Penguasa Menara Langit

Penguasa Menara Langit
Episode 17


__ADS_3

Perlahan pandangan Gu Lang mengabur, hingga semuanya berubah menjadi gelap.


Namun saat dia kembali menbuka matanya, dia dikejutkan dengan tempat dimana dia berada.


Dia seperti berada di tempat kekosongan, hanya ada pusaran besar mengerikan yang seolah ingin menelan jiwanya.


Gambaran itu seolah menggambarkan kondisi, sebelum dunia ini terbentuk.


Bahkan Gu Lang sempat ketakutan hanya dengan melihat pusaran besar yang mengerikan itu.


"Masuklah ke dalam pusaran kekosongan. Tempa jiwa dan ragamu secara bersamaan, jika kau berhasil maka kau lulus."


Mendengar petunjuk itu, Gu Lang memberanikan diri untuk berjalan mendekat.


Tapi rasanya sangat berat, dan di saat inilah Gu Lang tau apa itu ketakutan, ketakutan yang bahkan belum pernah dia rasakan kini menghinggapinya.


Pusaran itu mulai menyedot jiwanya, membawanya masuk ke dalam lubang tak berdasar yang langsung mengoyak jiwanya secara perlahan.


Kesakitan yang sangat luar biasa pun Gu Lang rasakan, kesakitan tiada akhir itu terus saja mengoyak tubuhnya dan membuat Gu Lang semakin tersiksa.


Raga yang masih terbakar oleh api, dan jiwa yang tengah di koyak tanpa ampun membuat Gu Lang merasa sedang berada di neraka penyiksaan paling mengerikan.


Gu Lang merasa sepertinya dia sudah tidak kuat lagi, merasakan sakit yang begitu menyiksa itu.


Namun seketika bayangan wajah Xiao San dan Bao Feng terlintas dalam benaknya. Bayangkan orang-orang baik yang menderita karena ulahnya.


Tapi dia tidak boleh menyerah. Dia harus menyelesaikan semua ujian ini, dan mendapatkan obat untuk mempertahankan nafas kehidupan terakhir milik Xiao San.


Tekad Gu Lang kembali menguat.


"Ayo lakukan lagi! Rasa sakit ini tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan nyawa sahabatku!"


Setelah menyerukan hal itu, pusaran itu semakin menjadi dan terus mengoyak jiwa Gu Lang tanpa ampun.


Setelah beberapa lama tersiksa dalam pusaran itu, akhirnya jiwa Gu Lang kembali dan anehnya dia merasa jiwanya menjadi lebih kuat dari sebelumnya.


"Apa ini semacam mantra penempa jiwa?"


Gu Lang menatap ke arah pusaran yang tadi sempat menyiksanya.


Namun entah kesakitan seperti apapun itu, jika itu bisa membuatnya mendapatkan pil untuk mempertahankan kehidupan Xiao San.

__ADS_1


Maka akan dia lakukan, tak perduli apapun resikonya.


Akhirnya ujian ke-dua itu pun selesai. Dan seperti sebelumnya, Gu Lang juga mendapatkan hadiah karena sudah lolos dari ujian ke-dua.


Sebuah buku bertuliskan jurus penempa jiwa raga, seperti apa yang Gu Lang perkirakan sebelumnya.


*


*


Lantai ke-tiga.


Di lantai ke tiga ini, hanya ada sebuah boneka kayu besar yang berada di tengah-tengah altar itu. Dan Gu Lang sepertinya paham jika ujian kali ini, dia harus megalahkan boneka kayu itu.


Dan benar saja, sesaat setelah terdengar suara, "Kekuatan menentukan segalanya. Yang kuat memakan yang lemah, yang lemah hanya bisa pasrah."


Boneka itu pun hidup dan mulai menyerang Gu Lang.


Serangannya sangat cepat dan tepat, tidak membabi buta tapi serangannya justru seperti teratur dengan baik.


"Pukulan Sembilan Matahari!"


Ledakan besar terjadi saat Gu Lang meninju boneka kayu itu, asap mengepul membuat Gu Lang tak bisa melihat bagaimana kondisi boneka itu.


Justru Gu Lang terkejut saat melihat tangan boneka itu menyilang di depan dada, dia menangkis serangan Gu Lang.


Seolah boneka itu memiliki pikiran dan dapat membaca pergerakan Gu Lang.


"Sial, sama sekali tidak berefek! Apa boneka ini memiliki persepsi jiwa seperti manusia?"


Gu Lang berpikir keras, jika kondisinya terus seperti itu maka bisa di pastikan jika dia akan kalah.


Karena manusia membutuhkan energi untuk menyerang dan bertahan, sedangkan boneka itu tidak.


Selama tubuhnya masih bisa bergerak, maka selama itu pula dia masih bisa terus menyerang Gu Lang.


Serangan demi serangan terus berdatangan dari boneka kayu itu, membuat Gu Lang hanya bisa terus menghindar dan menghindar.


Di saat yang sama, Gu Lang juga harus mencari dimana titik kelemahan boneka kayu hidup itu.


Namun tak jua Gu Lang temukan kelemahan itu, hingga akhirnya Gu Lang mencoba menggunakan pedangnya.

__ADS_1


"Pedang tercabut satu nyawa melayang, jurus Pedang Kematian!"


Gu Lang melesat cepat ke arah boneka itu, namun betapa terkejutnya Gu Lang boneka itu justru menahan lengannya. Saat dia sudah berada tepat di depan boneka itu.


Dia bingung bagaimana bisa boneka itu memiliki kecepatan yang melebihi dirinya, yang bahkan sudah menggunakan jurus kematian dan langkah awan.


"Sial, dia seperti bisa membaca masa depan. Kecepatan reaksinya juga sangat mengerikan."


Boneka itu mengayunkan tangannya dan meniju perut Gu Lang, hingga ia terlempar dan menabrak dinding penghalang.


Namun anehnya Gu Lang tak merasakan sakit sama sekali, tubuhnya justru merasakan sesuatu sensasi yang menyegarkan meskipun ada sedikit darah yang ia muntahkan.


"Apa-apaan ini? Kenapa aku merasa seperti tubuhku dipenuhi kekuatan, saat mendapatkan pukulan itu?"


Gu Lang sepertinya mendapatkan jawaban dari pertanyaannya. Semua itu pasti karena mantra penempa jiwa raga, yang tadi dia dapatkan.


Gu Lang tersenyum dan ingin memastikan dugaannya itu.


Dia sengaja membiarkan dirinya menjadi samsak hidup, yang terus menerus menerima pukulan demi pukulan dari boneka itu.


Dan seperti dugaannya tubuhnya seperti bertambah dan terus bertambah kuat seiring dengan serangan dari boneka itu.


"Ini menyenangkan, ayo lagi!" serunya.


Hingga pukulan yang entah keberapa kalinya sudah tak lagi Gu Lang rasakan efeknya, meskipun Gu Lang tak merasakan rasa sakit di tubuhnya tapi dia tetap mengalami luka dalam. Hanya raganya yang semakin kuat.


"Pukulan Sembilan Matahari!"


Tak hanya sekali, Gu Lang melayangkan pukulan beruntun yang membuat boneka itu tak bisa berkutik.


Bahkan kekuatan pukulan Gu Lang juga meningkatkan banyak, hingga akhirnya boneka itu pun hancur berkeping-keping.


Gu Lang terkapar lemas, namun senyum di bibirnya tidak jua menghilang.


"Selamat, kau sudah menyelesaikan ujian ke-tiga. Ambil hadiahmu dan kau bisa melanjutkan ke lantai berikutnya."


Kali ini hadiahnya adalah sebuah pil regenerasi, sesuatu yang memang Gu Lang butuhkan saat ini untuk mengembalikan energi dan mengobati lula dalamnya.


Setelah meminum pil itu, Gu Lang melanjutkan langkahnya menaiki tangga menuju lantai ke-empat.


"Kali ini ujian apa lagi yang menungguku?" Pikir Gu Lang sembari terus melangkahkan kakinya menaiki tangga demi tangga itu.

__ADS_1


Yang pertama menguji cara dia berfikir untuk menemukan jalan keluar dari masalah. Lalu yang kedua adalah menguji jiwanya, dan yang ketiga adalah ujian untuk raganya.


Lalu setelah ini, ujian apa lagi yang sedang menunggunya di lantai ke-empat.


__ADS_2