Penguasa Menara Langit

Penguasa Menara Langit
Episode 23


__ADS_3

Ketua sekte terkejut mengetahui jika yang sudah menaklukkan menara sembilan tingkat, ternyata hanyalah seorang murid luar.


Namun saat Gu Lang menyebutkan namanya, ketua sekte nampak lebih terkejut dari sebelumnya.


"Jadi kau Gu Lang yang yang sering murid-murid luar bicarakan?"


"Iya, ketua sekte. Saya Gu Lang, yang sering orang-orang sebut dengan tuan muda sampah dari keluarga Gu."


Jawab Gu Lang yang mengepalkan erat tangannya, saat kembali mengingat masa dimana dirinya masih di juluki sebagai sampah, dan itu benar-benar membuatnya marah.


Ketua sekte pun mengangguk, "Jadi apa yang kau inginkan sebagai imbalan karena kau sudah berhasil menaklukkan menara sembilan tingkat?"


Ketua sekte sebenarnya sudah menebak, jika yang diinginkan Gu Lang pastilah kedudukan.


Entah itu sebagai tetua, atau justru ketua sekte dan bisa juga Gu Lang menginginkan harta benda yang berharga.


"Satu pil penyambung nyawa."


Namun mendengar perkataan Gu Lang, ketua sekte pun sontak saja kembali merasa di kejutkan olehnya.


Dia bahkan sempat mengira jika Gu Lang tengah bercanda, namun ketika dia melihat kejujuran di mata pemuda itu dan raut wajahnya tidak terlihat seperti orang yang tengah bercanda pun akhirnya membuka suara.


"Hanya itu?"


"Ya, ketua sekte. Sebenarnya yang saya butuhkan adalah pil kehidupan, tapi saya tau jika sekte tidak memiliki pil tingkat tinggi semacam itu jadi saya hanya meminta pil penyambung nyawa."


Ketua sekte pun tampak menganggukkan kepalanya mengerti.


Dia sudah bisa menebak jika Gu Lang pasti melakukan hal itu karena seseorang yang sangat berarti baginya, sedang berada dalam kondisi yang tidak baik-baik saja.


Akhirnya ketua sekte pun memerintahkan bawahannya untuk mengambil pil yang Gu Lang inginkan, dan membawanya ke aula itu.


Sedangkan dia masih penasaran dengan pemuda tampan di hadapannya, yang tak menginginkan kedudukan tapi justru hanya ingin menyelamatkan nyawa seseorang itu.


"Siapa yang sedang sakit?"


"Temanku, tetua sekte. Dia juga adalah seorang murid luar, dan dia terluka karena ulah saya jadi sudah menjadi tanggung jawab saya untuk membuatnya kembali membuka mata dan sehat seperti sedia kala."


Ketua sekte tersenyum mendengarnya, bahkan dia berpikir jika Gu Lang tadinya meminta posisinya maka dia tak akan ragu memberikannya.

__ADS_1


Karakter Gu Lang itu sangatlah mulia, sikapnya yang tenang dan tidak gegabah juga meningkatkan kesan dirinya adalah seorang yang pandai.


Setelah bawahannya membawakan pil itu, dia pun menyerahkan pil itu pada Gu Lang. "Ambillah."


Gu Lang pun menerima pil itu, tapi dirinya kembali menautkan alis saat melihat tidak hanya satu butir pil penyambung nyawa yang ada di tangannya, melainkan satu botol penuh.


Awalnya Gu Lang berniat mengembalikannya, karena yang dia butuhkan memang hanya satu butir.


Tapi ketua sekte justru menyuruhnya untuk menganggap itu sebagai bonus untuknya, dan Gu Lang pun akhirnya menerma pil itu.


"Jangan beritahukan pada siapapun tentang hal ini, Gu Lang. Di sekte ini tak hanya ada para murid-murid pelatihan, tapi juga ada beberapa mata dan telinga milik orang luar. Kau mengerti maksudku kan?"


Gu Lang mengangguk mantap, karena dirinya juga memang tidak berniat menyebar luaskan hal yang baginya tidak penting sama sekali itu.


Dia juga langsung mengerti dengan ucapan ketua sekte yang mengatakan di sekte itu ada mata-mata dari sekte lain, yang sengaja masuk ke sana untuk mendapatkan infromasi.


Dan alasan ketua sekte melarangnya untuk mengatakan perihal dirinya yang sudah menaklukkan menara sembilan tingkat, semata-mata hanyalah demi keselamatannya.


Karena jika musuh sekte mengetahui hal itu, Gu Lang pasti akan menjadi target buronan mereka.


"Saya permisi, ketua."


Gu Lang menangkupkan kedua tangannya dan sedikit membungkuk sebagai salam pada ketua sekte.


"Tetua Leng, apa kau juga memiliki pemikiran yang sama denganku tentang masa depan bocah itu?" tanyanya pada tetua Leng, setelah Gu Lang pergi dari sana.


Tetua Leng yang mengerti maksud ketua sekte pun, menganggukkan kepalan kemudian berkata.


"Masa depan yang cerah, bahkan pencapaian yang mungkin tidak bisa kita raih akan menjadi miliknya."


Ketua sekte tersenyum mendengarnya, karena apa yang tetua Leng katakan benar-benar sama dengan apa yang tengah dia pikirkan saat ini tentang masa depan Gu Lang yang cerah.


*


*


"Tetua agung, aku sudah membawa pilnya." Gu Lang langsung menyerahkan pil itu pada tetua agung, saat dirinya baru sampai di tempat Xiao San.


Tetua agung pun tersenyum melihat Gu Lang kembali dengan selamat, karena itu berarti dia sudah lolos.

__ADS_1


Namun entah kenapa dia merasa jika niat awalnya untuk menjadikan Gu Lang sebagai murid pribadinya setelah lolos dari menara sembilan tingkat itu, kini seolah menjadi tidak pantas untuk dia ucapkan.


"Kenapa aku merasa tidak pantas untuk menjadi gurunya?" batin tetua agung.


Dia memasukkan pil penyambung nyawa itu ke dalam mulut Xiao San, dan mengalirkan energi miliknya ke tubuh Xiao San untuk membantunya melebur pil itu.


Gu Lang berlutut di samping tubuh Xiao San, menggenggam tangan sahabatnya dengan erat.


"Aku akan mendapatkan pil kehidupan untukmu sesegera mungkin, bertahanlah sampai aku kembali."


Mendengar hal itu, membuat tetua agung mengerti alasan dirinya merasa tidak pantas menjadi guru dari Gu Lang.


Bakat, karakter dan takdir Gu Lang yang luar biasa, memang tidak selayaknya terkurung di sekte ini.


"Kapan kau akan pergi Gu Lang?"


"Hari ini, tetua Agung. Aku tidak mau membuang waktu, dan membuat Xiao San menderita lebih lama lagi."


Tetua Agung pun mengangguk dan memberinya izin untuk pergi. Gu Lang berpamitan, kemudian melesat cepat meninggalkan tempat itu.


*


*


Kini dia berdiri di depan gerbang masuk sekte, "Aku akan kembali lagi, secepatnya."


Gu Lang menaiki kudanya dan pergi dari sekte itu. Tujuannya adalah ibu kota negeri Canglan ini, kota Chuxuan.


Butuh berhari-hari bagu Gu Lang, untuk mencapai kota itu.


Tapi dengan adanya menara langit, dia tak perlu memusingkan tentang tempat bermalam. Meskipun jika dia harus bermalam didalam hutan sekalipun.


Dia terus memacu kudanya melewati beberapa desa kecil, dan baru berhenti setelah kudanya butuh istirahat.


Dia beristirahat di pinggiran hutan, dan masuk ke dalam menara langit.


"Selamat datang kembali, tuan." Sapa Luo Luo saat Gu Lang baru saja masuk ke sana.


"Luo, apa di sini ada ruangan untuk berlatih?"

__ADS_1


"Ada, tuan. Mari." Luo Luo membawa Gu Lang menuju ruang pelatihan.


Perhitungan waktu di menara langit dan dunia luar sangat berbeda. Berlatih di dalam menara langit selama satu hari, maka sama dengan berlatih di dunia luar selama satu jam.


__ADS_2