
Gu Lang tersenyum, "Mauku? Tentu saja membantai kalian semua!"
Mendengar apa yang Gu Lang katakan, tentu saja membuat mereka semua sangat ketakutan. Terlebih di wajah tampan Gu Lang saat ini, masih terdapat bercak noda darah dan membuat seringai Gu Lang terlihat seratus kali lebih menakutkan.
Hanya satu orang yang tidak gentar untuk menghadapi Gu Lang, yaitu Bong Quan. Meskipun dia sadar diri kalau kemampuannya jauh di bawah Gu Lang, tapi dia memiliki kelebihan yaitu dia bisa mengendalikan monster dan dia bisa menggunakan itu sebagai penutup kekurangannya dalam hal basis kultibasi, di hadapan Gu Lang.
Carberus peliharaannya saat ini, setidaknya sudah berada level Raja, sama seperti tingkatan Gu Lang saat ini. Namun bukan berarti, Bong Quan mampu menaklukkan monster level tinggi seperti itu.
Hanya saja Carberus itu sudah dia pelihara sejak kecil. Tepatnya sejak levelnya masih berada di bawah level kultivasinya sendiri, tapi siapa sangka peningkatan kekuatan Carberus itu sangat cepat dan bahkan dua 3 kali lipat lebih cepat darinya.
Itulah salah satu alasan kenapa dia masih bisa bertahan di posisinya saat ini, sebagai pemimpin pasukan keluarga Xi.
"Sialan! Berani-beraninya bedebah busuk sepertimu membual di sini!?" seru Bong Quan dengan sangat geram.
Meskipun mereka kini sudah tau jika tetua pertama adalah musuh dalam selimut, tapi Gu Lang mengatakan jika dia tak hanya membunuh tetua pertama, melainkan semua tetua keluarga Xi dan bahkan juga ingin membunuh dirinya dan para bawahannya.
"Dasar bodoh. Kalian semua sudah dimanfaatkan, tapi kalian masih ingin menjaga reruntuhan keluarga bedebah ini?" Gu Lang menancapkan pedangnya di tanah, lalu tertawa sambil menengadah ke langit dan menutup sebelah matanya dengan tangan yang dipenuhi darah dari para musuh yang sudah dia habisi itu.
Semua orang bahkan kesulitan menelan ludah mereka, melihat sosok mengerikan di hadapan mereka saat ini. Gu Lang benar-benar terlihat berbeda, di wajahnya tampak mulai bermunculan tatto hitam yang berbentuk seperti tanaman merambat. Tatto itu muncul dan dengan pelan tapi pasti terus bertambah, membuat wajah Gu Lang terlihat semakin mengerikan.
__ADS_1
"Apa kalian tau!? Mereka! Mereka bahkan tidak pernah memikirkan nasib kalian! Mereka tak pernah menganggap nyawa kalian berharga! Bagi mereka, nyawa kalian tak ubahnya sebuah batu! Tidak berharga! Begitulah cara mereka membinasakan keluargaku! Mereka jahanam yang pantas mati! Mereka bahkan tidak mengampuni wanita dan anak-anak, apa mereka masih bisa disebut sebagai manusia!?" seru Gu Lang sambil menatap nyalang pada pasukan itu.
Pandangan matanya memperlihatkan kilatan amarah yang begitu jelas terpancar. Bahkan mata itu mulai perlahan berubah menjadi warna merah darah, seiring tatto yang semakin bertambah juga di wajah Gu Lang.
Semua orang sempat berpikir jika Gu Lang menggunakan jurus terlarang, sehingga dia bisa meningkatkan kekuatannya dengan begitu cepat. Karena tentu saja itu sangat tidak masuk akal bagi mereka.
Seorang pemuda sampah yang sudah terjebak selama bertahun-tahun di tingkat prajurit level lima, tiba-tiba saja membantai seluruh kota Biluo sebagai pendekar topeng emas yang basis kultivasinya sudah bisa mereka tebak jika setidaknya dia sudah berada di level Raja.
Itu tidak mungkin, bagi orang biasa untuk mengalami peningkatan yang begitu gila seperti itu tanpa menggunakan jurus terlarang.
"Sepertinya dia menggunakan jurus atau pil peningkat kekuatan yang terlarang, ketua. Jadi bukankah kita hanya perlu mengulur waktu hingga efek jurus atau pil itu hilang? Dan kita bisa membunuhnya saat itu juga." Usul sang sang wakil ketua, saat melihat kondisi Gu Lang yang sangat aneh itu.
"Tidak, dia tidak menggunakan jurus atau pil."
Sang wakil ketua pun dia buat bingung dengan pernyataan sang ketua, yang terdengar seperti tidak masuk akal baginya. Lagipula penjelasan macam apa lagi yang logis untuk dikaitkan dengan kondisi Gu Lang saat ini, jika bukan karena Gu Lang menelan pil terlarang atau menggunakan jurus terlarang.
Dia menyimpulkan begitu karena pengguna jurus terlarang, akan dikuasai oleh jurus itu sendiri seiring berjalannya waktu, begitupula dengan pil obat peningkat kekuatan yang akan membuat pemakainya lumpuh sementara waktu.
Dan ini sudah beberapa lama sejak Gu Lang mengacau kediaman Xi, dan bukan tidak mungkin jika saat ini efek jurus terlarang itu mulai terlihat dan perlahan memakan kesadaran Gu Lang.
__ADS_1
"Dia tidak menggunakan jurus terlarang, karena Pang mengatakan jika pondasi Gu Lang sangat stabil dan tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan kalau dia menggunakan jurus terlarang." Bong Quan memang bisa berkomunikasi dengan peliharaannya yang bernama Pang, dan Pang mengatakan jika pondasi Gu Lang sangatlah stabil, tidak ada gejolak aneh dalam dantiannya.
"L-lalu apa yang terjadi dengan orang itu? Cepat pikirkan cara untuk menghadapinya, ketua. Kita tidak punya banyak waktu." Sang wakil ketua pun mendesak Bong Quan untuk memikirkan cara bagi mereka semua agar bisa menyelamatkan diri.
"Tidak ada gunanya. Hari ini jangan berharap ada seekor lalatpun yang bisa kabur dariku!" Gu Lang tiba-tiba saja berteriak keras dengan suara yang begitu mengerikan, sambil mencabut kembali pedangnya dan mengangkatnya ke atas.
Berbeda dengan apa yang terlihat dari luar, Gu Lang saat ini tengah berjuang mati-matian untuk mempertahankan tubuhnya dari kuasa iblis hati.
Benar, iblis yang terkurung dalam sangkar emas di tubuh Gu Lang itu mulai memberontak dan berusaha menguasai tubuh Gu Lang di saat dia mendapatkan celah. Celah yang sangat besar, yaitu saat amarah Gu Lang terpancing dan membuat niat membunuh Gu Lang cukup kuat sehingga memberinya kesempatan untuk memberontak.
"Aaarrrrggghhh! Sialan! Dasar iblis bajing*an! Kau memanfaatkan kesempatan saat aku lengah, dasar sialan!" Gu Lang terus mengumpat dan bertarung dengan iblis hati itu dalam wujud jiwa.
"Ha ha ha... kau juga iblis, anak muda. Kau juga melakukan apa yang kulakukan."
Mendengar perkataan itu membuat Gu Lang teringat dengan pesan terakhir dari tuan tua, "Ambillah bejana ini dan lakukan tugasmu. Kau harus ingat satu pesan dariku, anak muda. Jangan pernah menjadi sombong karena kekuatan, jangan menjadi iblis karena keserakahan dan dendam, jangan lupa diri karena takhta dan kedudukan."
Gu Lang pun merutuki kebodohannya yang melupakan pesan terakhir dari tuan tua, yang akhirnya kini benar-benar terjadi padanya.
"Aku dibutakan oleh dendam. Menjadi iblis karena kemarahan. Membunuh karena pembalasan. dan melupakan jati diriku sebagai manusia yang memiliki perasaan."
__ADS_1