
"Akhirnya. Pedang iblis patah ini sudah bukan lagi pedang patah yang cacat, melainkan sudah menjadi pedang iblis yang sesungguhnya."
Gu Lang tersenyum penuh kemenangan, sedangkan dua orang yang melihat bagaimana sadisnya seorang Gu Lang membanta8 sekelompok bandit itu pun hanya bisa menelan saliva mereka dengan susah payah.
Meski Gu Lang menyadari ketakutan kedua temannya, dia memilih untuk tidak perduli karena didunia itu belas kasih hanya akan dia berikan pada orang yang pantas. Dan tentu saja para bandit itu tidak termasuk dalam kategori orang yang pantas untuk di beri belas kasih, dan justru wajib dibantai menurut Gu Lang.
"Tenanglah, aku tak akan membunuh kalian. Jadi jangan takut, dan tidurlah. Besok pagi kita akan melanjutkan perjalanan." Gu Lang memilih untuk duduk bersila di atas ranjang untuk memulai meditasi.
Dan Bong Quan yang seketika itu mengingat kejadian di penginapan sebelumnya, akhirnya memutuskan untuk tidur di kursi kayu panjang saja.
Setidaknya meski tak senyaman ranjang, tapi kursi jauh lebih aman mengingat semengerikan apa Gu Lang saat sedang berlatih.
Bingyan pun ikut membaringkan tubuhnya diatas ranjang, dan berusaha memejamkan matanya. Tapi sayangnya, kedua mata indah gadis cantik itu seolah enggan tertutup.
Sedangkan untuk Gu Lang sendiri, kini dia sudah berada di dalam menara langit untuk memulai pelatihannya.
"Aku harus secepat mungkin menguasai jurus ilusi, sampai level tertinggi." Gu lang membuka buku jurus ilusi miliknya.
Di sana tertulis, gerbang kedua yang harus dia buka setelah gerbang Baihui (gerbang pertama) terbuka adalah gerbang Tian Shu.
Gu Lang menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian mulai mengontrol aliran aura spirit dalam tubuhnya untuk menemukan dimana titik Tian Shu berada.
Dengan terbukanya gerbang pertama kemarin, kini jalur aura spiritual Gu Lang menjadi lebih besar.
Meskipun ada sisi baik, dimana hal tersebut membuat Gu Lang dapat menggunakan jurus dengan kekuatan diatas tingkat seharusnya, tapi sisi buruknya adalah semakin banyak gerbang yang terbuka maka akan semakim sulit juga untuk membuka gerbang selanjutnya.
"Gerbang Tian Shu, aku menemukanmu." Gu Lang pun akhirnya menemukan titik Tian Shu atau gerbang kedua.
__ADS_1
Bingyan yang belum bisa terlelap, kini tengah mencuri pandang kearah Gu Lang yang sedang berlatih.
Dan entah kenapa, tiba-tiba saja Bingyan merasa kepalanya begitu berat dan pusing.
"Argh!" desis Bingyan sembari memegangi kepalanya yang terasa tengah ditusuk oleh ribuan jarum secara terus menerus.
Tapi untungnya, rasa sakit itu berlangsung selama beberapa detik saja sehingga Bingyan masih sanggup menahannya.
Namun hal mengejutkan terjadi saat Bingyan membuka matanya, Samar-samar dia dapat melihat aura spiritual yang mengalir di tubuh Gu Lang.
"A-apa itu? Kenapa aku bisa melihatnya?" Bingyan terkejut dan berusaha menajamkan pandangannya, untuk memastikan apakah yang dia lihat itu benar-benar aliran aura dalam tubuh Gu Lang, atau itu hanya sekedar halusinasi akibat sakit kepalanya barusan.
Namun semakin Bingyan berusaha menajamkan pandangannya, rasa sakit dikepalanya kembali terasa dan bahkan kini semakin menggila.
"Aaaarrrrgggghhh!" Bingyan berteriak kencang hingga membuat Gu Lang yang sedang berlatih kehilangan fokusnya dan mengalami luka dalam ringan.
Begitu pula dengan Bing Quan yang tadinya sudah terlelap dalam tidurnya, langsung terbangun seketika saat mendengar teriakan Bingyan.
"Apa yang terjadi!?"
Mereka semakin terkejut kala tubuh Bingyan tiba-tiba saja diselimuti dengan aura spiritual bertipe api, yang sangat kuat. Bahkan Gu Lang saja kesulitan untuk menahan tekanan dari aura itu. Sedangkan Bong Quam kini sudah terkapar diatas lantai, bukan karena dia pingsan tapi tekanan itu terlalu berat hingga dia bahkan tak mampu untuk duduk apalagi berdiri.
"Pasangan yang mengerikan. Kemarin Gu Lang, sekarang wanitanya. Apa mereka ini masih manusia?" batin Bong Quan sambil terus berusaha menahan tekanan yang menghantam tubuhnya.
Gu Lang membelalakkan matanya, kala aura api di tubuh Bingyan, perlahan memiliki bentuk hingga menyerupai seekor phoenix.
"Apa ini yang dinamakan Phoenix suci?" Gu Lang teringat dengan penjelasan yang pernah Gu Lang asli baca, tentang berbagai tubuh suci yang ditakuti oleh banyak orang, tapi juga menjadi incaran banyak pihak karena dianggap sebagai sebuah ancaman.
__ADS_1
Di sebuah tempat yang sangat jauh dari tempat Gu Lang berada...
"Sang phoenix suci sudah muncul." Seorang pria paruh baya tampak mwnyunggingkan senyum manis diwajahnya, "Cari snag Phoenix suci, sebelum mereka lebih dulu menemukannya!" titahnya dengan bersemangat, pada para bawahannya.
Bagimana tidak... sudah beratus-ratus tahun lamanya sang phoenix suci tak kunjung bangkit, bahkam setelah segala usaha yang mereka lakukan. Padahal keturunan keluarganya beberapa generasi sudah cukup banyak, tapi tak ada satupun dari mereka yang merupakan wadah bagi phoenix suci.
Tapi kini tiba-tiba saja aura sang phoenix suci muncul, tapi ditempat yang sangat jauh daru tempat mereka.
"Maaf ketua, tapi siapa yang menjadi wadah bagi sang Phoenix suci? Bukankah ketua tak memiliki anak selain kesepuluh tuan muda?" tanya sang penasihat, karena sang tetua memang hanya memiliki sepuluh anak laki-laki saja, setidaknya itulah yang dia pikirkan.
Sang tetua tak berniat menjawab, meski dia sudah memiliki satu dugaan kuat yang mengarah pada seseorang dimasa lalunya.
"Mungkinkah itu benar-benar terjadi?" batin sang tetua.
Kembali pada Gu Lang dan Bong Quan yang kini tengah sibuk mengurus Bingyan, yang sudah pingsan sejak beberapa saat yang lalu. Tepatnya setelah aura phoenix tadi menghilang.
"Sebenarnya apa yang terjadi, Gu Lang? Kenapa istrimu bisa jadi seperti ini?" tanya Bong Quan.
"Dia bukan istriku. Tapj sepertinya, dia adalah salah satu pemilik tubuh suci."
Tentu saja Bong Quan dibuat terkejut setengah mati mendengar penjelasan Gu Lang, karena siapa juga yang tidak tau tentang para pemilik tubuh suci.
Bukan tanpa alasan, tapi semua pemilik tubuh suci adalah seorang kultivator yang sangat kuat, juga terkenal di seluruh dunia itu.
Dan yang paling membuat para pemilik tubuh suci istimewa, adalah dalam satu keluarga hanya ada satu pemilik tubuh suci di dalam sebuah keluarga. Itupun seringkali tak muncul selama beberapa tahun bahkan beberapa puluh tahun lamanya.
Bingyan perlahan membuka matanya. Dia sama sekali tak mengetahui apa yang baru saja terjadi padaa dirinya.
__ADS_1
"Kepalaku, sakit sekali." Bingyan mencengkeram kepalanya, yang terasa pusing. Dengan susah payah, Bingyan berusaha untuk duduk demi mengetahui ssbenarnya apa yang baru saja terjadi.
Gu Lang membantu Bingyan untuk duduk sata melihat gadis itu tampak kesulitan, "Apa hubunganmu dengan sekte burung surgawi?"