
"Lalu kenapa jika kau tau, memangnya apa yang bisa kau laku--" Lagi-lagi Gu Lang melesat dan menebas tangan tetua pertama yang satu lagi, "Aaarrrrrggghhh!"
Suara erangan kesakitan tetua pertama, terdengar begitu memekakkan telinga. Dan kini, pak tua itu sudah kehilangan kedua tangannya. Bagi seorang kultivator, tentu saja tangan adalah anggota tubuh yang sangat penting dan kehilangan keduanya tentu sama saja dengan menjadi orang tak berguna.
Tubuh tetua pertama, kini ambruk karena kehilangan banyak sekali darah. Namun Gu Lang tampak sama sekali tak memperdulikan hal itu, seolah dia adalah iblis berdarah dingin yang tak memiliki hati apalagi belas kasihan.
"Apa kalian mendengarnya? Sepertinya itu suara tetua pertama!" ujar salah seorang penjaga gerbang di sana.
"Kau benar. Jangan-jangan tadi benar-benar ada perkelahian? Mungkin benar tetua pertama bertarung dengan tetua lainnya!" seru yang lainnya.
"Kita kesana sekarang, bawa setengah pasukan dari setiap pos. Sepertinya ini lebih gawat daripada sekedar konflik internal." Kali ini bukan lagi para penjaga biasa yang angkat bicara, melainkan pemimpin dari para penjaga benteng kediaman Xi itu.
Suara teriakan itu, ternyata juga didengar oleh para penjaga benteng kediaman Xi. Terlebih mereka tadi juga sempat mendengar kegaduhan sata Gu Lang menghancurkan ruang bawah tanah, dan kini teriakan itu semakin membuat mereka merasa ada yang tidak beres.
Mereka sama sekali tak tau jika saat ini, musuh mereka sedang menghancurkan keluarga Xi dari dalam saat mereka menunggunya di benteng luar kediaman Xi.
Akhirnya para penjaga itu langsung melesat menuju tempat suara teriakan tadi terdengar. Mereka semua berlari mengikuti komandan mereka yang menunggangi seekor Carberus api, atau monster anjing berkepala tiga dengan kekuatan api.
Dialah Xi Bong Quan, komandan dari seluruh pasukan milik keluarga Xi. Dia dipercaya berada di posisi itu bukan hanya karena basis kultivasinya yang tinggi, tapi juga karena dia adalah satu-satunya pengendali monster di keluarga Xi. Itulah kenapa dia bisa menunggangi monster mengerikan itu.
Mereka semua berhenti berlari, saat melihat bangunan kediaman utama keluarga Xi yang kini lebih layak disebut dengan reruntuhan.
__ADS_1
Namun yang lebih membuat mereka terkejut adalah sosok yang berdiri membelakangi mereka, dengan pedang yang ujungnya masih terlihat meneteskan darah segar. Juga dengan tangan kirinya yang memegang sebuah benda seperti... kepala!
"I-itu... itu kepala tetua pertama!" seru salah seorang dari mereka yang tentu saja membuat yang lain terkejut, namun juga penasaran dengan kebenarannya.
Tak terkecuali Bong Quan, dia juga sangat terkejut mendapati tetua pertama sudah tewas dengan cara yang begitu mengenaskan.
Dan tepat saat semua orang tengah tercengang dengan pembunuhan sadis di hadapan mereka itu, sang pemegang potongan kepala itu pun memutar tubuhnya.
Tampak banyak sekali cipratan noda darah yang mengenai wajahnya, namun sama sekali tak mengurangi ketampanan pemuda yang sangat mereka kenal itu.
Memangnya siapa yang tidak kenal dengan Gu Lang? Tuan muda sampah keluarga Gu, pemuda tak berguna yang selalu di anggap sebagai aib keluarga, seorang laki-laki yang di buang oleh tunangannya dengab cara yang sangat memalukan. Semua orang mengetahuinya, semua orang mengenalnya. Sayangnya, Gu Lang terkenal dengan reputasi yang buruk yaitu sebagai tuan muda sampah yang lemah.
Gu Lang menyeringai seram menatap para prajurit di hadapannya. Dia menyeka noda darah di wajahnya dengan lengannya, tanpa berniat melepaskan tangan yang kini masih mencengkram erat rambut kepala tetua pertama.
Takut? Tentu saja mereka semua takut. Mereka bahkan sudah merasa kalah sebelum perang. Jangankan perang melawan Gu Lang, tubuh mereka saja saat ini sudah bergetar hebat hanya dengan melihat Gu Lang yang mampu membunuh tetua pertama dan memporakporandakan kediaman Xi, meratakannya dengan tanah.
Di saat yang sama, seorang penjaga yang bertugas menjaga di kediaman pribadi kepala keluarga Xi, tampak berlari kearah mereka dengan terbesar. Dia berhenti tepat di hadapan Bong Quan dengan nafas tersengal dan wajah pucat karena panik.
"Ada apa?" tanya Bong Quan dengan tidak sabar, karena saat ini dia tak punya banyak waktu. Mungkin Gu Lang terlihat tenang saat ini, namun tak bisa menjamin jika dia tak akan menyerangnya secara tiba-tiba.
"K-kepala keluarga. D-dia sudah tewas, bersama para elite, mereka yang membunuh kepala keluarga dan bunuh diri dengan giok racun."
__ADS_1
Semua orang semakin terperangah mendengar kabar mengejutkan itu, kecuali Gu Lang yang memang sudah mengetahui semua rencana busuk tetua pertama.
"Jangan bercanda, sialan! Bagaimana mungkin para elite membunuh kepala keluarga? Lagipula giok racun bukan benda sembarangan, mereka tak mungkin memiliki benda seperti itu!"
"T-tapi tuan Bong Quan, memang itu kebenarannya. Kami sendiri yang memergoki para elite membunuh kepala keluarga dan mereka bunuh diri setelahnya."
"Sial, sebenarnya apa yang terjadi!?" seru Bong Quan sambil menatap tajam pada Gu Lang yang tengah tersenyum mengejek padanya.
"Biar kuberitahu padamu." Gu Lang mengangkat kepala tetua pertama dan berkata, "Orang inilah dalang dibalik pembunuhan kepala keluarga kalian, dan ya... aku tidak suka karena dia mencoba menjadikanku kambing hitam, jadi aku memenggal kepalanya," ujar Gu Lang sambil tersenyum smirk ke arah Bong Quan.
"Apa!?" Semua orang sama sekali tak percaya dengan apa yang Gu Lamg katakan. Terlebih lagi Gu Lang adalah musuh mereka saat ini, dan mereka tidaklah bodoh untuk percaya pada kata-kata musuh mereka.
Namun melihat wajah semua orang yang tengah menatapnya dengan tatapan meragukan, tiba-tiba Gu Lang justru tertawa dengan keras.
"Apa kalian berpikir aku bohong?" Gu Lang tertawa lagi, "Apa untungnya bagiku, sampai harus membohongi kalian. Kalian sendiri tau tujuanku datang ke tempat kalian bukan? Aku ingin melenyapkan kalian semua, jadi bagiku tidak masalah menonton pertunjukan bajing*an ini menghancurkan keluarganya sendiri. Toh tujuanku sama-sama sudah tercapai bukan?"
Semua orang pun langsung terdiam mendengar perkataan Gu Lang. Karena mereka tentu saja tau tujuan Gu Lang datang adalah untuk menghancurkam keluarga mereka, dan memang benar kalau tak ada untungnya bagi Gu Lang jika dia berbohong.
"Jadi kau juga sudah membunuh para tetua?" tanya Bong Quan.
"Sayangnya sudah." Gu Lang menjawab pertanyaan Bong Quan tanpa rasa bersalah sedikitpun.
__ADS_1
"Lalu sekarang apa maumu?"
Gu Lang tersenyum, "Mauku? Tentu saja membantai kalian semua!"