Penguasa Menara Langit

Penguasa Menara Langit
Episode 68


__ADS_3

"Tunggu!" Tuan Zong dan Gu Lang sama-sama menatap lekat kearah Bong Quan dengan wajah yang penuh dengan tanda tanya. Dan Bong Quan pun segera turun dari punggung Pang, lalu berlari menghampiri tuan Zong, "Apa anda adalah tuan Zong, sang master array yang terkenal itu?" tanya Bong Quan dengan wajah yang terlihat sangat antusias.


Gu Lang mengerutkan dahinya, karena dia memang tidak mengenal siapa tuan Zong itu. Dan di dalam ingatan Gu Lang yang asli, juga tak ada sama sekali informasi tentang si kakek tua itu.


Sedangkan tuan Zong hanya tersenyum pada Bong Quan yang ternyata mengenalnya, "Ternyata kau mengenaliku anak muda? Tapi sayangnya temanmu sepertinya memang tidak mengenaliku." Dia melirik sekilas kearah Gu Lang kemudian berpamitan dan segera pergi dari sana.


Sedangkan Gu Lang dan Bong Quan juga kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju sekte bulan sabit, dan sepanjang perjalanan, Bong Quan tak henti menanyakan pada Gu Lang kenapa dia menolak tawaran langka dari tuan Zong tadi hingga membuat Gu Lang jengah mendengarnya.


"Gu Lang, kenapa kau menolak tawaran itu? Apa kau tau..."


Belum sempat Bong Quan menyelesaikan ucapannya, Gu Lang sudah lebih dulu menyelanya dan berkata, "Aku tidak tau dan tidak mau tau apapun tentang pak tua itu." Jawab Gu Lang, "Karena sekuat apapun dia, dia tak mungkin tak lebih kuat dari tuan tua." Sambungnya yang tentu saja hanya dalam hati.


Bong Quan pun hanya bisa menarik nafas panjang, karena membuat Gu Lang berubah pikiran sepertinya memang sangat mustahil.


*


*


Setelah perjalanan yang melelahkan, akhirnya Gu Lang dan Bong Quan pun tiba di depan gerbang sekte bulan sabit.


Gu Lang sengaja menghentikan kudanya di tempat yang sedikit jauh dari gerbang masuk sekte, karena dia harus masuk ke dalam sana tanpa dilihat oleh para penjaga. Meski dia adalah murid dari sekte bulan sabit, tapi dia sudah bertekad untuk membuat Gu Lang, mati di mata semua orang untuk sementara waktu.


"Tunggu aku di sini, aku tidak akan lama. Dan mulai sekarang kau harus ingat, jangan pernah memanggilku dengan nama Gu Lang. Panggil aku Hao Feng."

__ADS_1


Bong Quan pun mengangguk patuh kemudian duduk bersila dan membaca buku pemberian Gu Lang, sambil menunggu Gu Lang selesai dengan urusannya.


Gu Lang melesat secepat kilat menggunakan langkah awan, membuat kedua penjaga gerbang itu kebingungan karena merasakan adanya hembusan angin namun hanya sekelebat saja, tapi mereka juga tak melihat adanya sesuatu yang mencurigakan sehingga mereka pun memilih untuk tidak memperdulikannya.


Di dalam kediaman Xiao San...


"Kak, apa Gu Lang benar-benar akan kembali dengan selamat?" tanya Bingyan pada Mu Yue.


Sejak kepergian Gu Lang, mereka memang tinggal di tempat Xiao San, bersama dengan tetua Agung untuk menjaga Xiao San seperti permintaan Gu Lang sebelum dia pergi.


"Tenanglah. Bocah itu sangat kuat, jauh lebih kuat dari yang kita duga. Jadi kau tak perlu mencemaskannya, Bingyan." Mu Yue mengelus pelan puncak kepala sang adik untuk menenangkannya, meskipun dia tak tau kenapa adiknya yang biasanya cuek dan tak pernah perduli pada orang-orang disekitarnya selain dirinya itu, bisa sekhawatir itu pada Gu Lang, orang yang baru dia temui dan pernah membantunya satu kali.


Di saat kakak adik itu tengah berbincang, suara pintu yang tiba-tiba saja terbuka, membuat tiga orang yang ada di ruangan itu menoleh kearah sumber suara.


"Gu Lang?" lirih Bingyan yang entah kenapa sangat yakin jika pria dihadapannya itu benar-benar Gu Lang.


Dan tentu saja Gu Lang cukup terkejut karena Bingyang bisa mengenalinya meski dia sudah menggu akan jurus penyamaran itu.


"Iya, ini aku. Aku tak punya banyak waktu. Aku hanya ingin memberitahu kalian, kalau aku selamat dan masih hidup juga sudah berhasil menghancurkan lima keluarga besar di kota Biluo. Tapi aku membuat diriku mati di mata orang-orang, dan hidup dengan wajah serta identitas yang baru, setidaknya untuk sementara waktu ini." Gu Lang menghilangkan jurus penyamarannya untuk membuat teman-temannya percaya dengan apa yang dia katakan.


Mu Yue dan Xiao San pun terbelalak melihat Gu Lang dapat merubah wajahnya dalam hitungan detik saja.


"Jadi ini benar-benar kau?" Xiao San menggenggam kedua bahu Gu Lang dengan tatapan bahagia dan rasa syukur tak terhingga, "Apapun alasanmu melakukan ini, tapi aku akan mendukungmu meski aku tak bisa membantumu menyelesaikan masalahmu."

__ADS_1


Gu Lang mengangguk dan berpamitan dengan Xiao San. Tapi saat dia baru saja akan beranjak pergi, Bingyan justru menghentikan langkahnya.


"Tunggu, Gu Lang." Gu Lang pun menengok ke arah Bingyan yang berlari kecil menghampirinya hingga berhenti tepat di hadapannya kemudian berkata, "Biarkan aku ikut. Mungkin aku tak akan banyak membantu, tapi aku janji aku tak akan menyusahkanmu."


Gu Lang dan Mu Yue tentu saja terkejut dengan keinginan Bingyan.


"Bingyan, apa kau serius? Gu Lang pasti akan pergi ke tempat yang berbahaya, makanya dia menggunakan identitas lain." Ujar Mu Yue yang benar-benar tepat.


"Tidak kak, aku tetap harus ikut. Firasatku mengatakan jika Gu Lang akan membutuhkanku, nanti."


Setelah berbagai pertimbangan, akhirnya Gu Lang mengiyakan permintaan Bingyan begitupula dengan Mu Yue yang terpaksa memberikan ijin pada adiknya itu karena Bingyan yang terus bersikeras. Dan dia tau jika Bingyan juga sama sepertinya, sama-sama keras kepala dan tak akan bisa dicegah oleh siapapun jika dia sudah mengambil keputusan.


Namun karena Gu Lang datang secara sembunyi-sembunyi, dia meminta Mu Yue mengantarkan Bingyan ke gerbang untuk bertemu lagi dengannya diluar sekte.


*


*


"Bingyan, berhati-hatilah!" seru Mu Yue saat kuda yang Gu Lang dan Mu Yue tunggangi sudah melesat meninggalkannya. Mu Yue menghela nafas panjang, "Mungkin memang itu jalan satu-satunya agar Bingyan terbebas dari ayah."


"Gu Lang, siapa wanita ini? Pacarmu? Istrimu?" tanya Bong Quan sepanjang jalan, yang membuat Gu Lang jengah dan membuat pipi Bingyan bersemu merah mendengarnya.


"Bisakah kau diam? Kalau tidak bisa, lebih baik kau kutinggal saja disini."

__ADS_1


Bong Quan pun mencebikkan bibirnya sebal, mendengar ancaman Gu Lang yang membuatnya mau tak mau harus menutup rapat-rapat mulutnya itu. Dan Bingyan juga hanya bisa menahan tawanya melihat kekonyolan ke dua pria itu, namun entah kenapa, dia merasa sangat bahagia saat Bong Quan berpikir jika dia adalah wanita milik Gu Lang.


__ADS_2