
Apa kamu tidak malu?" Kedua mata Abinaya berkeliling menatap satu persatu orang-orang yang memperhatikan mereka.
"Semua orang memperhatikan kita karena sedari tadi kau terus mengoceh dan mengumpat. Memalukan! Kau bahkan lebih buruk dari wanita hamil yang sering kau sebut sebagai wanita murahan!"
"Papa!" Kedua mata Claudia melotot menatap suaminya.
Namun, detik berikutnya mulutnya kembali mengomel.
"Kalau kamu tidak membawanya ke rumah sakit, kita tidak mungkin terlambat, Nathan. Kamu adalah mempelai pengantin pria, seharusnya kamu berada di sini dari pagi."
Nathan mengembuskan napas panjang mendengar ucapan ibunya. Kalau bukan karena ulah ibunya, Indira pasti baik-baik saja. Nathan tidak perlu membawa Indira ke rumah sakit akibat tidak sadarkan diri setelah memuntahkan semua isi perutnya pada baju Claudia.
Indira bahkan saat ini masih dirawat di rumah sakit. Wanita hamil itu mengalami demam tinggi. Beruntung, bayi di dalam perutnya tidak bermasalah. Dokter mengatakan kalau Indira hanya kelelahan dan juga stres.
Selain itu, dokter juga mengatakan kalau Indira terlihat tertekan dan sangat kelelahan. Saat mendengar ucapan dokter, Nathan tentu saja mengingat bagaimana perlakuan ibunya terhadap Indira.
Hanya saja, Nathan tidak berani melawan ibunya. Wanita yang melahirkannya itu akan sangat marah jika dia ikut mencampuri urusannya dengan Indira.
Claudia memang sangat keras kepala. Wanita yang melahirkannya itu tidak pernah mau mengalah. Egois, dan selalu membenarkan perbuatannya. Padahal, apa yang dia lakukan jelas-jelas salah.
__ADS_1
Saat mengingat Indira, perasaan Nathan merasa tidak enak. Ia sungguh sangat khawatir karena meninggalkan Indira di rumah sakit sendirian. Semua asisten rumah tangganya ikut ke hotel untuk menghadiri acara resepsi pernikahannya dengan Clara.
Selama menikah dengan Indira, baru kali ini dia merasa khawatir pada perempuan itu. Biasanya, Nathan terkesan tidak peduli pada istrinya. Tetapi, kali ini dia benar-benar tidak tenang.
Bagaimana dia bisa menikah sementara Indira sedang berada di rumah sakit?
"Mama benar-benar nggak ngerti sama kamu, Nathan. Kenapa kamu masih peduli sama wanita murahan itu padahal kamu sudah mau menikah dengan Clara. Kaku itu harusnya mikirin perasaan Clara. Bukannya malah ngurusin wanita tidak berguna itu."
"Indira bahkan mengerjakan semua pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh asisten rumah tangga. Mama bahkan menyuruhnya begadang untuk menyiapkan semua perlengkapan pernikahanku dengan Clara. Tidak salah Mama mengatakan Indira tidak berguna? Dia bahkan sedang hamil tapi dia mengerjakan pekerjaan yang seharusnya tidak dikerjakan oleh wanita hamil. Kalau Mama memang mau membunuh anakku, kenapa Mama tidak sekalian saja kasih racun biar Indira keguguran!" Nathan berucap panjang lebar dengan kesal.
Mereka bahkan tidak memedulikan orang-orang yang saat ini melirik mereka.
"Kenapa sekarang kamu belain dia sih? Kamu sudah nggak mau nurut lagi sama Mama? Kamu–"
"Papa." Claudia menatap suaminya dengan raut wajah marah.
"Pa, gimana kalau Papa juga bikin resepsi pernikahan kaya Abang. Coba Papa menikah lagi, Alesha ingin tahu, gimana perasaan Mama jika berada di posisi Mbak Indira."
"Alesha!" Kedua mata Claudia melotot.
__ADS_1
"Kenapa, Ma? Mama marah? Mama nggak suka Papa menikah lagi?" Alesha menatap ibunya dengan santai.
"Jaga bicaramu, Alesha!" Claudia menatap Alesha dengan marah.
Mereka semua saat ini sedang berada di dalam lift. Beruntung, di dalam lift itu hanya ada mereka saja. Kalau tidak, mereka pasti merasa malu karena sepanjang perjalanan, mereka terus saja berdebat.
Resepsi pernikahan diadakan di ballroom yang sudah disulap menjadi dekorasi pengantin yang sangat mewah.
Seharusnya Nathan sudah berada di kamar hotel untuk dirias bukannya malah berdebat di dalam lift.
"Apa ada yang salah dari ucapan Alesha, Ma?
Mama menyuruh Abang menikah lagi tanpa memikirkan perasaan Mbak Indira yang jelas-jelas sedang hamil anaknya Abang. Mama setiap hari menyiksa Mbak Indira padahal dia tidak bersalah.
Mbak Indira itu korban, Ma. Kalau dia tau kalau Abang ini hanya seorang bajingan, dia tidak akan mungkin mau menikah dengan Abang, meskipun saat ini dia sedang hamil. Mbak Indira pasti akan memilih pergi jika saja dia tahu dari awal kalau Abang mengkhianatinya," ucap Alesha panjang lebar.
"Aku ingin papa menikah lagi agar Mama tahu, bagaimana sakitnya menjadi Mbak Indira. Punya suami bajingan, punya mertua jahatnya melebihi Mak lampir. Belum lagi dimadu. Seandainya Alesha yang saat ini berada di posisi Mbak Indira, mungkin Alesha lebih baik mati bunuh diri. Alesha tidak bisa membayangkan bagaimana menderitanya menjadi Mbak Indira.
Apa Mama tahu? Alesha malu punya Mama dan Abang tidak punya hati seperti kalian. Kalau bukan karena Papa, Alesha tidak akan sudi datang ke pernikahan Abang."
__ADS_1
BERSAMBUNG ....