
Sesampainya di lantai empat, Gu Lang langsung menuju ke tengah-tengah altar untuk menjalani ujian ke empat.
Gu Lang terkejut saat lantai altar itu menghilang, hanya menyisakan satu tempat untuknya berpijak dan satu tempat di tengah-tengah altar yang sepertinya adalah hadiah, jika ia lolos dari ujian ini.
Dia bingung dengan apa yang harus ia lakukan, apa dia harus melompat sampai ke tengah sana?
Tapi itu Sepertinya tidak mungkin, jaraknya begitu jauh untuk di lewati meskipun jika dia menggunakan langkah awan sekalipun.
Hingga sebuah suara kembali terdengar.
"Keberuntungan juga merupakan kekuatan. Perjalanan seorang kultivator mencapai puncak, tak luput dari keberuntungan. Cobalah keberuntunganmu."
Seketika itu juga, ditangan Gu Lang muncul sebuah dadu seukuran kepalanya, "Jadi nasib dan hidup matiku akan ditentukan oleh dadu ini?"
Tak mau ambil pusing, Gu Lang pun melemparkan dadu itu dan menunggu angka yang keluar.
Dadu berhenti dan menampilkan angka tiga, seketika itu muncul tiga petak lantai di depan Gu Lang.
Dia pun melangkah maju selangkah demi selangkah, dan saat tiba di petak ke tiga ada sinar berwarna biru yang memancar dari lantai itu, membuatnya sedikit terkejut.
Dan seketika itu, sebuah jubah muncul di hadapannya, yang sepertinya itu adalah sebuah jubah pelindung.
"Cukup bagus, ini keberuntungan pertamaku." Ujar Gu Lang, "Ayo lanjutkan permainannya." Gu Lang kembali melemparkan dadu itu dan menunjukkan angka satu.
Gu Lang maju satu langkah dan kini bukan lagi sinar biru melainkan sinar keemasan. Sebuah cincin jatuh di hadapannya.
"Cincin ruang?" Gu Lang mengambil cincin itu dan memakainya.
Setidaknya dia bisa menyimpan semua barang-barangnya ke dalam cincin itu. Setelah menyimpan semua barang-barangnya ke dalm cincin ruang itu, Gu Lang kembali menggulirkan dadu itu dan menunjukkan angka enam.
Kini bukan lagi sinar biru atau keemasan, melainkan sinar gelap berwarna abu-abu hingga kobaran api muncul dan mulai membakar tubuhnya.
Api itu tidaklah berwarna merah seperti api pada umumnya, melainkan berwarna hitam pekat dan terasa lebih mengerikan.
"Aaarrrghh!"
__ADS_1
Gu Lang menjerit kesakitan, saat merasakan kulitnya mengelupas dan dagingnya seolah terpanggang hangus. Tapi kenyataannya tubuhnya masih baik-baik saja.
Selama beberapa menit dia mengalami penyiksaan gila itu, hingga saat api itu menghilang dan tubuh Gu Lang jatuh terduduk dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Sepertinya mantra penempa jiwa itu berguna lagi, dan tubuhku rasanya semakin kuat." Gumam Gu Lang, "Ketidakberuntungan yang menjadi sebuah keberuntungan, benar-benar tidak terduga." Gu Lang tersenyum.
Sekarang dia mengerti kenapa banyak kultivator yang mati di menara ini, seperti apa yang tertulis di dalam gulungan yang Gu Lang temukan.
Jika mereka bukan orang yang berasal dari tempat yang sama dengan pemilik asli gulungan itu, maka mereka tak akan mendapatkan mantra penempa jiwa raga yang bisa melindungi mereka dari banyak ujian di menara sembilan tingkat itu.
"Tubuh Wajra dan Jiwa Dewa, benar-benar mantra penempa jiwa raga yang sangat hebat." Gu Lang kembali mengambil dadunya, dan melemparkan benda itu.
Hingga dadu berhenti berputar dan menampakkan angka dua. Setelahnya, dua petak lantai muncul dan Gu Lang pun melangkah maju dengan hati yang was-was.
Mungkin sejauh ini, dia masih terus beruntung, tapi bukankah ada saatnya juga dimana seseorang akan mengalami ketidakberuntungan?
Lalu bagaimana jika hal itu terjadi padanya setelah ini, apa dia akan mati seperti kultivator yang sudah pernah masuk ke menara ini.
Kali ini sinar berwarna putih muncul, melihat warna sinar yang terang Gu Lang bisa bernafas lega.
Tak berapa lama setelah sinar itu muncul, terdengar suara yang menggema di seluruh ruangan.
"Air mengalir mengikuti arusnya. Udara berhembus sesuai iramanya. Mahkluk bergerak mengikuti kata hatinya. Tapi mereka tidak sadar jika apa yang mereka lakukan sudah digariskan."
Gu Lang termenung mendengar kata-kata itu. Apa maksudnya kata-kata itu, apakah dia diminta untuk mencari arti dari kata-kata itu.
Tapi apa maksudnya, Gu Lang berpikir keras dan mencoba menemukan jawabannya.
"Air mengalir mengikuti arusnya. Udara berhembus sesuai iramanya. Mahkluk bergerak mengikuti kata hatinya. Tapi mereka tidak sadar jika apa yang mereka lakukan sudah digariskan."
Gu Lang kembali mengingat kata-kata itu untuk menemukan jawaban yang tepat, hingga dia sepertinya menemukan jawaban yang dia yakini benar.
"Takdir!" Gu Lang menjawab dengan penuh percaya diri.
"Kenapa takdir?" Terdengar suara itu kembali bertanya.
__ADS_1
"Takdir itu tidak terlihat, takdir tak bisa di sentuh. Kita melakukan apapun yang kita inginkan, tapi sebenarnya semua itu sudah digariskan oleh garis takdir."
Tiba-tiba saja jalan di depan Gu Lang terus bermunculan hingga sampai ke tengah-tengah altar itu.
Gu Lang sedikit terkejut melihatnya, apa mungkin hadiah dari pertanyaan barusan adalah langsung mencapai titik akhir.
Dengan kata lain dia lolos melalui jalur ekspress, karena tadinya jalan Gu Lang masih sisa setengah lagi.
Dia baru setengah jalan, tapi kini dia mendapatkan keberuntungan yang sebesar itu.
"Sepertinya bisa dibilang ini jackpot kan?"
Gu Lang yang kemudian segera melangkah menuju tengah-tengah altar, dimana terdapat sebuah tatakan batu dengan kepala naga dan sesuatu yang berada diatasnya.
Ujian ke empat pun sudah Gu Lang lewati, masih sisa lima ujian lagi dan dia bisa menyelamatkan Xiao San seperti tujuan awalnya.
Dan semua benda yang dia dapat dari menara ini, baginya hanyalah sebuah bonus.
Saat ini Gu Lang sudah berdiri tepat di depan tatakan batu berkepala naga itu, dan melihat sesuatu di atasnya.
Benda itu adalah, sebuah plakat yang terbuat giok. Giok dengan ukiran naga dan bertuliskan menara langit, yang entah apa maksudnya.
"Sebuah plakat? Tapi apa kegunaan plakat ini? Menara langit, apa itu nama asli dari menara sembilan tingkat ini?"
Gu Lang yang tak ingin membuang waktu pun segera memasukkan giok itu ke dalam cincin ruang miliknya, mengabaikan pertanyaan demi pertanyaan yang masih menghantui pikirannya.
Dia segera melangkah menuju tangga untuk sampai ke lantai lima, dimana dia akan menerima ujian ke-limanya.
Sesampainya di tengah altar itu, tubuh Gu Lang tiba-tiba limbung dan terjatuh tidak sadarkan diri.
*
*
Gu Lang mengerjap-ngerjapkan matanya perlahan. Tubuhnya kini terbaring di atas sebuah ranjang besar, namun ada sesuatu yang membuatnya begitu terkejut.
__ADS_1
Dia melihat sekelilingnya, banyak sekali wanita-wanita cantik dengan pakaian yang begitu terbuka dan pastinya mengundang hawa nafsu para pria yang melihatnya.