Penguasa Menara Langit

Penguasa Menara Langit
Episode 16


__ADS_3

Namun tiba-tiba saja, sebuah suara menggema memenuhi ruangan itu dan mengatakan sebuah wejangan.


"Manusia memiliki banyak sifat buruk, tapi di balik itu juga ada sifat baik yang tersembunyi. Sifat baik melawan sifat buruk, maka semuanya akan terkendali."


Gu Lang berfikir jika kata-kata itu adalah sebuah petunjuk, petunjuk yang memberitahu bagaimana cara mudah mengalahkan monster-monster itu.


Dan Gu Lang tentu saja paham akan hal itu.


Dia tersenyum, "Sifat baik melawan sifat jahat, baiklah aku mengerti sekarang. Benar-benar pelajaran yang berharga."


Monster-monster itu pun mulai menyerangnya. Badak api yang paling impulsif adalah yang pertama melesat kearahnya, dengan tandukan cula yang pasti akan langsung membunuh musuhnya jika mengenai sasaran.


"Impulsif, aku harus melawannya lebih dulu."


Gu Lang mencoba memikirkan cara mengalahkan monster yang satu itu, karena kebalikan dari impulsif adalah berfikir sebelum bertindak.


Dan tentu saja Gu Lang tau, dimana kelemahan monster dengan serangan dan pertahanan yang cukup kuat itu.


Meskipun kulit badak terbilang keras, tapi kulit di bagian perut selalu lebih lemah di bandingkan dengan yang lainnya.


Gu Lang menggunakan jurus Pedang Kematian dan meluncur ke bagian bawah monster yang sudah berlari ke arahnya itu, hingga sebuah luka besar yang terbuka dan menganga tercipta di sana.


Namun tidak semudah itu untuk mengalahkannya, badak itu semakin marah dan terus menyerang dan menyerang tanpa ampun.


Tapi tekad Gu Lang juga tidak kalah kuatnya, dia terus melakukan cara yang sama karena monster tak memiliki pikiran jadi jurus Pedang Kematian bisa di gunakan sebanyak apapun.


"Sial! Benar-benar ujian yang sulit, padahal masih ada delapan monster lagi. Aku harus memikirkan cara tercepat, karena aku masih harus menghemat tenagaku untuk lantai selanjutnya!"


Benar, jika terus seperti itu maka Gu Lang tak akan bertahan lebih lama lagi. Satu lawan sembilan, tentu saja adalah hal yang tidak adil.


Jadi Gu Lang harus berpikir cepat dan menemukan solusi yang tepat, untuk menangani situasi ini.


"Sifat buruk melawan sifat baik, tapi bagaimana jika sifat buruk bertemu dengan sifat yang sama buruknya."


Akhirnya Gu Lang pun sadar, jika wejangan itu hanya jebakan. Karena Gu Lang melawan sifat buruk dengan sifat baik, semuanya jadi terkendali.


Tapi yang harus dia lakukan saat ini, adalah membuat kekacauan.


Seringai tipis terbit di bibir Gu Lang, saat dia menemukan cara tercepat menangani situasi tidak menguntungkan itu.

__ADS_1


Gu Lang mulai menyerang monster-monster itu dengan jurus Pedang Neraka ciptaannya. Dan benar saja, para monster tidak punya otak dan akan saling menyerang satu sama lainnya.


Sedangkan si penyebab kerusuhan itu, hanya perlu menghindar dari ledakan yang di sebabkan oleh benturan dua kekuatan yang sama kuatnya itu.


Gu Lang tersenyum karena pengetahuannya di kehidupan lalu, kini kembali berguna.


Dulu dia sering ditindas oleh teman-temannya, dan pada awalnya dia hanya bisa diam dan menyalahkan nasib kehidupannya yang memang seburuk itu.


Tapi seorang gadis cantik pernah mengatakan sesuatu, yang masih dia ingat sampai sekarang.


"Di saat kekuatan tak berguna, maka gunakanlah pemikiran. Orang-orang yang hanya bisa bahagia di atas penderitaan orang lain adalah orang-orang tidak berakal, maka jadilah orang yang berakal dan kalahkan mereka dengan apa yang tidak mereka punya."


*


*


Pertarungan sengit antar Monster itu pun, kini sudah berakhir dengan hasil yang sesuai perkiraan Gu Lang sebelumnya.


Semua monster itu kini sudah mati karena kebodohan mereka yang tak bisa membedakan mana kawan dan mana lawan.


"Selamat, kau sudah menyelesaikan tantangan pertama. Ambil hadiahmu dan kau bisa melanjutkan tantangan berikutnya."


Hingga cahaya itu akhirnya hilang dan di tempat jatuhnya cahaya tadi, seperti ada sesuatu yang memancarkan hawa yang cukup kuat.


Gu Lang berjalan mendekat untuk mengambil benda yang menjadi hadiahnya.


"Sebuah gulungan?" Gu Lang mulai membuka gulungan itu untuk melihat isi di dalamnya.


Akankah ada catatan tentang jurus yang kuat, atau resep pil dan semacamnya.


Tapi Gu Lang sangat terkejut saat mendapati tulisan yang sangat dia kenal. Huruf yang tertulis di sana adalah huruf yang dia kenal di kehidupan sebelumnya.


Di sana tertulis, hanya orang yang berasal dari tempat yang sama denganku yang bisa menggunakan gulungan ini.


"Jadi sebelum aku juga ada orang yang melintasi ruang dan waktu? Dan dia adalah seorang kultivator dewa?!"


Senang, tentu saja Gu Lang sangat senang saat mengetahui jika ada orang lain yang mengalami apa yang dia alami.


Tapi di detik berikutnya, Gu Lang kembali mendesah dan mengehela nafas panjang.

__ADS_1


Menara ini adalah peninggalan salah seorang kultivator dewa, jadi pemilik menara ini pastinya sudah mati.


Namun Gu Lang sangat terkejut, kala huruf-huruf yang tertulis pada gulungan itu merambat naik dan menempel ada tubuhnya. Huruf-huruf itu berubah menjadi warna emas.


"Aaarrrghh!"


Gu Lang kesakitan, sangat sakit hingga dia berteriak histeris. Huruf-huruf itu seakan sedang mengoyak jiwa dan raganya, hingga akhirnya penderitaan itu selesai saat sinar emas itu menghilang.


Dengan deru nafas yang masih tersengal-sengal, Gu Lang bangkit dan dengan panik menelisik tubuhnya.


Tapi tak ada perubahan apapun, selain munculnya sebuah tato kecil di tangannya yang bertuliskan Tubuh Wajra.


"Tubuh Wajra? Apa itu semacam ilmu memperkuat raga?"


Gu Lang berpikir keras untuk mencari tau apa yang terjadi, tapi tetap saja dia tak mengetahui maksud dari tato itu.


Bahkan dia tak pernah mendengar tentang pelatihan tubuh bernama Wajra itu, memang ada beberapa jenis pelatihan tubuh yang berfungsi untuk membuat ketahanan fisik menjadi lebih kuat.


Tapi sepertinya tidak ada pelatihan yang semacam itu.


Tak ingin berlama-lama di sana, Gu Lang akhirnya memilih untuk naik ke lantai selanjutnya.


Tempat dimana dia akan dihadapkan dengan ujian kedua yang pastinya akan lebih merepotkan dari ujian pertama tadi.


*


*


Lantai ke-dua, Menara sembilan tingkat.


Gu Lang berjalan ke tengah-tengah altar untuk menerima ujian keduanya. Namun betapa terkejutnya dia, saat kobaran api tiba-tiba saja membumbung tinggi dan membakar raganya.


"Aaarrggh"


Rasa sakit yang lebih menyakitkan dari pada saat huruf-huruf tadi masuk ke tubuhnya, namun ingin lari pun Gu Lang tak bisa.


Karena selain rasa sakit yang menggerogotinya itu, altar itu juga secara otomotif menjadi penjara setelah dia memasukinya.


Gu Lang terus berteriak histeris terlebih saat tubuhnya memancarkan sinar keemasan yang memunculkan huruf-huruf di seluruh tubuhnya, yang sepertinya mulai menyerap kobaran api itu.

__ADS_1


Seharusnya dengan api sebesar itu yang membakar raganya, Gu Lang memang seharusnya sudah mati. Tapi entah kenapa, tubuhnya justru menyerap api itu.


__ADS_2