
Bong Quan pun mencebikkan bibirnya sebal, mendengar ancaman Gu Lang yang membuatnya mau tak mau harus menutup rapat-rapat mulutnya itu.
Dan Bingyan juga hanya bisa menahan tawanya melihat kekonyolan ke dua pria itu, karena entah kenapa, dia merasa sangat bahagia saat Bong Quan mengira jika dia adalah wanita milik Gu Lang.
Perjalanan Gu Lang menuju ke benua timur, dimana sekte racun hitam dan empat sekte besar lainnya berada, membutuhkan waktu yang cukup lama karena jaraknya yang sangat jauh.
Mereka membutuhkan waktu kurang lebih sepuluh hari, untuk sampai di tempat tujuan mereka.
*
*
Setelah terus berjalan tanpa henti, Gu Lang dan kedua rekannya memutuskan untuk bermalam di sebuah desa kecil yang mereka lewati.
Kini mereka sudah berada di depan sebuah penginapan, "Kita akan menginap disini?" tanya Bingyan.
"Ya." Gu Lang menganggukkan kepalanya dan berjalan memasuki penginapan itu, untuk memesan makanan dan juga kamar untuk mereka tempati.
Namun saat mereka baru saja melangkah masuk, semua mata para pengunjung dan juga pelayan di sana, langsung tertuju ke arah mereka bertiga dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Selamat datang, Tuan dan Nona muda."
"Aku ingin satu kamar ukuran besar, dan juga makanan untuk kami bertiga."
Dengan wajah yang tampak begitu bahagia, pelayan itu mengantar Gu Lang menuju kamar yang akan mereka tempati.
Sesampainya di depan kamar, pelayan itu pun pamit undur diri untuk menyiapkan makanan bagi mereka.
"Apa kau tak merasa ada yang aneh, Gu Lang?" tanya Bong Quan yang sebenarnya sudah sejak tadi ingin menanyakan hal itu pada Gu Lang.
Gu Lang hanya diam dan tidak berniat menjawabnya, dan lebih memilih untuk berbaring di atas ranjang.
Sebenarnya, dia bukannya tak tau atau tak menyadari keanehan di desa itu tapi ada sesuatu yang entah apa, yang membuat Gu Lang tetap ingin menginap di sana.
__ADS_1
Bagaimana mereka tidak heran, jika sejak mereka memasuki desa itu sama sekali tak ada warga desa yang mereka lihat di sana. Semua rumah tampak sepi dan tidak berpenghuni.
Hanya penginapan itulah satu-satunya tempat yang memiliki kehidupan. Bukankah itu sedikit janggal?
Bingyan yang juga merasa lelah pun, ikut berbaring di atas ranjang yang satunya. Di kamar itu terdapat dua ranjang yang cukup besar, sehingga Gu Lang dapat berbagi ranjang miliknya dengan Bong Quan.
Bong Quan yang masih merasa was-was, memilih untuk duduk di kursi sambil menyandarkan punggungnya. Sebagai ketua pasukan, sikap sip dan siaganya tak perlu diragukan lagi. Itulah kenapa dia memilih untuk berjaga, jika saja apa yang dia khawatirkan benar-benar terjadi.
Hingga tak berselang lama kemudian, pelayan yang tadi mengantar mereka ke kamar, kini tengah mengetuk pintu kamar mereka bertiga, dengan dua orang pelayan lain dibelakangnya yang membawa nampan ditangan mereka masing-masing.
Tok!
Tok!
Tok!
Bong Quan pun membuka pintu kamar dan menyuruh para pelayan itu untuk meletakkan makanan itu di atas meja.
"Apa ada yang lain, Tuan?" tanya sang pelayan, sebelum pergi dari kamar itu.
Bong Quan menutup kembali, pintu kamar itu dan berbalik untuk segera menikmati makanan lezat di atas meja itu, dan mengisi penuh perutnya yang terasa lapar.
Dan saat dia berbalik, Gu Lang dan Bingyan ternyata sudah duduk di kursi dan menatap makanan di atas meja itu dengan tajam.
Bong Quan pun segera duduk dan bersiap mengambil makanan itu, "Kenapa kalian hanya melihatnya? Ayo makan."
"Tunggu." Bingyan mencekal tangan Bong Quan, yang bahkan belum sempat menyentuh makanan itu.
"Ada apa lagi? Aku sudah sangat lapar," gerutu Bong Quan.
Gu Lang berkata dengan suara lirih, "Kalau kau ingin mati, makanlah."
Gu Lang tak mencegah Bong Quan untuk makan, tapi dia mengatakan sepenggal kalimat yang langsung membuat Bong Quan mengurungkan niatnya untuk menyantap hidangan di atas meja, bahkan selera makannya tiba-tiba saja lenyap entah kemana.
__ADS_1
"Maksudmu..."
"Ssst..." Gu Lang menunjuk ke arah jendela, dimana dia merasakan adanya aura beberapa orang yang tadi mereka temui di lantai bawah.
Mereka bertiga pun saling melempar pandang, kemudian mengangguk bersamaan dan berpura-pura pingsan demi mengelabuhi orang-orang itu.
Dan benar saja, beberapa saat kemudian beberapa orang yang tadinya berada di atas atap, kini tengah mengintip ke dalam ruangan demi memastikan kondisi ketiga target mereka di dalam sana.
satu dari tiga orang-orang itu pun memberikan kode, dan mereka semua segera menerobos masuk ke dalam kamar.
"Hahaha... sudah lama sekali kita tak mendapatkan mangsa empuk seperti ini. Cepat ambil semua barang mereka. Jangan lupakan cincin penyimpanan tuan muda bodoh itu juga, pasti isinya adalah benda-benda berharga."
"Baik!"
Saat salah seorang dari mereka baru saja mendekat dan menyentuh jari Gu Lang, dimana cincin penyimpanan itu tersemat, justru tiba-tiba terjatuh ke lantai dengan keras.
"Hey, kau kena..."
Mata mereka semua pun membulat, tatkala darah mengalir deras dari luka sobekan besar yang terdapat di leher rekannya.
Namun mereka lebih terkejut lagi, kala menyadari jika Gu Lang, kini sudah berada tepat di belakang sang pemimpin, dengan pedang iblis yang sudah siap menggorok leher pemimpin mereka, jika dia bergerak sedikit saja.
"Terimakasih atas sambutan yang begitu meriah dari kalian." Gu Lang tersenyum smirk, menatap kearah para bandit itu dan membuat mereka semua ketakutan dan melangkah mundur tanpa sadar. "Dunia ini tidak membutuhkan sampah masyarakat, jadi lebih baik kalian semua mati saja."
Tanpa banyak berkata-kata lagi, Gu Lang menghabisi semua pria berbaju hitam itu dengan pedang iblisnya.
Darah terciprat ke segala arah, menodai baju yang Gu Lang pakai, juga mewarnai pedang iblis dengan warna merah dan bau amis darah.
Bingyan dan Bong Quan hanya bisa meneguk saliva mereka dengan susah payah, melihat pemandangan yang begitu mengerikan di depan mereka saat ini.
Sesaat setelah itu, pedang iblis ditangan Gu Lang pun memancarkan cahaya merah darah yang begitu menyilaukan mata, juga mengeluarkan aura menekan yang begitu mengerikan.
Bahkan Bong Quan dan Bingyan pun sampai berlutut di atas lantai, karena tekanan yang mereka terima.
__ADS_1
Dan setelah sinar itu meredup, Gu Lang pun tersenyum senang saat melihat pedang iblis miliknya kini sudah bukan lagi sebuah pedang rusak, karena pedang iblis patah miliknya kini sudah kembali utuh.
Gu Lang mengangkat pedang iblisnya dan berkata, "Akhirnya. Pedang iblis patah ini sudah bukan lagi pedang patah yang cacat, melainkan sudah menjadi pedang iblis yang sesungguhnya."