Penguasa Menara Langit

Penguasa Menara Langit
Episode 13


__ADS_3

Namun jarum racun dari pria itu membuat aliran aura di tubuh Xiao San justru menjadi tidak beraturan, dan seketika itu juga Xiao San memuntahkan darah segar dari mulutnya.


Lagi dan lagi, Xiao San mengalami luka dalam dan ini untuk yang ketiga kalinya.


Melihat kondisi Xiao san, tanpa berkata-kata lagi, Gu Lang langsung menggunakan jurus Pedang Neraka dan mengoyak pelindung milik tetua itu.


Dia melesat menghampiri Xiao San, kemudian menatap pria licik itu dengan tatapan membunuh.


"Bedebah licik! Beraninya kau menggunakan jarum beracun di atas arena hidup mati!?"


Gu Lang berseru dengan marah, dan seketika itu juga membuat semua orang yang ada di sana tercengang dan menatap ragu pada Gu Lang.


Terlebih lagi sang tetua yang belum selesai dengan keterkejutannya, melihat Gu Lang yang mampu merobek dinding pelindungnya.


Dan kini dia harus kembali dikejutkan oleh ucapan Gu Lang, soal kecurangan yang terjadi di arena.


Bahkan dia saja tak melihat hal itu, tapi bagaimana mungkin Gu Lang justru bisa melihatnya.


Menurutnya itu adalah hal yang sangat tidak mungkin, yang tentu saja hal itu juga membuatnya merasa dihina.


"Beraninya kau meragukan pengamatanku!" serunya.


"Cih! Sepertinya aku masih harus membuka mata kalian dengan bukti nyata!" ucap Gu Lang, "Tapi sebelum itu aku harus membunuh bedebah sepertimu lebih dulu!" tunjuknya pada pria itu.


Gu Lang bersiap menggunakan pukulan Sembilan Matahari untuk menghabisi nyawanya, namun belum sempat hal itu terlaksana seseorang tiba-tiba saja muncul dan naik keatas arena hidup dan mati.


"Mengganggu anjing juga harus lihat dulu siapa pemiliknya."


Dari berbagai gunjingan para penonton yang ada di sana, akhirnya Gu Lang mengetahui siapa pria yang mencoba mencegahnya membunuh manusia licik itu adalah Tang Yu Long.


Sekaligus membuatnya tau, apa penyebab semua ini terjadi.

__ADS_1


"Terlalu banyak omong kosong!"


Gu Lang menggunakan jurus Pedang Kematian dan langsung melesat untuk memenggal kepala pria licik itu, dan melewati Tang Yu Long begitu saja.


Tang Yu Long hanya bisa berdiri mematung tanpa bisa mencegah Gu Lang sama sekali, jangankan untuk mencegahnya bahkan dia saja tak bisa melihat serangan Gu Lang yang memang sangat cepat.


Darah mengalir membasahi arena hidup mati, membuat semua orang tercengang melihat hal itu.


"Kau!?" Tang Yu Long terlihat sangat marah saat ini, begitu juga dengan tetua arena hidup mati.


"Kau berani ikut campur urusan di atas arena hidup mati, kau harus di hukum mati!"


Gu Lang kembali pada Xiao San yang sudah tidak sadarkan diri, dan mencabut jarum beracun itu dari tubuh Xiao San. Dia memperlihatkan jarum itu kesemua orang.


Yang tentu saja hal itu membuat tetua merasa malu dan menyimpan dendam pada Gu Lang, hingga akhirnya dia rela melakukan segala cara untuk mempertahankan harga dirinya di depan semua orang.


"Kau hanya mengada-ada! Aku bahkan tidak melihat dia menggunakan jarum itu saat pertarungan, jangan-jangan kaulah yang sengaja melakukannya!? Sengaja mengganggu pertandingan di arena hidup mati adalah kejahatan besar!"


Gu Lang mendecih mendengar pembelaan diri dari tetua itu, hanya untuk menyelamatkan harga dirinya sebagai tetua arena hidup mati.


Hanya dengan satu kalimat sangkalan dan tuduhan, Gu Lang justru menjadi tersangka saat ini.


Namun tak ada rasa cemas dan takut sedikitpun pada diri Gu Lang saat ini, dia bahkan terlihat sangat tenang dalam mengalami situasi yang tidak menguntungkan untuknya.


"Bukankah tetua mengatakan jika tetua tidak melihat dia menggunakan jarum ini, tetua Fang Teng yang terhormat?" tanya Gu Lang sambil mengangkat jarum itu.


"Lalu bagaimana tetua bisa mengatakan jika aku yang sengaja melakukannya, padahal tetua juga tak melihatnya. Lalu apa aku juga bisa mengatakan jika tetua yang sengaja melakukannya, seperti apa yang tetua lakukan?"


Wajah tetua arena hidup mati yang ternyata bernama Fang Teng itu pun terlihat mulai memucat, tangannya terkepal erat dan menatap Gu Lang dengan tatapan membunuh.


"Lancang!" Fang Teng baru saja akan menghantam Gu Lang dengan tinjunya.

__ADS_1


Tapi Gu Lang yang sudah tau jika akan ada orang yang membantunya menghadang serangan itu, hanya diam tanpa berniat melawan atau menghindar sedikit pun.


"Sebagai tetua, kau tidak mau mengakui kesalahanmu dan justru memutar balikkan fakta. Apa kau tidak merasa malu, Fang Teng?"


Keringat dingin mulai mengucur membasahi tubuh Fang Teng, apalagi dengan tatapan dari orang yang tengah mencengkram erat tangannya itu. Tatapan yang serasa menusuk dan membuat tulang-tulangnya melemas seketika.


"T-tetua Agung?"


"Tetua Agung? Jadi penjaga paviliun Awan ternyata adalah seorang tetua Agung?!" batin Gu Lang yang sangat-sangat tidak menyangka.


Meskipun dia tau jika penjaga paviliun itu bukan orang biasa, tapi dia tidak menyangka jika posisi penjaga paviliun ternyata setinggi itu.


Jabatan tetua Agung bahkan lebih tinggi dari ketua sekte, tapi kenapa dia justru menyembunyikan identitasnya dan malah menjadi seorang penjaga paviliun. Itulah yang menjadi pertanyaannya.


Fang teng tampak terlihat sangat takut, pasalnya tetua Agung pasti akan menindak tegas perbuatannya itu, dan ternyata benar saja.


Sesaat kemudian tetua Agung mengumumkan hal yang membuat Fang Teng terkejut dan merasa lemas seketika, begitupun semua orang yang hadir di sana terkejut mendengar keputusan tetua Agung yang sangat tegas itu.


"Mulai hari ini, kau bukan lagi tetua arena hidup mati dan juga kau sudah bukan lagi bagian dari sekte Bulan Sabit."


Bagaikan ada sebuah petir yang menyambar tubuhnya, dalam sekejap status tinggi yang dia dapat dengan susah payah justru hancur begitu saja.


Dan semua itu hanya karena seorang murid luar, semut kecil yang justru mampu menggigitnya.


Berbeda dengan semua orang yang merasa terkejut namun juga takjub dengan keputusan tetua Agung, Gu Lang justru merasa keputusan tetua Agung tidaklah tepat.


Untuk alasannya, tentu saja hal memalukan seperti itu pasti akan menjadi alasan yang kuat bagi Fang Teng untuk menyimpan dendam pada Gu Lang, dan membalaskannya di masa depan.


Bukannya Tetua Agung tak menyadari raut wajah Gu Lang yang tampak tidak puas dan juga kecewa, begitu pun dengan alasannya.


Tapi dia justru melakukan itu dengan sengaja, agar Gu Lang memiliki alasan yang kuat untuk segera berkembang dan menjadi lebih kuat lagi.

__ADS_1


Meskipun cara itu terbilang kejam dan juga sangat berbahaya, tapi memang tantangan semacam itulah yang akan menjadi dorongan terkuat bagi para kultivator.


Saat seorang kultivator berada di ambang kematian, itulah saat dimana mereka memiliki kesempatan yang besar untuk menembus batas kekuatan mereka dan menjadi semakin kuat.


__ADS_2