang jika ada lebih dari lima puluh penjaga di atas menara pengintai, dan banyak sekali pelontar panah serta pelontar batu di atas sana. Dan jangan lupakan adanya ranjau di setiap sisi tembok, sehingga Gu Lang sudah pasti tak dapat melompat naik ke atas tembok itu.
"Selamat datang kembali, tuan."
"Luo Luo, ada yang ingin kutanyakan padamu."
"Tentang cara menghancurkan tembok pertahanan itu?" tanya Luo Luo yang memang mengetahui kesulitan yang sedang Gu Lang hadapi.
Awalnya Gu Lang cukup terkejut karena Luo Luo sudah mengetahui hal apa yang ingin dia tanyakan, tapi setelah mengingat berbagai hal mengejutkan yang pernah dia dapat dari Luo Luo, kini dia tak lagi bingung kenapa Luo Luo bisa mengetahui segalanya.
"Ya, aku ingin masuk ke dalam rumah keluarga Xi. Tapi tembok pertahanan mereka tidak memungkinkanku untuk melompat dan menyelinap masuk, jadi cara satu-satunya hanyalah menghancurkan tembok itu."
"Tidak. Masih ada cara lain, Tuan."
__ADS_1
Gu Lang mengerutkan dahinya, "Cara apa?"
"Mengelabuhi musuh dengan merubah wujud anda, Tuan. Di dalam ruangan buku jurus ada jurus pengubah wujud. Jurus itu akan meningkat sesuai dengan level penggunanya. Namun di perlukan bakat berakting untuk menggunakan jurus itu."
Semakin terkejutlah Gu Lang mendengarnya. Bagaimana bisa ada jurus yang memerlukan bakat berakting hanya untuk bisa menggunakannya? Padahal jelas-jelas bermain peran tentu saja tidak terlalu populer di dunia kultivasi.
"Tidak perlu heran, Tuan. Jurus itu buatan tuan tua sendiri."
Gu Lang pun menganggukkan kepalanya paham. Karena sepertinya memang tidak mungkin ada jurus aneh semacam itu di era saat ini, tapi setelah mendengar jika jurus itu adalah ciptaan tuan tua sendiri dia jadi mengerti asal usul Luo Luo mengetahui kata akting itu.
Luo Luo pun mengantarkan Gu Lang menuju ruangan buku jurus. Dia menscan setiap rak buku, dan mencari buku jurus yang dia katakan itu dengan persepsi jiwanya. Karena jika harus mencarinya secara manual, maka pastinya akam sangat lama.
Hingga akhirnya Luo Luo pun menemukannya, dia mengambil buku itu dan menyerahkannya pada Gu Lang.
Buku berjudul 1000 wajah itu, kini sudah berada di tangan Gu Lang. Di halaman depan terdapat tulisan tangan tuan tua yang berisi pesan pengingat, "Kalau kau ingin bisa menggunakan jurus ini, maka kau harus pandai berakting. Kau bisa berakting dan membuat dirimu seolah-olah adalah orang yang kau inginkan."
Gu Lang pun mulai membaca buku itu. Dia mempraktikkan langkah demi langkah agar dia bisa menggunakan jurus itu, bagaimana caranya agar musuh bisa terkelabuhi oleh jurusnya dan bagaimana cara untuk meningkatkan jurus itu sendiri.
Dia pun mulai berlatih dengan sungguh-sungguh untuk menguasai jurus itu, karena kali ini dia bertekad akan meratakan kediaman Xi. Gu Lang yakin jika hancurnya keluarga Gu, sangat dipengaruhi oleh keluarga Xi, yaitu dengan berbagai alat perang mereka yang gila itu. Dan melihat mereka yang juga sudah bersiap menyambutnya, pasti mereka sudah mengungsikan para wanita dan anak-anak, dan pastinya hanya mereka yang tau tentang kehancuran keluarga Gu yang tetap berada di sana.
Maka dia tak akan segan-segan meratakan kediaman keluarga Xi, dengan tanah.
Jika keluarga Meng meminta beberapa toko milik keluarga Gu sebagai hasil jarahan mereka, maka keluarga Xi pastinya meminta segala sesuatu yang berhubungan dengan senjata. Entah itu bahan mentah atau senjata jadi, yang jelas mereka pasti meminta itu sebagai hasil jarahan.
__ADS_1
Sedangkan keluarga Gong sudah pasti mengambil semua uang dan kekayaan milik keluarga Gu, dan sisanya yaitu segala sesuatu yabg berhubungan dengan pelatihan tentu saja menjadi milik keluarga Yin. Keluarga penggila kultivasi, yang Gu Lang tidak tau hanyalah apa yang keluarga Tang dapatkan. Karena keluarga Tang memang tak mungkin kekurangan sesuatu, jadi dia tak bisa memperkirakannya.
Setelah seharian penuh berlatih, Gu Lang akhirnya menguasai jurus itu. Namun pelatihan itu sangat menguras tenaganya, dan kini dia merasa sangat lemas, "Seharusnya tadi langsung aku hancurkan saja tembok besar itu dengan tinjuku, dan menyerang secara gila-gilaan."
Namun tiba-tiba saja Luo Luo menyahuti gumamannya, "Kalau tuan memang ingin mati, maka cara itu boleh dicoba." Gu Lang mengernyitkan dahinya bingung, "Tuan tidak tau? Tmbok itu bisa menyerap aura spiritual. Tembok itu dirancang khusus untuk perang, dan karena itulah hanya senjata fisik yang bisa di gunakan. Sedangkan kekuatan aura tak akan berpengaruh pada tembok itu, kecuali jika tuan sudah mencapai level kaisar."
Gu Lang terkejut mendengar penjelasan Luo Luo. Dia sangat bersyukur karena tadi dirinya tidak gegabah, meskipun tadinya tujuannya masuk ke menara langit memang untuk menanyakan cara menghancurkan tembok itu.
Dan semua itu kembali mengingatkan Gu Lang pada Bingyan di kehidupan lalu, "Di saat kekuatan tak dapat di andalkan, maka itulah saat yang tepat bagi otak untuk digunakan."
Kini Gu Lang harus memikirkan, wajah siapa yang akan dia pakai agar dia bisa masuk ke dalam kediaman keluarga Xi dengan aman.
Dia tak mungkin menggunakan wajah para tetua keluarga Xi, terlebih wajah kepala keluarga Xi karena mereka semua pasti akan berada di dalam kediaman di saat seperti ini.
"Lebih baik aku lihat kondisinya dulu." Gu Lang pun menghampiri Luo Luo dan mengatakan jika dia akan pergi, "Luo Luo, aku keluar dulu. Tolong selamatkan aku jika aku gagal kali ini, bawa masuk tubuhku ke menara langit."
"Baik, Tuan."
Gu Lang pun keluar dari menara langit dan kembali dunia nyata. Dia mengintip dari balik Pohon besar yang letaknya tak jauh dari tembok kediaman Xi. Namun kegelapan malam, membuatnya yang mengenakan jubah hitam dapat dengan mudah bersembunyi dari pantauan para penjaga di atas menara itu.
Netra Gu Lang pun menangkap salah seorang penjaga gerbang keluar dari sana, sepertinya dia ingin buang air besar karena dia mengarah padanya atau lebih tepatnya menuju ke pohon tempat Gu Lang bersembunyi saat ini.
Gu Lang menampilkan seringai devilnya, "Pucuk di cinta batang pun tiba!"
__ADS_1