Penguasa Menara Langit

Penguasa Menara Langit
Episode 33


__ADS_3

"Apa mungkin itu api iblis yang asli?" Gu Lang berjalan mendekati obor itu. Dia mengabaikan raungan sosok yang masih dibakar oleh aura yang seolah mengamuk itu, tatapannya hanya tertuju pada obor emas dan api hitam di hadapannya.


Gu Lang mencoba mengambil api itu. Dan ternyata benar, api itu kini sudah berpindah ke tangannya. Api yang sangat tenang, dan tidak bergejolak seperti saat dia berlatih tadi yang menandakan jika api iblis kini sudah tunduk padanya.


Dan bersamaan dengan itu, raungan dari sosok mengerikan tadi pun berhenti. Auta yang berkecamuk tadi juga hilang begitu saja, dan Gu Lang tiba-tiba kembali ke dunia nyata.


Gu Lang membuka matanya, dan kini sudah berada di tempat ujian lagi. Senior itu tersenyum bangga pada Gu Lang, seolah mengetahui kejadian luar biasa apa yang baru saja terjadi.


"Kau sudah menaklukkannya kan, sekarang cobalah lagi."


Gu Lang pun mengangguk mengiyakan, meskipun dia juga penasaran darimana senior itu tau kalau dia sudah menaklukkan api iblis itu beberapa saat lalu.


Kini Gu Lang kembali memfokuskan pikirannya pada bejana ilahi di hadapannya, dan mulai mengatur api iblis miliknya agar saat bahan pilnya di masukkan tidak lagi ada kegagalan dan justru membuatnya meledak seperti percobaan pertamanya.


"Fokus, aku harus bisa membuatnya kali ini." Gu Lang memasukkan bahan-bahan obatnya satu persatu sesuai dengan urutan yang sudah senior itu jelaskan.


Pertama rumput darah, kedua jamur giok, ketiga bunga tanduk naga, dan keempat adalah darah monster tipe api.


Gu Lang merasa lega saat bahan terakhir sudah dia masukkan, dan tidak ada lagi ledakan seperti sebelumnya.


Dia juga mampu mengontrol api iblisnya dengan sangat baik, tidak seperti sebelum ia menaklukkan api iblis itu yang membuat kobaran apinya tidak stabil dan cenderung ganas.


Pada saat proses peleburan, Gu Lang sedikit kewalahan karena dia harus tetap mengatur api iblisnya sambil memperhatikan peleburan bahan obatnya, agar tidak ada kesalahan.


Mengontrol api iblis saja sudah menghabiskan banyak energi, dan membuat Gu Lang merasa lelah.

__ADS_1


Kini tersisa step terakhir, yaitu kondensasi. Tahap ini adalah tahap paling akhir dan tahap paling penting, yaitu dimana leburan bahan obat itu akan menggumpal dan memadat menjadi sebuah pil.


Jika gagak dalam proses ini, tentu saja pembuatan pil juga akan gagal.


"Kondensasi!" Gu Lang mencoba memadatkan leburan bahan obat itu, namum sayangnya dis masih gagal.


Gu Lang menghela nafas panjang, karena lagi-lagi dirinya gagal. Namun di tak ingin menyerah, dan ingin terus berlatih hingga dia menguasai pelatihan alchemist dan setidaknya mampu membuat pil obat meskipun hanya level satu.


"Maaf senior aku gagal lagi, aku membuang-buang bahan obat yang berharga seperti itu."


"Tenang saja, bahan-bahan tingkat rendah semacam itu aku punya banyak." Senior itu mengeluarkan bahan-bahan yang Gu Lang butuhkan, dari cincin penyimpanannya dan itu membuat Gu Lang terkejut.


Karena bukan hanya satu atau dua dari setiap jenis ysng ada, melainkan segunung bahan yang dia butuhkan kini sudah terpampang nyata di hadapannya. Bagaimana bisa bahan-bahan seperti itu, seolah bukan barang berharga bagi senior itu.


Padahal di tempat Gu Lang, bahan-bahan itu termasuk bahan yang sulit di cari meskipun tidak termasuk yang paling langka tapi tetap saja jika membeli bahan-bahan itu juga harus mengeluarkan dana yang tidak sedikit.


Lagi dan lagi, Gu Lang di buat terkejut setengah mati dengan perkataan senior itu yang kini sudah dia yakini jika dialah tuan tua, pemilik menara langit yang sebelumnya.


Sebelumnya Luo Luo mengatakan jika bagi tuan tua, buku jurus tingkat kunin anya dijadikan sebagai tisu toilet dan kini bahan-bahan mahal seperti itu di jadikan sup.


"Sebenarnya sekaya apa tuan tua ini?" batin Gu Lang.


"Sekaya apa aku? Ehm... tidak terlalu kaya. Di dunia atas masih ada yang lebih kaya dariku, tapi kalau untuk bahan-bahan murah begini aku masih sanggup membelinya." Jawab tuan tua dengsn entengnya.


Gila, ini gila. Bahkan untuk membeli satu bahan tadi saja, sepertinya butuh pendapatan sebulan dari pendapatan keseluruhan keluarga Gu.

__ADS_1


Namun di samping itu Gu Lang juga sangat senang. Memiliki seorang guru yang kaya, itu artinya dia juga akan mendapatkan semu bahan yang dis butuhkan dengan mudah.


"Jangan terlalu berharap. Bahan-bahan yang tidak berasal dari dunia ini, tak dapat di gunakan di sini. Jadi aku meninggalkan semuanya di duni atas, di gudang harta sekte suci. Dan bahan dari dunia ini, aku hanya punya sedikit karena aku memang tidak terlalu membutuhkannya."


Belum juga sempat Gu Lang menikmati kesenangannya, karena dia tak perlu memusingkan masalah bahan pembuatan pil. Tuan tua justru menjatuhkan khayalan Gu Lang dengan begitu menyakitkan.


Gu Lang menghela nafas panjang, "Gagal kaya." Gumamnya dengan lesu.


"Jangan terus mengeluh, cepatlah kembali berlatih!" seru tuan tua yang membuat Gu Lang segera memulai kembali pelatihannya.


Percobaan ke-tiga, ke-empat, dan ke-lima masih juga gagal. Gu Lang nampak frustasi dibuatnya, tapi tuan tua terlihat biasa saja. Dia sama sekali tidak marah, ataupun menganggap Gu Lang tidak becus atau tidak berbakat dalam hal alchemist.


"Apa aku sudah keterlaluan mengerjainya? Dulu saja aku butuh lima puluh kali lebih mencoba, hanya untuk berhasil membuat pil pertama kalinya." Batin tuan tua.


Benar, apa yang tuan tua katakan tadi tentang Gu Lang yang seharusnya bisa membuat pil setidaknya level dua stau tiga hanyalah sebuah kata-kata tak berarti alias cabdaan semata.


Bagaimana mungkin, orang yang baru pertama kali belajar alchemist sudah bisa menghasilkan pil tingkat dua apalagi tingkat tiga.


Bahkan dia saja yang di juluki sebagai jenius di bidang alchemist membutuhkan lima puluh kali lebih percobaan, untuk membuat pil pertamanya dan itu pun hanya level satu.


Jika saja Gu Lang tau akan kebenaran itu, sudah pasti dia akan merasa dipermainkan oleh tuan tua.


Bagaimana tidak? Dia sudah berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengecewakan tuan tua yang menaruh harapan tingg padanya, tapi ternyata harapan itu hanyalah sebuah candaan belaka.


Gu Lang terus mencoba dan mencoba lagi, hingga akhirnya pada percobaannya yang ke-sepuluh, Gu Lang pun berhasil memadatkan pil itu dan menghasilkan pil penguat level satu seperti dugaan tuan tua sebelumnya.

__ADS_1


"Akhirnya aku berhasil juga." Gu Lang mengambil pil penguat buatannya dengan hati senang, "Tuan tua, aku sudah berhasil membuatnya. Tapi maaf, aku butuh sepuluh kali percobaan, dan hanya menghasilkan pil level satu."


__ADS_2