Penguasa Menara Langit

Penguasa Menara Langit
Episode 65


__ADS_3

Dia menatap tak percaya pada buku di tangannya. Bahkan hanya dengan auranya saja, dia tau itu merupakan buku jurus kelas atas. "I-ini..." Bong Quan beralih menatap Gu Lang yang tampak biasa saja, bahkan tengah asik menikmati makanannya, seolah benda yang dia berikan padanya itu bukanlah sebuah barang berharga.


"Buku," sahut Gu Lang yang sebenarnya merupakan candaan, tapi bagi Bong Quan, itu justru terdengar sangat menyebalkan.


Bong Quan menatap Gu Lang sesaat, kemudian memutar jengah bola matanya dan berkata, "Aku juga tau kalau ini buku. Anak kecil pun tidak ada yang akan mengatakan kalau benda ini adalah roti! Tapi yang maksudku... buku ini untuk apa?" tanya Bong Quan kesal, karena Gu Lang yang awalnya dia pikir sangatlah kaku dan dingin, tapi ternyata juga bisa membuatnya kesal karena lelucon tidak lucunya.


"Tentu saja untuk dibaca dan dipelajari, memangnya untuk apa lagi? Kalau kau tak mau, kembalikan padaku." Gu Lang berdiri hendak mengambil kembali buku jurus itu dari tangan Bong Quan, tapi Bong Quan bereaksi lebih cepat dan menyembunyikan buku itu di dalam jubahnya sehingga Gu Lang urung mengambil kembali buku itu dan kembali duduk di kursinya.


"Tentu saja aku mau. Memangnya orang bodoh mana yang mau menolak buku jurus kelas atas seperti ini? Bahkan kalau ada orang lain yang tau jika aku memiliki buku ini, aku yakin kalau nyawaku akan segera melayang karena menjadi target buruan." Bong Quan tersenyum penuh arti, "Tapi apa ini tidak terlalu berharga untukmu sampai kau memberikan ini padaku?" tanyanya.


Gu Lang sama sekali tak berniat menjawab pertanyaan Bong Quan, dan hanya mengangkat kedua bahunya dengan acuh sebagau jawaban.


Sedangkan Bong Quan juga tidak terlalu memperdulikan hal itu, dan terus menatap buku ditangannya dengan pandangan takjub. Seumur hidupnya, dia bahkan belum pernah menyentuh buku jurus tingkat kuning di kediaman Xi. Tapi lihatlah, belum lama dia mengikuti Gu Lang, dia sudah diberikan sebuah buku yang tingkatannya berada di atas tingkat kuning. Yang tentu saja hal itu membuat Bong Quan sangat senang dan berterimakasih pada Gu Lang.


"Terimakasih bukunya. Aku akan sesegera mungkin mempelajarinya dan menguasainya, setelah itu aku akan mengembalikannya padamu." Bong Quan tampak tersenyum penuh arti ke arah Gu Lang, dan membuat Gu Lang yang tau apa maksud dari tatapan itupun hanya bisa menggelengkan kepalanya perlahan dengan lemah.


Tanpa Bong Quan harus mengatakan alasan kenapa dia akan mengembalikan buku itu padanya pun, Gu Lang tau kalau alasannya adalah demi keselamatan nyawanya. Karena bagaimanapun, di kota Biluo ini buku tingkat atas sudah tergolong sebagai benda pusaka yang akan dilindungi dengan sangat ketat, bahkam jika itu oleh sebuah keluarga besar sekalipun.

__ADS_1


Jadi membawa buku semacam itu, tentu saja hanya membawa mala petaka dan sengaja menempatkan diri sendiri dalam bahaya, tentunya. Karena itulah Bing Quan yang merasa dirinya masih terlalu lemah, tak ingin mempertaruhkan nyawanya hanya demi sebuah buku.


Setelah keduanya selesai dengan santapan makan malam mereka, Bong Quan langsung tertidur pulas di kursi kayu panjang yang ada di kamar itu. Sedangkan Gu Lang lebih memilih untuk berlatih, alih-alih tidur dan mengistirahatkan tubuhnya.


Sebelum seorang kultivator mulai mempelajari jurus ilusi, orang itu harus bisa membuka gerbangnya lebih dulu seperti halnya seseorang yang ingin belajar menjadi seorang master array.


Dan untuk kekuatan ilusi itu sendiri bergantung pada berapa banyak gerbang yang mampu dibuka oleh sang kultivator. Semakin banyak gerbang yang terbuka, maka semakin kuat pula jurus ilusi yang mampu di ciptakan.


Pertama, pusatkan aliran aura spiritual pada gerbang pertama dari total 12 gerbang yang ada yaitu gerbang Baihui. Kedua, padatkan aura spiritual dan atur pergerakannya agar tidak terjadi kekacauan dalam arusnya. Ketiga, lanjutkan proses itu hingga gerbang pertama terbuka.


"Jadi aku harus membuka gerbang Baihui lebih dulu?" gumam Gu Lang, sebelum dia meletakkan bukunya dan mulai menegakkan tubuh sambil duduk bersila.


Aliran aura berwarna hitam pekat mulai mengalir di dalam tubuh Gu Lang, membuat keringat di dahi Gu Lang bercucuran, karena proses itu benar-benar menguras tenaga. Meski hanya sekedar mencari satu gerbang tapi mengendalikan aliran auranya lah, yang sangat sulit hingga membuat Gu Lang kewalahan.


Hingga akhirnya, aliran aura spiritual itu menyentuh satu gerbang dimana bagian itu terasa hangat, saat teraliri dengan aura spiritual.


"Apakah itu gerbang pertamanya?" batin Gu Lang yang masih terus memfokuskan diri untuk membuka gerbang pertama itu.

__ADS_1


Perlahan, gerbang itu mulai terisi dengan aura spiritual bersamaan dengan keringat yang semakin membanjiri wajah dan tubuh Gu Lang. Bahkan Bong Quan yang terbangun pun, heran saat dia melihat Gu Lang yang tengah berlatih hingga tubuhnua mandi keringat seperti itu.


"Sebenarnya dia itu sedang berlatih apa? Bukankah hanya meditasi? Tapi kenapa keringatnya bisa sampai sebanyak itu?" Meskipun dia sangat penasaran, tapi Bong Quan tak berani mengganggu latihan Gu Lang bahkan hanya untuk sekedar bertanya pun, dia tidak berani. Alhasil dia hanya berusaha bersikap acuh dan kembali Memejamkan mata agar kembali terlelap dalam tidurnya.


Butuh berjam-jam lamanya bagi Gu Lang, meski hanya untuk mengisi setengah bagian dari satu gerbang saja.


Hingga saat pagi menjelang, gerbang Baihui milik Gu Lang sudah hampir penuh. "Sedikit lagi. Hanya tinggal sedikit lagi saja, Aaarrrgghhh!" Gu Lang berteriak keras saat gerbang Baihui terasa begitu penuh sesak hingga terasa akan segera meledak.


Aura spiritual dari dalam tubuh Gu Lang memancar keluar dan membumbung tinggi di udara, bahkan dia merobohkan atap kamar tempatnya menginap.


"Astaga! A-apa itu?!" Bong Quan yang baru saja terbangun dari tidurnya, begitu terkejut saat melihat kondisi Gu Lang.


Mata Gu Lang hanya menyisakan bagian putihnya saja, dengan semua urat-urat di tubuhnya yang tampak menonjol dan seperti hampir meledak karena tak kuat menampung kekuatan besar itu.


Gu Lang masih terus berteriak kerasa, karena rasa sakit tak terhingga yang dia rasakan dalam proses pembukaan gerbang pertamanya. Bahkan teriakannya itu membuat heboh semua pengunjung dan para pelayan di penginapan itu, juga para penduduk yang melihat pancaran aura hitam legam yang mengerikan, mencuat tinggi seolah berusaha meruntuhkan langit.


"Apa itu pertanda kelahiran benda pusaka? S-sangat mengerikan!"

__ADS_1


Beberapa warga tampak berkumpul di luar penginapan itu sambil berbisik-bisik dan menunjuk ke arah atap penginapan, dimana aura Gu Lang yang terpancar terlihat oleh mereka. "Bukan. Itu bukan pertanda kelahiran benda pusaka, tapi..." Para penduduk itu mengalihkan pandangan mereka pada seorang pria dengan jenggot panjang berwarna putih, yang tengah berjalan membelah kerumunan yang langsung memberikan jalan untuk orang itu.


__ADS_2