
Gu Lang menguburkan semua mayat itu dalam satu lubang yang dia buat dengan memukulkan jurus pukulan Sembilan Matahari ke tanah, yang menciptakan sebuah cekungan besar nan dalam karena semakin bertambahnya basis kultivasi Gu Lang.
"Beristirahatlah dengan tenang, meskipun selama ini kalian tak pernah menyukaiku dan selalu menghina juga merendahkanku. Kalian tetaplah keluargaku, aku berjanji aku akan membalaskan dendam kalian."
Setelah selesai menguburkan semua mayat anggota keluarga Gu, Gu Lang pun kembali menyusuri setiap reruntuhan yang ada untuk mencari petunjuk yang tertinggal atau mungkin sengaja ditinggalkan oleh orang yang dengan teganya membantai habis keluarganya.
Gu Lang mengedarkan pandangannya dan mencari sesuatu yang setidaknya bisa memberitahunya siapa yang sudah melakukan ini semua. "Siapapun kalian, sekuat apapun kalian. Aku akan menghabisi kalian dengan tanganku!"
Hingga matanya menangkap sebuah benda yang mengkilap dan menyilaukan mata, dan saat Gu Lang mendekatinya di sana terdapat sebuah Plakat Giok milik keluaga Meng.
Gu Lang menyambar plakat giok yang biasa dimiliki oleh orang-orang yang berkuasa di dalam keluarga itu, seperti kepala keluarga atau tetua keluarga dan bisa juga anak dari kepala keluarga atau anak-anak dari para tetua keluarga itu.
"Meng Wan, sialan! Aku tidak membalas penghinaan yang kau berikan padaku saat pembatalan pertunangan itu, tapi kali ini kau sudah menyentuh batas kesabaranku. Aku akan membuatmu menyesal, dan merasa mati adalah hal yang paling indah!"
Kilatan kemarahan terpancar jelas di mata Gu Lang, tatapan tajamnya seolah mampi menghunjam dan membunuh siapapun yang melihatnya. Kini tujuan pertama Gu Lang adalah rumah keluarga Meng, dan malam ini juga Gu Lang akan langsung membalas perbuatan bejat manusia laknat itu.
Gu Lang pun memutuskan untuk mencari pakaian yang bisa dia pakai untuk malam ini, dia tak ingin ada yang tau jika dialah yang melenyapkan keluarga Meng kecuali orang-orang yang akan dia habisi nantinya.
Dia pun memutuskan untuk memakai jubah hitamnya dan topeng putih dengan ukiran warna emas, dan pedang iblis patah yang dia dapatkan dari pelelangan di paviliun Cuxiao hari itu. Tak lupa dia juga mengenakan jubah perang yang dia dapat dari ujian menara Langit, di balik jubah hitamnya.
"Hari ini hari dimana keluarga Meng akan jatuh, dan tidak pernah bangkit lagi!"
Gu Lang melesat cepat menggunakan langkah awan, tentu saja dengan tujuan rumah keluarga besar Meng.
__ADS_1
Dengan menggunakan langkah awan, tak butuh waktu lama bagi Gu Lang untuk sampai di rumah keluarga Meng. Gu Lang langsung melompat melewati tembok besar nan tinggi yang menjadi pagar rumah keluarga Gu.
Dia berjalan tanpa suara di atas atap rumah itu, dan samar-samar dia mendengar suara riuh dari dalam rumah keluarga Meng.
"Mari kita rayakan hari yang membahagiakan ini. Akhirnya Gu Xing Yan yang sombong itu sudah tidak bisa lagi berbangga diri sekarang."
Suara itu terdengar sangat familiar di telinga Gu Lang, siapa lagi pemilik suara itu kalau bukan Meng Wan sang mantan calon ayah mertua.
Dan ternyata saat Gu Lang mengintip melalui celah yang dia buat di atap rumah keluarga Meng, tepatnya di atas aula pertemuan keluarga Meng itu, di sana sedang berlangsung sebuah pesta yang begitu meriah.
Meng Wan dan beberapa tetua tengah menikmati arak ditemani oleh gadis-gadis cantik, yang dengan setia bergelayut manja di samping mereka.
Gu Lang masih setia mengamati dan mendengarkan apa yang sedang orang-orang itu bicarakan, sambil menahan amarah yang sebenarnya sudah siap meledak dan hanya tinggal menunggu waktu.
Semua orang yang ada di ruangan itu tertawa dengan penuh kemenangan, sungguh berbanding terbalik dengan gurat kemarahan di wajah Gu Lang yang tertutupi oleh topengnya.
"Dasar bedebah sialan!" Gu Lang sangat marah saat ini, terlebih saat dia mendengar ucapan yang dilontarkan oleh seorang tetua lainnya.
"Benar sekali tetua kedua, kita juga mendapatkan keuntungan dari peristiwa ini. Toko obat milik keluarga Gu sekarang menjadi milik kita."
Mereka pun kembali tertawa dengan begitu lepasnya, seolah apa yang mereka lakukan adalah sebuah hal yang tidak salah dan justru sangat membanggakan.
Tak ada raut penyesalan sama sekali di wajah para manusia bejat di dalam sana, yang ada hanya tawa dan kebahagiaan serta kepuasan karena bisa melenyapkan keluarga Gu.
__ADS_1
Gu Lang yang sudah tidak dapat lagi menahan amarahnya, akhirnya langsung menghancurkan atap ruangana itu dengan tinjunya. Dentuman keras yang terdengar dari arah atas, membuat semua orang di ruangan itu terlonjak kaget dan menatap pada sosok pria gagah berjubah hitam dengan topengnya, yang kini berdiri tegap di hadapan mereka.
"Lancang! Bajingan mana yang berani menyusup dan membuat onar di rumah keluarga Meng!?" seru seorang tetua sambil menunjuk ke arah Gu Lang dengan marah.
"Aku adalah malaikat maut yang di kirim untuk memberantas sampah masyarakat seperti kalian." Gu Lang berkata dengan penuh wibawa dan dengan begitu pandainya dia menyembunyikan amarah dalam hatinya.
Sontak saja semua orang di dalam sana tertawa lepas mendengar ucapan Gu Lang, yang mereka kira hanyalah sebuah omong besar belaka.
Pasalnya semua orang terkuat di keluarga Meng tengah berada di ruangan itu, dan Gu Lang hanya sendirian. Jadi bagaimana mungkin satu orang yang terlihat lemah di depan mereka itu, akan mampu menghabisi mereka.
"Hahaha... Apa kau lupa belum mencuci otakmu anak muda? Kau ingin melenyapkan kami semua seorang diri, dengan pedang patahmu itu?"
Tawa Meng Wan yang menggelegar membuat tetua lainnya ikut menertawakan kesombongan Gu Lang, yang mengatakan akan memusnahkan mereka semua tanpa sisa.
Namun seketika mereka terdiam, saat sosok di hadapan mereka tiba-tiba menghilang dan sudah berdiri di belakang salah satu tetua keluarga Meng yang bernama Meng Bo.
Mereka tak dapat melihat gerakan yang Gu Lang lakukan, yang tentu saja membuat mereka cukup terkejut. Namun yang lebih mengejutkan lagi, tiba-tiba saja kepala Meng Bo menggelinding dengan darah yang mengakir keluar dengan derasnya.
Bau amis darah tercium begitu menusuk hidung, dan membuat lantai aula utama keluarga Meng mendadak menjadi lautan darah.
"A-apa?! B-bagaimana bisa ada orang yang memiliki kecepatan semengerikan itu?" gumam tetua kedua, Meng Tuo Fu.
"Bedebah! Beraninya kau membunuh tetua keluarga Meng, dihadapanku! Aku Meng Wan akan membuatmu mati dengan cara yang paling menyakitkan!"
__ADS_1
Suara ancaman dengan nada kemarahan itu menggelegar di seluruh ruangan, aura panas juga tiba-tiba saja menyelimuti ruangan itu.