Penguasa Menara Langit

Penguasa Menara Langit
Episode 64


__ADS_3

"Untuk apa kalian membahas orang yang sudah mati?" sahut seseorang yang sepertinya merupakan pemimpin dari kelompok itu.


Brak!


Bong Quan yang kesal mendengar orang-orang itu membicarakan Gu Lang pun menggebrak meja dihadapannya dengan kasar, dan membuat pandangan semua orang yang ada di sana, beralih ke arah mereka. Dan tentu saja hal itu membuat Gu Lang membuang nafas kasar, karena niat hati ingin mencari informasi dan menyembunyikan jati diri, justru dirusak oleh Bing Quan yang impulsif.


Dengan cepat, Gu Lang menutup mulut Bong Quan, sebelum pemuda itu mulai mengeluarkan kata-kata mutiara dari mulutnya untuk para penggunjing itu.


Gu Lang membawa Bong Quan berdiri dan menunduk kearah orang-orang itu seolah meminta maaf atas kelakuan Bong Quan, meskipun ssbenarnya itu hanyalah sebuah alibi untuknya agar orang-orang tak melihat wajahnya dan mengenali dirinya sebagai Gu Lang.


"Maafkan dia, dia sedang mabuk." Tanpa banyak kata lagi, Gu Lang segera menghampiri seorang pelayan dan memintanya untuk mengantarkan mereka berdua ke kamar yang sudah mereka pesan, dan membawa makanan pesanan mereka ke dalam kamar saja karena sudah tidak mungkin lagi bagi Gu Lang untuk makan di area kedainya.


"Baik tuan, mari saya antarkan. Kamar anda sudah disiapkan." Gu Lang mengangguk dan mengikuti langkah sang pelayan menuju ke kamar yang disewanya, tanpa melepaskan tangannya dari mulut Bong Quan, meski sudah sejak tadi, Bong Quan terus memukul-mukul lengannya agar melepaskan bekapan di mulutnya itu.


Setelah mereka masuk ke dalam kamar penginapan, Gu Lang baru melepaskan tangannya dari mulut Bong Quan dan menatap tajam pada pria itu, membuat Bong Quan yang tadinya sudah bersiap untuk memarahi Gu Lang karena menutup mulutnya pun urung, hanya dengan melihat tatapan mata Gu Lang yang begitu tajam dan terasa menusuk.


"E-ekhem! Aku lupa, maafkan aku," ujarnya pada Gu Lang, yang membuat Gu Lang hanya bisa mengehla nafas panjang.

__ADS_1


"Jangan ulangi lagi. Aku tidak mau orang-orang tau jika Gu Lang masih hidup, setidaknya untuk saat ini." Gu Lang berjalan menuju ranjangnya, kemudian duduk bersila dan bersiap untuk berlatih. "Jika makanannya sudah datang, kau makanlah lebih dulu. Aku mau berlatih sebentar, dan jangan ganggu aku."


Bong Quan pun hanya bisa menganggukkan kepalanya, dan merebahkan dirinya di atas kursi kayu panjang yang tersedia di penginapan itu sambil menunggu makanan pesanan mereka datang.


Dia melirik Gu Lang yang tampak sudah memejamkam mata dengan posisi duduk bersila, setidaknya itulah yang dia lihat. Karena yang sebenarnya terjadi adalah Gu Lang sudah memasukkan kesadarannya ke dalam menara langit. Karena tidak mungkin baginya untuk membawa serta tubuhnya masuk, ke dalam menara langit sedangkan masih ada Bong Quan yang berada di ruangan yang sama dengannya.


"Luo Luo..." Gu Lang yang hanya sebuah kesadaran itu, datang ke menara langit dan melihat kondisi Luo Luo.


"Selamat datang, tuan. Maafkan Luo Luo karena tidak bisa menyambut tuan seperti biasanya."


Gu Lang hanya bisa menganggukkan kepalanya dan melihat dengab sendu, keadaan boneka jiwa itu. Tapi setidaknya, keadaan Luo Luo sudah lebih baik dari pada sesaat setelah dia menarik paksa Gu Lang, untuk masuk ke menara langit.


"Luo Luo, pelatihan seperti apa yang cocok untukku saat ini? Aku tidak bisa membawa masuk tubuhku, karena ada Bong Quan bersamaku."


Luo Luo pun berpikir sejenak, "Tuan bisa membawa beberapa buku jurus, keluar dari menara langit dan mempelajarinya. Atau tuan juga bisa berlatih teknik penempa jiwa yang sudah tuan dapatkan agar kekuatan jiwa tuan semakin kuat, karena kekuatan raga tuan sudah tidak perlu diragukan lagi. Tubuh tuan sudah jauh lebih kuat dari orang biasa. Berlatih alchemist juga bagus, karena tuan bisa menatih kultibasi dan juga kemamluan alchemist, lalu bisa menjual hasilnya untuk bekal perjalanan."


"Baiklah, aku akan memilih beberapa buku jurus di ruang jurus. Kau istirahatlah dan cepat pulihkan jiwamu."

__ADS_1


Luo Luo pun menganggukkan kepalanya dan Gu Lang bergegas menuju ruangan buku jurus untuk memilih beberapa buku yang akan dia pelajari, juga buku yang akan dia berikan pada Bong Quan untuk pria itu pelajari nantinya.


Gu Lang mengarahkan plakat giok miliknya dan membuka pintu ruangan buku jurus. Dia segera berjalan menuju rak buku, dimana ada buku-buku tingkat atas yang tergolong sangat langka di kota Biluo.


"Jurus ilusi?" Gu Lang mencoba membuka buku itu dan membacanya sedikit, tapi dia langsung tertarik dengan jurus itu. "Baiklah aku memilihmu."


Kemudian Gu Lang kembali berjalan menyusuri rak demi rak untuk mencarikan buku jurus yang cocok untuk Bong Quan yang memiliki keistimewaan yang bisa menjinakkan monster.


Hingga akhirnya pilihan Gu Lang jatuh pada sebuah buku berjudul, "Jurus Alunan Kematian." Gu Lang membaca buku itu, "Tidak seperti namanya, Jurus Alunan kematian tidak membutuhkan sebuah alat musik, melainkan sebuah pedang. Alunan pedang dengan ritme yang tepat, dan mendalam, akan mampu mengendalikan monster sesuai keinginan."


Gu lang tersenyum karena sudah menemukan apa yang dia butuhkan. Dia pun segera membawa kembali kesadarannya ke alam nyata, begitupula dengan buku itu yang sudah dia masukkan ke dalam cincin penyimpanannya.


Saat Gu Lang membuka mata, dia mendapati Bong Quan yang tengah menikmati makanannya dan segera ikut bergabung karena perutnya juga sudah minta di isi. Meskipun seorang kultivator bisa bertahan tanpa makan dan minum selama berhari-hari, tapi bagi kultivator dengan tingkatan yang masih rendah, tentu saja masih membutuhkan banyak tenaga untuk berlatih, tak terkecuali untuk Gu Lang.


"Kau sudah selesai berlatih?" tanya Bong Quan heran, karena Gu Lang baru saja mulai berlatih beberapa menit yang lalu, tapi dia sudah selesai. Meskipun sebenarnya, cukup lama Gu Lang berada di dalam menara langit untuk memilih buku untuk dirinya dan Bong Quan, tapi tidak terasa karena adanya perbedaan waktu di dua tempat itu.


"Ambillah." Gu Lang tidak menjawab pertanyaan Bong Quan, tetapi melemparkan buku jurus kelas atas itu pada Bong Quan, yang tentu saja membuat mata Bong Quan melebar sempurna tatkala melihatnya.

__ADS_1


Dia menatap tak percaya pada buku di tangannya. Bahkan hanya dengan auranya saja, dia tau itu merupakan buku jurus kelas atas. "I-ini..." Bong Quan beralih menatap Gu Lang yang tampak biasa saja, bahkan tengah asik menikmati makanannya, seolah benda yang dia berikan padanya itu bukanlah sebuah barang berharga.


__ADS_2