
Hampir satu jam mereka melakukan hal itu, dan tiba-tiba saja Xiao San batuk darah.
Namun darah yang keluar tidak berwarna merah melainkan hitam, yang menandakan jika itu adalah darah yang mengandung racun. Racun dari jarum racun yang orang licik itu, berikan pada Xiao San.
"Xiao San?!" Gu Lang senang melihat sahabatnya akhirnya membuka mata.
"Gu Lang, ternyata aku masih hidup ya? Ku kira sudah waktunya aku bertemu dengan Raja Yama," ujar Xiao San setelah dirinya membuka mata sepenuhnya.
Gu Lang hanya menjawab candaan Xiao San dengan senyum kecil, setidaknya kini dia bisa mengurangi rasa bersalahnya dengan membuat Xiao San kembali sehat. Meskipun dia tak bisa menebus kesalahannya, pada Bao Feng yang sudah mati di tangan orang licik itu.
Walaupun orang licik itu sudah mati dan Gu Lang juga membalaskan kematian Bao Feng, tetap saja hal itu tak dapat membuat sahabatnya itu hidup kembali.
Yang bisa Gu Lang lakukan hanyalah berdo'a, agar Bao Feng selalu di beri keselamatan dan kebahagiaan di kehidupan selanjutnya.
Xiao San mengedarkan pandangannya, seperti sedang mencari seseorang yang seharusnya ada di sana tapi justru tidak dia lihat sosoknya.
Gu Lang cukup tau siapa yang Xiao San cari, tidak lain adalah Luxia. Namun seperti janjinya pada Luxia, dia tak akan mengatakan yang sebenarnya jika saja Xiao San bertanya padanya.
Dan benar saja sesaat setelah dirinya tak bisa menemukan Luxia, dia puj bertanya pada Gu Lang.
"Dimana Luxia, kenapa dia tidak ada di sini?" tanya Xiao San, mencari gadis yang sudah dia anggap seperti adiknya sendiri itu.
"Luxia pulang kerumahnya. Dia bilang jika ada urusan keluarga yang tidak bisa dia tunda, dan dia memintaku menyampaikannya padamu saat kau selesai dengan pencerahanmu. Tapi kejadian itu justru terjadi, dan membuatku tidak sempat memberitahumu."
Xiao San pun mengangguk, walaupun dia sudah menganggap Luxia adalah adiknya. Namun jika itu berhubungan dengan keluarga Luxia, dia juga tidak berhak ikut campur karena dia bukanlah keluarga Luxia secara garis darah.
"Gu Lang, boleh aku tanya sesuatu padamu?"
__ADS_1
Gu Lang mengangguk mengiyakan, dan menunggu hal apa yang ingin Xiao San tanyakan.
Awalnya Gu Lang menduga jika Xiao San akan menanyakan hal lainnya tentang kepergian Luxia, namun ternyata dia salah.
"Bukankah seharusnya aku sudah mati di arena hidup mati? Tapi kenapa aku masih hidup, dan ada di sini?"
"Itu karena belum waktunya kau bertemu dengan Para Dewa, jadi mereka membiarkanmu hidup. Maka dari itu hiduplah dengan baik, berlatihlah dengan giat."
Bingyan dan tetua Agung tersenyum mendengar perkataan Gu Lang.
Meskipun Bingyan tidak seperti tetua Agung, yang mengetahui bagaimana Gu Lang mempertaruhkan nyawanya demi membuat Xiao San bisa membuka matanya lagi, namun dia bisa melihat ketulusan seorang teman dari sorot mata Gu Lang.
Hal itu juga membuat Bingyan semakin yakin, jika Gu Lang adalah orang yang baik. Meskipun dia belum terlalu mengenal siapa Gu Lang itu, bahkan dia hanya tau namanya saja dan itupun dari Xiao San yang menyebutkan nama Gu Lang.
Saat mereka sedang asik berbincang, tiba-tiba saja pintu kediaman itu diketuk oleh seseorang yang sepertinya tidak sabar untuk masuk, entah karena apa.
Gu Lang pun membuka pintu, dan dia sangat terkejut mendapati siapa yang ada dihadapannya kini.
"Bingyan, kaukah itu?" panggilnya.
"Kakak, apa ini benar-benar kau kak?" Bingyan langsung menerjang dan mendekap erat sosok yang da dihadapannya itu, "Aku tidak menyangka masih bisa bertemu denganmu, kak."
Kedua orang itu tengah terharu dan saling melepas rindu, yang tentu saja membuat ketiga orang pria di ruangan itu bingung dengan apa yang terjadi, dan apa hubungan antara dua orang itu.
Terlebih lagi Gu Lang, dia benar-benar tak menyangka jika dunia sesempit itu hingga dia malah membawa adik dari orang yang selalu menganggapnya musuh.
Benar, orang itu adalah Mu Yue. Gu Lang melupakan jika marga mereka sama, dan bahkan mereka juga sedikit mirip.
__ADS_1
Tapi Bingyan lebih lembut meskipun dia juga terkadang ketus dan dingin, tapi setidaknya dia tidak pemarah dan gegabah seperti kakaknya.
Mu Yue pun membawa Bingyan untuk duduk di kursi yang ada di ruangan itu, dan berbincang tentang bagaimana kehidupan mereka selama ini.
Juga tentang bagaimana bisa Bingyan sampai ke sekte ini, dan bahkan bersama dengan orang yang sangat dia benci.
"Bingyan, bagaimana bisa kau sampai di sini dan bahkan kau datang bersama pria mesum itu?" Mu Yue melirik sinis ke arah Gu Lang, yang hanya bisa memutar jengah bola matanya dan kembali duduk di samping Xiao San.
"Orang mesum? Kakak mengenal Gu Lang? Dialah yang sudah menyelamatkanku, kak. Jika saja tidak ada Gu Lang, mungkin aku sudah ditangkap dan dibawa pulang untuk dinikahkan."
Mu Yue mengepalkan erat-erat tangannya, mengetahui jika ayahnya tak juga kunjung berubah bahkan setelah kepergiannya.
Alasan Mu Yue berada di sini juga karena awalnya dialah yang akan di jodohkan dengan orang pilihan ayahnya, demi menjalin hubungan kerja sama.
Mu Yue menolak keras permintaan ayahnya itu, meski sang Ayah mengancam akan mengusirnya dari keluarga Mu jika dia tetap menolak.
Tapi dengan sifat keras kepala seorang Mu Yue, dia lebih memilih untuk pergi dari keluarga Mu seperti ucapan ayahnya.
Tapi dia lupa jika dia masih memiliki adik, yaitu Bingyan. Dan dia tidak sadar, jika apa yang dia lakukan justru berimbas ada Bingyan yang harus menggantikan posisinya untuk menikahi pria itu.
Dia merasa sangat bersalah pada Bingyan, karena semua itu terjadi karena keegoisannya.
Jika saja dia tak melarikan diri saat itu, Bingyan tidak akan diminta untuk menggantikan posisinya dan Bingyan tidak perlu kabur dari rumah seperti ini.
Jika saja Bingyan mengalami hal buruk di tengah jalan, Mu Yue pasti tak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.
Dia pun menatap Gu Lang, "Terimakasih sudah menyelamatkan adikku, aku tidak tau bagaimana jadinya jika sampai sesuatu yang buruk terjadi pada adikku."
__ADS_1
Gu Lang bingung sekaligus terkejut mendengarnya. Ternyata seorang Mu Yue, gadis cantik dalam daftar sepuluh gadis tercantik di sekte Bulan sabit yang terkenal galak itu ternyata bisa mengucapkan kata terimakasih.
"Karena kau sudah menyelamatkan adikku, urusan kita aku anggap selesai. Tidak ada dendam lagi diantara kita, dan lupakan saja kejadian dimasa lalu." Meskipun Mu Yue terkanal galak, dia bukanlah orang yang tidak tau berterimakasih.