
"Bukankah aku hanya membantu kepala keluarga kalian mencari solusi terbaik dan paling cepat? Dia ingin semuanya cepat selesai, jadi bukankah usulku cukup baik? Atau apakah kalian takut?"
Gu Lang tersenyum miring dibalik topengnya, dan menunggu para ikan besar itu memakan umpannya, membuat pekerjaannya menjadi lebih cepat dan mudah, tentu saja.
Dan tak perlu menunggu lama, para tetua yang pastinya merasa direndahkan itu langsung naik ke atas panggung dengan tatapan tajam yang tak pernah lepas dari sosok Gu Lang yang berdiri tegak di atas arena tanpa ada sedikit pun rasa takut dan gentar yang terlihat.
"Dasar katak dalam tempurung! Kau merasa hebat hanya karena memiliki secuil kekuatan, hah!? Beraninya bocah bau kencur sepertimu menantang kami semua!" seru tetua pertama.
"Jangan salahkan kami yang tidak berperasaan, karena kau sendirilah yang cari mati!" sahut tetua ketiga.
Tetua keempat yang juga tak kalah murka pun ikut menimpali perkataan tetua pertama dan tetua ketiga, "Jangan bilang kami yang menindasmu, keparat!"
"Haish... dasar kalian pak tua bodoh. Kalian tidak tau saja siapa yang sedang kalian hadapi, dia memang sengaja membuat kalian maju bersama agar tak ada satupun dari kalian yang bisa kabur." Batin Bong Quan yang hanya bisa menatap para tetua bodoh yang sangat mudah terpancing emosi, tanpa memikirkan apa yang tujuan Gu Lang melakukannya.
Padahal jika dipikir-pikir, tak mungkin jika Gu Lang berani menantang para tetua itu bersamaan jika saja dia tak yakin bisa menang bukan?
"Mari kita lihat, kejutan apa yang akan kau berikan, anak muda." Batin sang kepala keluarga sambil menatap Gu Lang yang tampak sangat percaya diri, seolah para tetua yang sudah berdiri dihadapannya sama sekali bukan ancaman baginya.
"Sekarang aku mengerti, kenapa keluarga Yin tak pernah bisa mengalahkan keluarga Gu meski mereka dikenal sebagai penggila kultivasi." Pikir Gu Lang yang kini mengerti alasannya, yaitu mereka tak bisa mengendalikan emosi dan membuat emosi mereka menguasai akal sehat sehingga basis kultivasi mereka selalu tertahan saat akan memasuki level Raja.
Hanya sang kepala keluarga Yin lah yang mampu menerobos tingkatan itu, meski pada akhirnya dia juga kesulitan untuk meningkatkan lagi basis kultivasinya setelah itu.
__ADS_1
"Baiklah... mari kita mulai permainanya, pak tua." ujar Gu Lang sembari mencabut pedang iblis patah miliknya, yang langsung menjadi bahan tertawaan para manusia berpandangan sempit itu.
"Ha ha ha... kau mau melawan kami sekaligus, hanya dengan pedang rusak itu?" tanya tetua kedua yang sontak saja membuat tetua lainnya ikut tertawa, setelah memperhatikan jika pedang di tangan Gu Lang memanglah sebuah pedang usang yang cacat, alias rusak.
Gu Lang tak menanggapi kalimat jumawa itu dengan kata-kata, dan lebih memilih untuk menjawabnya dengan bukti yang nyata. Membuktikan apakah pedang yang mereka katakan sebagai pedang rusak itu, masih mampu membawa mereka bertemu dengan raja Yama atau tidak.
Menggunakan jurus Langkah Awan, Gu Lang melesat menuju tetua kedua dan memenggal kepala pak tua bodoh itu, hanya dengan satu tebasan.
Darah menyembur keluar dari tubuh tetua kedua, dan mengotori baju para tetua lainnya yang tentu saja hanya bisa termangu melihat tubuh tanpa kepala itu tumbang di atas arena.
"A-apa itu tadi? Aku bahkan tidak bisa melihat gerakannya."
Berbeda dengan para penonton dan tetua lain yang terkejut melihat aksi Gu Lang, sang kepala keluarga justru terlihat biasa saja, seolah dia sudah mengetahui jika Gu Lang bahkan bisa melakukan yang lebih gila lagi daripada itu.
Dan ternyata dugaannya tidaklah salah. Karena tanpa menunggu Lama, Gu Lang yang sudah kembali ke tempat awal pun segera melanjutkan serangannya untuk membinasakan para tetua bodoh dan sombong itu.
Gu Lang mengangkat pedangnya, mengacungkan ujung pedang itu keatas langit dan berseru, "Jurus Amukan Pedang!" Awan cerah yang tadi masih menaungi langit kediaman keluarga Yin, kini dalam sekejap berubah menjadi awan hitam pekat yang terlihat begitu mengerikan.
Kilatan petir yang mulai menyambar dan mulai berkumpul membentuk ribuan aura pedang kecil di atas langit sana, seolah siap melenyapkan segala sesuatu yang ada diatas tanah itu.
Ribuan pedang di atas langit itu diselimuti dengan aura hitam yang seolah menggambarkan kematian, yang siap menjemput semua orang yang berada di atas arena.
__ADS_1
Semua orang termasuk para tetua begitu terkejut melihatnya, namun mereka tak punya waktu untuk mengagumi kekuatan Gu Lang, karena saat ini nyawa mereka sedang terancam.
"Cepat gabungkan kekuatan kita! Kita buat formasi benteng suci!" seru tetua pertama.
"Tapi tetua kedua tidak ada, formasinya tidak akan sempurna." Ujar tetua ketiga sambil mengikuti instruksi tetua pertama.
"Setidaknya kita bisa menahan serangan itu, atau kita akan mati!" balasnya lagi dengan murka, karena itu satu-satunya cara yang dapat mereka lakukan.
Jika saja di sekeliling tubuh Gu Lang tak ada pedang yang menjaganya seperti benteng kokoh, mereka bisa saja menyerang Gu Lang untuk menggagalkan jurus itu.
Tapi sayangnya, ada puluhan bahkan ratusan pedang yang membentuk formasi pelindung di sekeliling Gu Lang, membuat aura Gu Lang terasa semakin mengerikan karena aura hitam yang ada pada pedang-pedang itu.
"Sekarang siapa yang jadi katak dalam tempurung, pak tua?" tanya Gu Lang yang kemudian tertawa sinis, "Lihatlah diri kalian sendiri yang seperti burung dalam sangkar rusak yang bahkan akan hancur hanya dengan terpaan angin belaka! Matilah kalian! Serang!"
Satu persatu pedang itu mulai menghunus ke arah tempurung kura-kura yang para tetua itu sebut dengab benteng suci, tapi sayangnya benteng suci yang cacat karen tidak adanya tetua kedua dalam formasi mereka.
Di saat para tetua keluarga Yin tengah berusaha keras menghalau serangan membabi buta dari Gu Lang, Gu Lang justru tertawa keras karena dia bahkan belum mengerahkan seluruh kekuatannya, tapi para tetua itu sudah harus berusaha setengah mati hanya untuk menahan jurus itu.
Suara ledakan terus terdengar, seiring dengan hantaman pedang yang bertabrakan dengan formasi benteng suci itu tanpa henti, hingga akhirnya suara retakan pun terdengar dan membuat semua penonton langsung menjauh dari arena karena takut terkena imbas dari jurus mengerikan itu.
"Ha ha ha... lihatlah itu pak tua! Tempurung kura-kura kalian sangat lemah! Bahkan hanya dengan serangan kecil saja, dia sudah tidak sanggup!" Gu Lamg tertawa kemudian berteriak keras dengan pandangan membunuh terpancar dari matanya, "Hancurkan!"
__ADS_1