
"Bagaimana kau bisa mengeluarkan aura iblis dari tubuhmu? Apa kau seorang titisan iblis?" seru Bing Quan pada Gu Lang untuk mengetahui jawaban dari pertanyaan yang sejak tadi sudah membuatnya penasaran.
"Titisan iblis? Benda aneh macam apa lagi itu, aku bahkan tidak tau benda tak berguna macam apa yang sedang kau bicarakan. Tapi lebih baik kalian semua pergi, menjauhlah dariku sebelum kesabaranku habis dan aku benar-benar akan melenyapkan kalian semua!" seru Gu Lang mencoba mengusir semua orang yang ada di sana, karena dia masih sedikit khawatir jika saja iblis hati itu kembali menguasai dirinya karena tersulut emosi.
Tentu saja semua orang kembali dikejutkan dengan apa yang Gu Lang katakan. Padahal baru beberapa detik yang lalu, Gu Lang mengatakan akan membantai mereka tanpa sisa, tapi kini dia justru melepaskan mereka begitu saja. Apa mereka sedang dipermainkan olehnya? Begitulah yang mereka pikirkan.
"Tunggu apa lagi? Apa kalian sudah tidak sayang nyawa, atau mungkin kalian sudah bosan hidup?" Kini suara Gu Lang terdengar lebih pelan dan dalam namun justru hal itu semakin membuat kesan mengerikan yang mendalam.
Semua orang pun terdiam dan tak berani bersuara, hingga Bong Quan membuka suara dan memberi mereka pilihan, "Bagi yang masih ingin hidup meski tanpa harga diri, maka silahkan pergi. Tapi bagi kalian yang lebih memilih untuk mati demi mempertahankan harga diri, mari kita bersatu dan kalahkan dia bersama." Bong Quan terus berucap sembari menatap tajam Gu Lang. Bohong jika dia bilang bahwa dia tidak takut, tapi dia adalah orang yang selalu menjunjung tinggi harga dirinya. "Kita harus yakin kalau kita akan mam~" Bong Quan tak melanjutkan kata-katanya saat dia menoleh ke belakang dan hanya melihat tanah kosong, alias sudah tidak ada lagi seorang pun di sana, kecuali dirinya dan Gu Lang.
Gu Lang menghela nafas jengah melihat Bong Quan, tapi tak bisa dia pungkiri jika sikap teguh pendirian Bong Quan itu membuatnya salut. Dia bahkan berusaha keras menahan ketakutannya. Hal itu sudah bisa terlihat jelas dari kakinya yang terus saja bergerak dengan gelisah.
"Aku tau kau bukan benar-benar anggota keluarga Xi, bukan? Kalau kau ingin tau siapa dirimu sebenarnya, maka ikutlah denganku dan aku memberitahumu jati dirimu yang sebenarnya."
Bong Quan terkejut mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Gu Lang, yang bahkan dia yakini kalau mereka tak pernah sedekat itu hingga dia bisa dengan mudahnya tau segala hal tentang dirinya. Terlebih soal identitasnya, yang bukan anggota keluarga Xi. Dia berada di sana karena dulu dia diselamatkan oleh kepala keluarga dan kemudian di bawa pulang oleh kepala keluarga, setelah dia mengetahui kemampuan spesial Bong Quan.
__ADS_1
"K-kau tau darimana tentang asal usulku? Tidak banyak orang tau tentang hal itu, bahkan para bawahanku sekalipun tidak ada yang tau."
Gu Lang tersenyum smirk ke arah Bong Quan dan berjalan perlahan kearahnya, dengan tangan yang masih menggenggam kepala tetua pertama. Dia berjongkok di depan Pang, kemudian meletakkan kepala tetua pertama di tanah dan berkata, "Makanlah. Aku membawakan makan malam extra untukmu, nikmatilah." Meskipun Gu Lang sudah berhasil meredam amarahnya, tapi dia masih ingat dengan sumpahnya yang berjanji akan membuat tetua pertama merasakan hal apa yang awalnya ingin dia lakukan padanya. Yaitu memotong tubuhnya menjadi bagian kecil dan memberikannya pada anjing untuk menjadi makanan mereka, dan kini Gu Lang melakukannya karena baginya, menjilat ludah sendiri adalah sebuah pantangan.
Bong Quan tentu saja sangat terkejut akan perintah yang Gu Lang ucapkan pada Pang, Carberus miliknya yang selama ini tak pernah sekalipun dia memberikan Carberus miliknya daging manusia sebagai santapan. Biasanya Pang akan memakan monster buruan yang mereka berdua dapatkan.
Hingga akhirnya dia pun mencegah Gu Lang melakukannya dengan berkata, "Pang tidak makan daging manusi~" Namun sayangnya, beluk juga sempat dia menyelesaikan ucapannya, Pang sudah mulai mengoyak kepala tetua pertama dengan taring-taring tajamnya.
Dan hal itu menjadi sebuah pemandangan yang mengerikan sekaligus mengejutkan bagi Bong Quan.
Bong Quan paham dengan apa yang Gu Lang maksudkan. Dia mencoba mengatakan jika dia tak akan melakukan hal keji itu, jika saja bukan mereka yang memulainya lebih dulu.
Dan setelah dia berpikir keras, Bong Quan juga akhirnya sadar jika para tetua keluarga Xi dan juga kepala keluarga Xi memang layak untuk mati. Mereka serakah, dan inilah karma langsung bagi mereka yang mencelakai orang-orang tak bersalah, hanya demi melindungi diri sendiri dan keuntungan mereka sendiri. Jadi wajar jika Gu Lang menggila dan menghancurkan mereka, dengan cara yang sama.
"Segera putuskan. Kau mau ikut pergi denganku atau tetap di sini?" Tanpa menunggu jawaban dari Bong Quan, Gu Lang pun segera melangkahkan kakinya melewati Bong Quan yang masih mematung terkejut.
__ADS_1
Bong Quan terlihat gelisah. Di satu sisi dia ingin bertemu dengan keluarganya, tapi di sisi lain dia bahkan beluk bisa mempercayai Gu Lang sepenuhnya.
Hingga akhirnya, Bong Quan pun membulatkan tekad dan berkata dengan lantang, "Aku ikut!" Lantas dia pun segera menyusul Gu Lang yang sudah berjalan lebih dulu di depannya, sambil tersenyum diam-diam.
"Terimakasih untuk informasi berguna ini, Luo Luo," batin Gu Lang.
Tadi Luo Luo memang mengirimkan transmisi suara pada Gu Lang dan mengatakan jika dia akan membutuhkan Bong Quan, dalam perjalanannya menuju ke tempat orang misterius itu. Dan sebagai imbalan bagi Bong Quan yang nantinya akan membantu dia di perjalanan, Luo Luo juga memberikan informasi tentang keluarga kandung Bong Quan.
Sesampainya di depan benteng, Bong Quan menghela nafas panjang saat dia tak lagi mendapati seorang pun berada di sana. Tampat itu benar-benar sepi.
"Tunggu sebentar, aku ada sedikit urusan penting." Gu Lang pun berjalan menuju pohon, tempat dia mengikat elite yang dia ikat terbalik di pohon besar itu.
Sesampainya di sana, dia pun segera menukar kembali pakaian bernoda darah itu dengan miliknya yang masih bersih. Gu Lang mengabaikan jeritan tertahan elite itu, karena mulutnya di sumpal kain oleh Gu Lang agar teriakannya tidak terdengar.
Dia menyeringai menatap pria yang masih berusaha melepaskan diri itu dan berkata, "Oh iya, aku hampir lupa mengantarmu pada raja yama dan menyusul semua teman."
__ADS_1