
Dia menyeringai menatap pria yang masih berusaha melepaskan diri itu dan berkata, "Oh iya, aku hampir lupa mengantarmu pada raja yama dan menyusul semua teman."
Mata pria itu membesar kala mendengar perkataan Gu Lang. Namun dia tak bisa bersuara, karena Gu Lang tak melepaskan penyumpal di mulutnya, sehinggga yang terdengar hanya raungan tertahan yang meminta belas kasihan.
Namun tentu saja hal itu tak berpengaruh pada Gu Lang, karena dia tau jika para elite keluarga Xi jug ikut andil dalam pembantaian besar-besaran yang kelima keluarga besar lakukan pada keluarganya.
Jadi tak ada kata maaf bagi mereka, para pendosa. Hanya ada satu kata bagi mereka, yaitu kematian.
Gu mencabut pedangnya dan memenggal kepala orang itu tanpa berkedip, lalu berbalik pergi untuk melanjutkan misi balas dendamnya yang sudah hampir selesai.
Dan ternyata, Bong Quan menyaksikan juga hal itu dengan mata kepalanya. Tapi dia tampaknya tidak lagi terkejut, karena dia bahkan sudah melihat tetua pertama keluarga Xi yang mengalami penyiksaan dan penghinaan oleh Gu Lang bahkan setelah kematian datang menjemputnya.
"Jadi kau sudah memutuskan untuk ikut denganku?" tanya Gu Lang setelah dia cukup dekat dengan posisi Bong Quan, yang kini masih berada di punggung Carberus miliknya.
Bong Quan pun mengangguk dan berkata dengan tegas, "Ya, aku sudah memutuskan untuk kembali pada jati diriku, kembali ke tempat asalku." Gu Lang pun mengangguk dan segera menunggangi kuda curian milik keluarga Xi, yang dia ambil sebagai barang rampasan.
Kuda putih yang begitu gagah dan tampan, sangat cocok dengan Gu Lang. Dan bukan hanya itu, dilihat dari postur dan jenisnya saja sudah bisa diketahui jika kuda ini adalah tipe kuda pelari yang dapat melesat dengan sangat cepat.
"Dia benar-benar bukan lagi tuan muda sampah. Dia bahkan bisa mengenali kuda petir milik kepala keluarga, kuda terbaik di kediaman Xi." Batin Bong Quan, yang tanpa sadar sudah memuji kemampuan Gu Lang yang luar biasa.
__ADS_1
"Ayo, aku masih harus membantai dua keluarga lainnya." Tanpa menunggu jawaban dari Bong Quan yang masih asyik dengan lamunannya, Gu Lang memacu kudanya dengan kecepatan tinggi.
Dan saat mendengar kata membantai, lagi, Bong Quan pun langsung tersadar dari lamunannya dan menatap tidak percaya ke arah Gu Lang yang sudah melesat mendahuluinya.
"Membantai lagi? Apakah sekarang giliran keluarga Yin dan Tang?" gumam Bong Quan, sesaat sebelum dia menyuruh Pang untuk segera mengejar Gu Lang karena jika ketinggalan maka dia akan kebingungan karena dia tak tau rumah keluarga besar mana yang ingin Gu Lang tuju sekarang.
Dan akhirnya Bong Quan pun mampu menyusul Gu Lang, karena secepat apapun kuda petir itu tetap saja Pang lebih cepat karena bagaimanapun dia adalah seekor monster Carberus alias anjing berkepala tiga, yang sudah berada di tingkat Raja.
Jadi tentu saja bukan hal sulit bagi Pang, menyusul laju kuda petir milik Gu Lang. Karena rasa penasarannya, Bong Quan pun memberanikan diri bertanya pada Gu Lang, "Sekarang kita akan kemana?"
"Rumah keluarga Tang."
Dan Gu Lang yang melihat adanya keterkejutan di wajah Bong Quan pun segera bertanya kenapa, "Kenapa? Apa ada yang salah?" tanya Gu Lang sambil melirik sekilas ke arah Bong Quan, yang masih menatapnya dengan aneh.
"Tidak, hanya saja aku sempat mendengar sesuatu yang menarik. Aku mendengar percakapan seorang tetua keluarga Xi dan seorang tetua dari keluarga lainnya tentang misi, tapi saat itu aku tidak tau jika yang mereka bicarakan adalah misi pembantaian keluargamu."
Kini Gu Lang lah yang menautkan alisnya dan menatap Bong Quan dengan intens, setelah dia menarik tali kekang kuda petir miliknya hingga kuda itu meringkik keras hingga akhirnya kuda itu pun behenti.
Bong Quan yang melihat Gu Lang menghentikan laju kudanya pun segera meminta Pang untuk berhenti juga, dan menanyakan kenapa Gu Lang tiba-tiba saja berhenti secara mendadak seperti itu.
__ADS_1
"Kenapa dia tiba-tiba saja berhenti? Apa ucapanku ada yang salah, atau justru membuatnya penasaran?" batin Bong Quan sesaat sebelum Pang menghentikan lajunya, tepat du hadapan Gu Lang
"Lanjutkan." Hanya satu kata itu yang terucap dan meluncur dari mulut Gu Lang, namun itu sudah cukup membuat Bong Quan tau kalau tebakan keduanya lah yang ternyata benar, Gu Lang tertarik mendengarnya mengatakan kalau dirinya sempat mendengar sesuatu.
"Itu tentang perjanjian antara keluarga Tang dan keempat keluarga besar yang lainnya."
"Perjanjian?" beo Gu Lang lirih, sembari berusaha memutar otak dan mencari maksud dari kata perjanjian ini. Perjanjian apa yang bisa terjadi antara lima keluarga besar, tanpa keluarga Gu? Jawabannya hanya satu, yaitu tentu saja merujuk pada rencana pembantaian keluarganya kala itu, tapi entah perjanjian macam apa yang bisa di sepakati dalam kondisi seperti itu.
"Tetua Agung keluarga Tang menentang keras rencana biadab itu, tapi dia tak punya pilihan. Demi keselamatan seluruh anggota keluarganya, dia terpaksa tetap ikut andil dalam rencana kejam itu." Bong Quan menarik nafas panjang sebelum dia melanjutkan bercerita, "Makanya mereka membuat sebuah perjanjian. Keluarga Tang tak akan ikut membunuh, hanya ikut hadir tapi sebagai gantinya, keluarga Tang tak akan mendapatkan bagian apapun dari hasil rampasan yang keluarga lainnya dapatkan dari keluarga Gu."
Gu Lang mengepalkan erat-erat tinjunya, saat mendengar perkataan Bong Quan. Dia pun segera kembali melajukan kudanya dengan kecepatan penuh, dia tampak ingin segera sampai di tempat yang ingin dia tuju.
Dan saat ini tujuannya adalag rumah keluarga Tang. Jika memang benar apa yang Bong Quan katakan itu, jadi dia pasti bisa mendapatkan informasi yang lebih rinci tentang siapa orang misterius di balik pembantaian keluarganya kala itu.
Karena kini petunjuk yang dia punya masih sangat sedikit. Hanya sekte racun, dan tato kalajengking hitam. Tidak mungkin bukan... jika Gu Lang ujug-ujug datang ke sana dan menyisir satu persatu anggota sekte racun, hanya untuk mencari pemilik tato itu?
"Sebenarnya siapa orang itu? Dan kenapa dia ingin menghancurkan keluargaku, juga menyandera ayahku?" Gu Lang berpikir keras sepanjang perjalanan menuju rumah keluarga Tang yang jaraknya lumayan jauh jika si tempuh dengan kuda, dan untungnya dia memilih menjarah seekor kuda, sehingga dia tak perlu menggunakan langkah awan untuk sampai ke rumah keluarga Tang, karena pastinya dia akan menghabiskan banyak tenaga hanya untuk melakukan hal itu.
Kuda itu terus melaju dengan kecepatan tinggi, hingga akhirnya mereka sampai di depan gerbang sebuah kediaman yang besar.
__ADS_1