PENYESALAN MERTUA KEJAM

PENYESALAN MERTUA KEJAM
PANIK


__ADS_3

Nathan merasa panik saat tidak mendapati Indira dalam rumahnya. Lelaki itu sudah bertanya pada asisten rumah tangganya, tetapi, perempuan paruh baya itu mengatakan jika Indira belum pulang.


Bi Sumi juga mengatakan jika tidak ada orang yang mengantarkan Indira pulang, apalagi, seorang laki-laki seperti yang dikatakan oleh Nathan.


"Sejak pagi saya tidak pergi kemana-mana, Den. Kalau memang benar Non Indira pulang, pasti saya sendiri yang akan menyambutnya." Bi Sumi kembali menjelaskan pada Nathan karena majikannya itu tidak percaya jika istrinya belum pulang.


Perempuan baya itu sebenarnya merasa heran. Bukankah Nathan yang menunggui istrinya di rumah sakit? Tapi, kenapa pria itu tidak tahu kalau istrinya sudah pulang dari rumah sakit?


Benar-benar aneh!


"Hari ini saya ke kantor, Bi. Banyak pekerjaan yang harus saya lakukan. Tapi, saat saya kembali ke rumah sakit, Indira sudah tidak ada. Dokter mengatakan jika Indira sudah pulang."


"Apa?" Bi Sumi menutup mulutnya karena kaget.


"Memangnya Non Indira pulang sama siapa, Den? Kenapa Non Indira tidak memberitahu Den Nathan kalau akan pulang hari ini?" Asisten rumah tangga itu merasa penasaran.

__ADS_1


Kenapa Indira begitu nekad keluar dari rumah sakit tanpa sepengetahuan suaminya? Bukankah wanita itu baru saja mengalami keguguran?


Sang bibi terus bertanya-tanya dalam hati. Seharusnya, seseorang yang baru saja mengalir keguguran mendapatkan perhatian lebih dari suaminya maupun orang-orang terdekatnya. Apalagi, penyebab keguguran majikannya itu adalah karena sebuah kecelakaan.


Perempuan paruh baya itu yakin, kalau saat ini, wanita baik itu pasti sedang bersedih. Indira memang sangat baik. Terkadang Bi Sumi merasa prihatin dengan keadaan Indira. Wanita itu hampir setiap free hari tidak pernah bahagia padahal, Indira adalah seorang menantu dari keluarga kaya.


Mendengar penjelasan Bi Sumi tentang Indira, emosi Nathan kembali naik. Apalagi, dia tahu kalau perempuan itu masih belum pulih secepatnya. Luka-luka pada tubuhnya masih belum pulih.


Dokter mengizinkan Indira pulang karena perempuan itu terus memaksa. Indira mengatakan ingin memulihkan tubuhnya di rumah saja karena saat di rumah sakit, dia merasa kesedihannya semakin bertambah karena terus mengingat apa yang terjadi.


"Kemana perginya Indira kalau bukan ke rumah ini, Bi?" Nathan mengacak rambutnya frustasi. Laki-laki itu benar-benar sangat khawatir pada Indira.


Akan tetapi, kenyataannya dokter yang katanya adalah sahabat Indira itu justru tidak membawa Indira pulang ke rumah melainkan membawa pergi istrinya.


Membayangkan semua itu, amarah Nathan tersulut. Pria itu mengepalkan kedua tangannya sebelum akhirnya bergegas keluar dari rumahnya. Nathan harus segera mencari Indira. Dia tidak mau sesuatu terjadi pada istri pertamanya itu.

__ADS_1


Tiba-tiba Nathan merasa menyesal karena telah meninggalkan Indira sendirian di rumah sakit. Kemarahannya pada Indira karena perempuan itu menuntut cerai membuat Nathan memutuskan meninggalkan perempuan itu sendirian di rumah sakit.


Nathan sungguh tidak mengira jika Indira nekad pergi darinya. Padahal, saat ini Indira jelas sangat membuat Nathan sebagai suami karena wanita itu saat ini sedang tidak baik-baik saja.


"Nathan. Mau kemana kamu?" Abinaya yang baru saja sampai di rumah merasa penasaran dengan Nathan yang terlihat begitu terburu-buru keluar dari rumah dengan keadaan marah.


"Aku mau mencari Indira, Pa. Dia pergi dari rumah sakit saat aku tidak ada."


"Apa?"


Abinaya sangat terkejut mendengar ucapan Nathan.


"Apa maksud kamu, Nathan?"


"Indira pergi dengan Dokter Reyno. Dia mengelabui dokter di rumah sakit dengan mengatakan akan pulang ke rumah diantar Dokter Reyno." Nathan menjelaskan dengan penuh kemarahan.

__ADS_1


"Kamu yakin kalau Indira pergi bersama Dokter Reyno? Papa baru saja bertemu dengannya di kantor polisi. Tidak mungkin dokter itu berada di rumah sakit dalam waktu yang sama bukan?"



__ADS_2