Penguasa Menara Langit

Penguasa Menara Langit
Episode 47


__ADS_3

Gu Lang menampilkan seringai devilnya, "Pucuk di cinta batang pun tiba!"


Penjaga itu pun berjalan semakin dekat ke arah Gu Lang dengan sedikit terburu-buru, mungkin saja karena di sudah tidak dapat lagi menahan panggilan alamnya.


"Haish... gara-gara pria topeng emas itu, semuanya jadi harus sibuk begini. Sungguh melelahkan!" gerutunya sesaat setelah dia sampai di pohon yang dia tuju, tempat Gu Lang tengah bersembunyi saat ini.


Baru saja pria itu akan membuka celanannya, Gu Lang pun langsung memukul tengkuk pria itu dan membuatnya pingsan tanpa suara atau menimbulkan kecurigaan.


"Dasar sialan! Bagaimana bisa kau membicarakan seseorang di hadapan orangnya langsung? Dasar otak udang!" gumam Gu Lang lirih namun dengan intonasinya yang begitu menekan karena menahan kekesalannya.


Gu Lang segera menukar pakaiannya dengan pakaian milik pengawal itu, dan mulai menggunakan jurus seribu wajah untuk bisa masuk ke dalam benteng pertahanan keluarga Xi itu.


Beruntung tadi Gu Lang sempat mendengar pria itu berbicara, jadi setidaknya dia tau bagaimana cara bicara penjaga itu sehingga dia bisa lebih menjiwai aktingnya dan membuat penyamarannya semakin sempurna tentu saja.


Dalam waktu singkat kini Gu Lang sudah berubah menjadi penjaga itu, dan tak lupa pula Gu Lang mengikat penjaga yang kini tak memakai sehelai benangpun itu ke pohon yang tadi dia pakai bersembunyi, dengan akar tanaman rambat yang kebetulan banyak tumbuh di sekeliling pohon besat itu.


"Aku pinjam dulu bajumu, nanti akan aku kembalikan." Gumam Gu Lang sambil merapihkan pakaiannya, "Kalau ingat."


Tanpa banyak kata lagi, Gu Lang pu berjalan menuju ke arah gerbang dengan perlahan karena dia juga harus menirukan gaya jalan penjaga yang tadi, agar penyamarannya tidak ketahuan.


Sesampainya di depan pintu gerbang utama kediaman keluarga Xi, penjaga yang bertugas membuka dan menutup pintu gerbang pun segera

__ADS_1


membukakan pintu untuknya.


"Kenapa kau lama sekali? Apa kau kencing batu?!" tanya teman si penjaga pada Gu Lang, yang dia kira adalah temannya.


"Ooh itu, tadi aku hanya sekalian melakukan ritual wajib." Gu Lang yang tak menemukan alasan lain pun, memilih menggunakan alasan semacam itu karena mereka pasti akan percaya.


"Dasar otak mesum!" seru temannya itu pada Gu Lang, "Tapi kalau di pikir-pikir... kita memang sudah lama tidak bersenang-senang dengan wanita kan?" ujarnya sambil tertawa.


Gu Lang tidak terlalu menganggap penting ocehan tidak berguna orang-orang itu, karena dia masih memikirkan cara untuk bisa masuk ke dalam kediaman.


Dan betapa beruntungnya Gu Lang, seolah dewa saja mendukung aksi balas dendamnya. Seseorang datang dengan tergesa-gesa ke arah dirinya dan beberapa orang temannya itu, untuk menyampaikan pesan dari tetua pertama.


"Hey kalian berlima!" serunya dari kejauhan, memanggil Gu Lang dan keempat pria lainnya yang kini sedang bergerombol. "Kemarilah."


"Ada apa, tuan Ming?" tanya salah seorang dari mereka.


"Tetua pertama meminta kalian untuk masuk ke dalam. Beliau memilki tugas penting untuk kalian, para elite."


Gu Lang sedikit terkejut saat pria itu menyebut dia dan kelima pria lainnya dengan sebutan para elite, karena dia merasa kalau kamampuan pria yang tadi di buatnya pingsan itu biasa-biasa saja.


Meskipun bisa saja kalau itu hanya menurut Gu Lang, karena bagaimanapun kekuatan Gu Lang sudah berada di tingkat Raja. Dan mereka yabg kekuatannya berada di bawah tingkat Raja tak akan bisa mendeteksi tingkat kekuatannya, dan juga menyadari kedatangannya. Karena itulah pria tadi sama sekali tidak menyadari keberadaan Gu Lang, sehingga dia dapat dilumpuhkan dengan mudah.

__ADS_1


Dan karena itulah kini Gu Lang juga harus menekan tingkat kekuatannya, hingga setara dengan tingkat kekuatan penjaga yang asli.


"Ternyata kualitas kultivator di keluarga Xi sangat buruk. Bahkan orang-orang selemah mereka saja sudah di anggap sebagai elite? Haish... jika bukan karena tembok sialan itu, aku harusnya tidak perlu bersusah payah mempelajari jurus seribu wajah!" batin Gu Lang yang sedikit merasa kesal.


Namun di samping itu, Gu Lang juga mengetahui jika keluarga Xi tak mungkin hanya mengandalkan sebuah tembok dengan ber agai senjata dan puluhan penjaga di atasnya. Ada juga beberapa senjata dan mekanisme tersembunyi di kediaman besar itu, sehingga Gu Lang harus sangat berhati-hati jika dia tak ingin mati.


Setelah berjalan melewati beberapa ruangan, mereka pun kini sampai di sebuah lorong yang cukup panjang, dan di ujung lorong itu adalah tempat para tetua berkumpul bersama kepala keluarga untuk berdiskusi.


"Tetaplah berpijak di lantai yang kupijak jika tak ingin mati."


Mereka berempat yang mendengar hal itu langsung mengangguk paham, namun tidak dengan Gu Lang yang hanya bisa mengernyitkan dahinya bingung. Tapi segera dia memiliki tebakan, jika di lantai yang kini berada di depan mereka memiliki mekanisme senjata tersembunyi sehingga mereka harus berhati-hati saat melewatinya agar tak mengaktifkan jebakan itu.


Tidak lucu bukan kalau ada kejadian senjata makan tuan? Bukankah akan sangat memalukan dan juga konyol, jika mereka mati karena jebakan yang mereka buat sendiri.


Gu Lang pun mengikuti setiap langkah demi langkah, sambil mencoba memahami mekanisme itu hingga dia menemukan jika mekanisme jebakan itu memiliki sebuah pola dan pola itu mengarah pada satu kata, yaitu array.


Benar, ada Array pengendali yang mengendalikan semua mekanisme jebakan tersembunyi itu. Jadi jika array itu dihancurkan, maka semua jebakan tersembunyi yang ada di kediaman itu akan tidak berfungsi sebagaimana mestinya.


Dan setiap array itu sepertinya terhubung dan mengarah pada satu array besar, yang Gu Lang yakini adalah pusat dari semua array pengendali yang ada.


Jadi intinya, pastilah ada setidaknya seorang ahli array di dalam kediaman itu. Yang harus Gu Lang lakukan saat ini adalah menemukan di ahli array, untuk memaksanya menonaktifkan array itu agar dia bisa bergerak bebas dan menghabisi satu persatu tetua keluarga Xi.

__ADS_1


Pintu besar dan tinggi menjulang itu seolah menggambarkan keagungan tiada batas. Patung kepala naga di sisi kanan dan kiri pintu besar itu, seolah memperlihatkan seberapa kuat keluarga Xi.


Namun bagi Gu Lang, semua itu tak ada artinya sama sekali. Karena sebentar lagi, semua ini akan hancur dan musnah, "Cih! Sebentar lagi semua lambang kesombongan dan keangkuhan kalian ini akan hancur dan hilang, bersama denvan nyawa kalian!"


__ADS_2