Penguasa Menara Langit

Penguasa Menara Langit
Episode 15


__ADS_3

Gu Lang memberi hormat pada tetua itu, kemudian melangkah menaiki sembilan ratus sembilan puluh sembilan anak tangga untuk sampai ke menara sembilan tingkat.


Namun ternyata, tangga itu juga bukanlah tangga biasa. Di setiap anak tangga, akan ada kekuatan yang menekannya. Semakin dia naik, semakin berat pula tekanan yang dia rasakan.


"Bahkan ujian yang sebenarnya belum dimulai, tapi ujian percobaannya sudah sesulit ini?"


Gu Lang terus melangkah maju dan menahan tekanan itu, dengan aura Black Shadow yang untungnya mampu menetralisir tekanan pada anak tangga itu.


Namun terus-menerus menggunakan black shadow, juga membuat energi Gu Lang cepat sekali terserap.


Hingga rasanya, Gu Lang ingin menyerah padahal dia sudah mencapai anak tangga ke sembilan ratus sembilan puluh.


Sisa sembilan anak tangga terakhir, namun tekanan yang diberikan rasanya seperti mengangkat sebuah gunung batu.


"Haish, bahkan baru ujian percobaan saja kau sudah kesulitan anak muda, sayang sekali pemuda sepertimu harus mati di sini."


Tetua penjaga yang ternyata tengah mengawasi Gu Lang pun, menghela nafas panjang saat melihat Gu Lang yang sudah kehabisan tenaga.


Namun tiba-tiba saja, sebuah sinar kemerahan menyala dan menyelimuti tubuh Gu Lang.


Dan tetua penjaga pintu Gerbang juga tak bisa lagi melihat kondisi Gu Lang, menggunakan jurus mata langit entah apa sebabnya.


Tapi yang jelas, seperti ada sesuatu yang menghalangi jurusnya.


Tetua penjaga pun hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Gu Lang, karena dia juga tak bisa berbuat apa-apa.


Membantu orang yang masuk ke menara sembilan tingkat, bisa di anggap sebagai kejahatan.


"Dimana ini?" Gu Lang melihat sekitarnya, namun yang dia liat hanyalah kegelapan, tidak ada secercah cahaya pun.


Namun tiba-tiba saja, dia terkejut saat mendapati dirinya sedang berada di tempat yang sangat familiar untuknya. Tempat dimana dia tinggal, tepatnya sebelum dia mati dan bereinkarnasi ke dalam tubuh itu.


"Bukankah tadi aku sedang berada di tangga percobaan? Kennapa aku bisa kembali ke rumah? Apa aku sudah mati, lalu reinkarnasi lagi ke duniaku sebelumnya?!"


Gu Lang berlari menuju cermin, dan mendapati pakaian yang dia kenakan juga bukan lagi pakaian dari dunia kultivator itu, melainkan pakaian yang biasa dia pakai untuk sekolah.

__ADS_1


Benar, seragam. Dia mengenakan baju putih abu-abu itu, lengkap dengan tas dan sepatu. Entah harus seperti apa Gu Lang bereaksi saat ini.


Haruskah dia senang karena bisa kembali ke dunianya, atau justru sedih karena harus kembali menjalani hidupnya yang menyedihkan seperti dulu lagi.


"Sadarlah! Kau harus sadar dan lepas dari dunia mimpi ini, atau kau benar-benar akan mati!"


Sebuah suara yang begitu besar dan menggelegar pun terdengar oleh Gu Lang, dan membuatnya mengerti dimana dia berada saat ini.


Dia masih ada di tangga percobaan, namun dia masuk ke dalam dunia mimpi yang sengaja menciptakan ilusi masa lalu orang-orang yang terjebak.


Dan jika orang itu tidak segera sadar dan lepas dari ilusi itu, maka orang itu akan mati.


"Sial! Aku harus segera keluar, tapi bagaimana caranya keluar dari sini!?"


Gu Lang berusaha mencari ingatan tentang array ilusi seperti ini, untuk menemukan kelemahannya.


"Benar, pusat array. Aku harus mencari dimana pusat arraynya berada!"


Gu Lang pun menggunakan persepsinya, dan menggabungkannya dengan aura Black shadowy hingga dia melihat sebuah titik putih yang merupakan titik lemah array ilusi itu.


Gu Lang mengumpulkan kekuatan pada kepalan tangannya, kemudian menghantam titik itu hingga retak.


Seketika itu juga, gambaran ilusi pecah dan menghilang lalu berganti dengan pemandangan gunung Tapak Naga.


Akhirnya Gu Lang bisa bernafas lega, karena dirinya bisa terbebas dari array ilusi dan mati di dalam mimpinya sendiri.


"Untungnya aku bisa terlepas, jika tidak aku pasti akan mati." Gu Lang bersyukur karena bisikan itu menyelamatkannya.


Tapi yang tadi itu suara siapa? Siapa yang sudah membantu Gu Lang? Tapi siapapun itu Gu Lang sangat berterimakasih padanya.


Gu Lang bersiap menggunakan jurus langkah awan untuk melesat maju dengan cepat, agar tak kehabisan tenaga saat ujian yang sebenarnya nanti di mulai.


Tapi ternyata hingga dia menginjakkan kaki di tangga terakhir, sudah tidak ada lagi tekanan dan cobaan lain.


Namun tentu saja Gu Lang tak boleh bersenang-senang terlalu dini, karena tangga itu hanya sebuah permulaan dan tantangan yang sebenarnya baru akan di mulai.

__ADS_1


Kini di hadapannya sudah ada sebuah menara emas yang menjulang tinggi, dengan aura mencekam yang menyelimuti bangunan itu bahkan dari jarak sejauh itu pun begitu terasa menekan.


Tapi bukan Gu Lang namanya, jika dia gentar hanya dengan tekanan yang tidak ada apa-apanya itu.


Gu Lang melangkah menuju menara itu dengan percaya diri. Dia yakin jika dirinya akan berhasil, dengan tekad dan perjuangan keras yang dia lakukan.


Ketika Gu Lang sudah berdiri di depan pintu besi tinggi dengan ukiran naga itu, tiba-tiba saja pintu itu terbuka dengan sendirinya.


Dan tentu saja Gu Lang berdecak kagum melihatnya, menurutnya hal itu sudah seperti fitur sensor otomatis yang canggih yang hanya ada di zaman tempat tinggalnya dulu.


"Lebih canggih daripada di zaman modern," gumamnya sambil melangkah masuk ke dalam menara itu.


Setelahnya pintu itu kembali tertutup dengan sendirinya. Gu lang berjalan menuju altar yang terletak di tengah ruangan luas itu, dan menunggu ujian yang harus dia lewati.


Altar bersinar dan memunculkan banyak sekali monster yang berada di level yang sama dengannya. Jika saja itu hanya satu atau dua, mungkin Gu Lang tak akan kerepotan.


Tapi saat ini dia dikelilingi oleh sembilan monster sekaligus, seolah melambangkan sembilan tingkatan di menara itu.


Dan kesembilan monster itu sepertinya mewakili sifat-sifat manusia. Seperti badak api yang biasanya impulsif dan suka menyerang tanpa pandang bulu, menggambarkan manusia yang seringkali bertindak tanpa berfikir.


Lalu ada kura-kura tempurung emas yang biasanya lebih mengacu padanya pertahanan.


Monster itu menggambarkan manusia tak pernah ingin tau dunia luar, mereka hanya terus berkutat di dalam cangkang megah bernama harta yang mereka anggap lebih penting dari segalanya.


Ada juga seekor ular derik sisik es, yang menggambarkan kelicikan.


Manusia seringkali rela melakukan cara apapun, demi mencapai tujuannya meskipun harus menyakiti orang lain tidak perduli itu kawan atau lawan.


Seekor singa bersayap, melambangkan kepemimpinan.


Seorang pemimpin sering kali lupa diri di saat mereka merasa sudah berada di atas yang lainnya, namun mereka menggunakan kekuasaan itu untuk berbuat hal yang tidak benar.


Mungkin memang seburuk itulah sifat-sifat manusia. Tapi ada juga segelintir orang baik yang masih tersisa di muka bumi ini, meskipun itu langka.


"Aku tidak akan takut, meskipun jika aku harus bertarung hingga tetes darah terakhir dalam tubuhku sirna."

__ADS_1


__ADS_2