
"Haish... Sudahlah aku lelah bermain-main," batin Gu Lang, "Lima ratus ribu!"
Seketika itu juga suasana menjadi sangat riuh, padahal pil itu bukanlah barang lelang utama tapi harganya sudah sangat tinggi.
Dan akhirnya orang di ruangan nomor dua pun mengalah dan tidak lagi berebut dengan Gu Lang.
Setelah mendapatkan apa yang dia mau, Gu Lang tidak lagi tertarik dengan barang-barang lelang setelah itu.
Dia hanya duduk diam dan mengamati jalannya pelelangan, hingga acara itu selesai.
Beberapa barang yang dilelang setelah itu pun semuanya adalah barang bagus, namun Gu Lang sepertinya tidak terlalu tertarik.
Sehingga dia hanya diam dan menonton saja, sambil menunggu barang lelang miliknya di bawa.
"Barang lelang kali ini adalah dua buku tingkat kuning. Buku jurus Tapak Naga dan Jurus Amukan naga, jurus ini adalah jurus yang sangat dahsyat dan mengerikan. Seorang kultivator kuat yang misterius membawanya ke paviliun Cuxiao adalah sebuah kejutan, harganya dimulai dari lima ratus ribu tael."
Keadaan pun riuh kembali, pasalnya tak ada pemberitahuan akan adanya barang lelang berupa dua buku jurus tingkat kuning itu.
Dan buku tingkat kuning memang sudah termasuk langka di kota Chuxuan ini, tentu saja buku itu langsung menjadi barang yang diperebutkan dengan cukup sengit.
"Enam ratus ribu tael."
"Tujuh ratus ribu tael."
"Delapan ratus ribu tael."
"Dua juta tael!" Semua orang terdiam saat orang di bilik nomor dua kembali mengangkat papan miliknya, dan menawarkan harga yang tinggi.
__ADS_1
Gu Lang sendiri juga sangat terkejut mendengar barang miliknya ditawar dengan harga setinggi itu, padahal itu bukanlah barang lelang utama.
Tapi saat dia mendengar beberapa orang di bawah sana bergunjing, sepertinya dia mengetahui alasannya.
Alasannya adalah keluarga dari orang dibalik bilik nomor dia itu adalah keturunan dari leluhur naga, dan dua buku jurus itu adalah bagian dari jurus keluarga mereka yang tidak lengkap atau hilang ribuan tahun lalu.
Dan karena itulah dia tidak segan-segan mengeluarkan harga tinggi untuk dua buku itu.
"Mungkinkah jika kedua buku itu sebenarnya hanyalah potongan kecil dari buku jurus naga yang sebenarnya? Jika itu benar, maka setidaknya dua jurus itu bisa menjadi Jurus kelas atas jika di gabungkan dengan jurus naga lainnya."
Hingga akhirnya barang lelang terakhir pun dikeluarkan, dan buku itu terjual dengan harga satu juta lima ratus ribu tael emas.
Pelelangan pun selesai, dan seorang pelayan masuk ke ruangan Gu Lang untuk memberitahunya jika pemilik paviliun menunggunya di ruangan pribadi untuk membahas masalah hasil lelang.
Saat Gu Lang masuk ke dalam ruangan pribadi milik ketua paviliun, gadis itu ternyata sudah menunggunya di sana dan bersiap untuk memberitahunya tentang hasil lelang. Setelah Gu Lang duduk, dia pun mulai berbicara.
"Begini tuan, dua buku milik anda terjual seharga dua juta tael emas. Dan dua barang yang anda beli senilai, lima ratus lima puluh tael emas. Sepuluh persen hasil penjualan adalah hak paviliun Cuxiao, jadi sisa penjualan milik anda adalah satu juta dua ratus limah puluh ribu tael, tuan." Gadis itu menjelaskan segalanya dengan rinci, "Ini barang milik anda, dan ini sisa uangnya. Apa ada hal lain yang bisa saya bantu, tuan?"
Gu Lang tau jika identitasnya sebagai pemilik dua buku tingkat kuning yang dilelang tadi, pastinya sudah menyebar ke telinga beberapa orang penting yang datang.
Pasalnya saat dia keluar dari ruangan pribadi ketua paviliun itu, dia melihat secara tidak sengaja jika ada beberapa orang yang sesang menunggunya datang.
Dan itulah alasan Gu Lang memilih pergi melalui pintu belakang, yaitu mengindari kemungkinan timbulnya masalah.
Tanpa menunggu lama, Gu Lang segera memacu kudanya dan meninggalkan kota Chuxuan.
Karena Xiao San sangat membutuhkan pil kehidupan yang ada di tangannya saat ini, takutnya jika terlalu lama maka Xiao San sudah tidak mampu lagi untuk bertahan dan menunggunya datang.
__ADS_1
Gu Lang bahkan memacu kudanya dengan kecepatan penuh, dan baru beristirahat saat melihat kudanya sudah tak mampu lagi berlari karena butuh istirahat makan dan minum.
Gu Lang memilih untuk beristirahat di pinggiran hutan, namun dia dikejutkan dengan suara ribut yang sepertinya berasal dari sebua pertarungan.
"Nona, lebih baik anda menyerah dan ikut kami menghadap tuan muda. Tidak ada gunanya anda terus melawan, itu hanya akan menghabiskan tenaga nona."
Gu Lang yang penasaran pun mencoba mendekat ke arah sumber suara, untuk mencari tau hal apa yang sedang terjadi hingga menimbulkan keributan semacam itu.
Dari kejauhan Gu Lang dapat melihat, seorang gadis cantik yang sudah terluka di beberapa bagian tubuhnya sedang dikepung oleh beberapa pria.
Meskipun gadi itu sudah mendapatkan luka di beberapa bagian tubuhnya, dia masih tak ingin menyerah dan bahkan masih rerus melawan pria-pria itu sekuat tenaga.
Saat gadis itu menoleh kearah Gu Lang seolah mengatahui keberadaannya Gu Lang pun terkejut, bukan karena terkejut gadis itu mengatahui kehadirannya tapi lebih karena wajah gadis itu.
"D-dia? Bagaimana bisa dai berada di sini?" Gu Lang tak dapat mempercayai apa yang dia lihat itu, bagaimana bisa gadis di kehidupan sebelumnya kini ada didepan matanya.
"Lebih baik aku mati di sini daripada harus menjadi mainan bajingan menjijikkan itu!"
"Hahaha... Percuma saja nona, kau tidak akan bisa melawan kami semua dengan keadaanmu yang seperti itu."
"Jika kekuatan sudah tidak dapat lagi digunakan, maka otak yang akan berbicara. Jika otak tak mampu lagi mengatasinya, maka mati adalah pilihan yang terbaik."
Gu Lang semakin terkejut mendengar kata-kata yang keluar dari mulut gadis itu, meskipun kata-katanya tidak sama persis tapi intinya tetap sama. Dan cara dia mengucapkan kata-kata itu, serta suaranya bahkan juga sangat mirip. Hingga tanpa pikir panjang lagi, Gu Lang langsung melesat maju dan berdiri di depan gadis itu.
"Mundurlah." Titah Gu Lang pada gadis itu, yang dituruti olwh gadis itu.
"Siapa kau!? Jangan ikut campur, jika kau masih ingin hidup!" Si pemimpin pria-pria itu menunjuk Gu Lang dengan pedang ditangannya, dan memerintahkan Gu Lang untuk tidak ikut campur dalam urusan mereka.
__ADS_1
Namun tentu saja hal itu tak mempan untuk Gu Lang, yang justru hanya berdiri tegak tanpa menunjukkan sedikitpun rasa takut terhadap ancaman mereka.
Bahkan sesaat setelah itu Gu Lang mengangkat sudut bibirnya, dan entah kenapa hal itu membuat mereka bergidik ngeri melihatnya.