Penguasa Menara Langit

Penguasa Menara Langit
Episode 63


__ADS_3

Dia berencana untuk memberitahu teman-temannya jika dia berhasil membalaskan dendamnya dan kembali dengan selamat, agar mereka tidak panik saat mendengar kabar tentang kematian Gu Lang, yang pastinya akan segera tersebar luas di kota Biluo.


Seperti yang Luo Luo katakan tadi, saat dia telah menarik paksa Gu Lang masuk ke menara langit. "Lebih baik Gu Lang mati untuk saat ini, tuan." Gu Lang sangat terkejut saat mendengar ucapan Luo Luo yang dia pikir menyuruhnya untuk mati saja karena terlalu lemah. "Bukan begitu maksud saya, tuan. Maksud saya, identitas anda.yang mati, bukan anda." Gu Lang tak jadi melontarkan kata-kata kekesalan yang tadinya sempat menumpuk diujung lidahnya saat dia salah mengartikan ucapan Luo Luo, yang sebenarnya memang terdengar begitu ambigu.


"Aku masih belum paham." Gu Lang menatap Luo Luo yang sedang berbaring di atas ranjang, karena luka yang cukup parah pada jiwanya, sehingga dia butuh menyerap sisa jiwa yang ditinggalkan oleh tuan tua di kamar itu, yang hanya bisa diserap olehnya.


"Orang misterius di balik pembantaian keluarga anda sepertinya bertujuan untuk memancing anda datang ke sarang mereka, tuan. Karena itulah mereka meninggalkan surat yang mengatakan jika ayah tuan ada di tangan mereka, tanpa adanya petunjuk lain. Bahkan saya juga yakin, orang itu tau kalau tuan akan mampu menghabisi orang-orang dari lima keluarga besar dan mendapatkan petunjuk tentangnya."


Gu Lang terkesiap saat mendengar penuturan Luo Luo yang membuatnya tak bisa mencerna semua itu secara langsung.


Bagaimana bisa mereka memperkirakan semuanya dengan begitu tepat? Bagaimana bisa mereka begitu yakin jika Gu Lang akan membalas dendam pada kelima keluarga besar? Bagaimana mereka bisa begitu yakin jika Gu Lang akan mampu membantai habis kelima keluarga besar dan mendapatkan informasi tentangnya? Lalu apa tujuan mereka sebenarnya? Kenapa mereka ingin memancingnya datang?


Sangat banyak pertanyaan yang datang silih berganti menghampiri otaknya. Namun Gu Lang masih belum menemukan satu alasan pun, yang bisa membuat seorang pemuda yang dianggap sebagai sampah sepertinya menjadi incaran para orang-orang besar itu.


Namun melihat dari segi Luo Luo yang memang mengetahui banyak hal, dia pun percaya dan akhirnya memutuskan untuk membuat sosok Gu Lang, mati bagi semua orang kecuali bagi orang-orang yang dia percayai tentu saja. Karena dia tak ingin membuat teman-temannya sedih dan panik mendengar kabar tentang kematiannya.


Perjalanan dari kediaman Yin menuju ke sekte bulan sabit, memang cukup jauh, karena posisi kediaman keluarga Yin yang memeng ada di sisi paling utara sedangkan sekte bulan sabit berada di sisi paling selatan, di kota Biluo.


Tak ada kata bersantai dan beristirahat dalam kamus Gu Lang, karena ayahnya tak bisa menunggu terlalu lama. Dia harus segera menyelamatkan ayahnya yang masih ditawan oleh orang misterius itu, yang entah bagaimana keadaannya saat ini. Tapi setidaknya, dia yakin jika ayahnya masih hidup untuk saat ini setelah mendengar ucapan Luo Luo tadi yang mengatakan.

__ADS_1


"Tuan tenang saja. Kalau mereka benar-benar ingin anda datang ke sana, maka mereka pasti akan membiarkan sandera tetap hidup untuk memastikan agar tuan benar-benar datang seperti yang dia inginkan."


*


*


Sudah setengah hari penuh, kedua pemuda itu terus melaju dengan kecepatan tinggi untuk segera sampai ke sekte bulan sabit.


"Gu Lang, bisakah kita istirahat di desa depan itu malam ini?" tanya Bong Quan yang masih memacu kudanya mengimbangi kecepatan Gu Lang, yang menunggangi Pang.


Gu Lang menghela nafas kasar mendengar pertanyaan Bkng Quan itu, "Ternyata stamina dari ketua pasukan keluarga Xi sangatlah buruk. Pantas saja kalian tidak pernah berkembang, padahal kalian menguasai persenjataan." Ujar Gu Lang dengan sedikit ketus, meski sebenarnya itu hanya sebuah candaan. Tapi wajah Gu Lang yang selalu datar itu, membuat candaannya terdengar hambar dan bukan lagi sebuah lelucon ketika sampai ke telinga orang lain.


Baru saja Gu Lang akan menyangkal jika dirinya tak butuh makan dan minum, perut durjananya sudah lebih dulu memberitahukan kebenarannya.


Bong Quan tertawa renyah saat mendengar suara perut Gu Lang yang suaranya sudah mengalahkan radio rusak tercebur air.


"Hey, apa yang kau tertawakan? Itu sama sekali tidak lucu!" bentak Gu Lang yang berusaha membuat Bong Quan takut, tapi sayangnya Bong Quan terlihat sama sekali tidak perduli sambil masih terus berusaha menahan tawanya yang tak kunjung berhenti.


Meskipun wajah Gu Lang tampak datar, tapi sebanarnya, dia juga ikut tersenyum dalam hati mendengar tawa Bong Quan itu.

__ADS_1


"Aku lupa kapan terakhir kali aku tertawa selepas itu dengan tulus, bukan tawa jahat yang datang karena sebuah dendam atau tawa miris karena keadaan." Batin Gu Lang yang mengingat segala kejadian yang pernah dia alami, entah itu di kehidupan sebelumnya, atau juga di kehidupan ini.


Karena dia selalu hidup dalam kekurangan, keputusasaan, penghinaan dan juga ejekan, hingga dia bahkan lupa bagaimana caranya untuk tertawa dengan tulus. Meskipun dia memaksakan diri untuk tertawa, yang dia perlihatkan hanyalah sebuah tawa penutup luka dan dendam yang membara.


Akhirnya, Gu Lang dan Bong Quan pun memutuskan untuk bermalam di desa yang mereka lalui. Mereka mencari sebuah kedai makan yang juga menyediakan tempat istirahat bagi para pendatang seperti mereka itu.


"Selamat datang tuan-tuan. Ada yang bisa saya bantu?" Seorang pelayan menunduk hormat saat Gu Lang dan Bong Quan yang sudah mengenakan jubah hitam dengan tudung, untuk menutupi wajah mereka.


"Aku ingin satu kamar ukuran sedang, dengan dua ranjang. Juga berikan aku makanan terbaik yang kalian punya." Jawab Gu Lang yang membuat pelayan itu langsung menganggukkan kepalanya dan menyuruhnya menunggu.


Gu Lang mengajak Bong Quan untuk menempati meja yang berada di sudut, karena disanalah tempat paling strategis untuk mencari informasi.


Beberapa orang pria, yang jika dilihat dari seragamnya adalah prajurit dari kediaman walikota, kota Biluo.


"Apa kalian sudah dengar? Kemarin malam, semua petinggi di lima keluarga besar mati ditangan pendekar topeng emas, si sampah Gu Lang itu."


"Tentu saja aku juga sudah mendengarnya. Tapi aku masih tidak percaya kalau itu benar-benar Gu Lang, yang terkenal tidak berguna itu."


"Untuk apa kalian membahas orang yang sudah mati?" sahut seseorang yang sepertinya merupaka pemimpin dari kelompok itu.

__ADS_1


Brak!


__ADS_2