
Dengan hati kesal Clara melempar ponselnya di atas kasur.
"Brengsek, kau, Indira!" umpat Clara.
Perempuan itu sangat marah setelah mendapatkan pesan dari istri pertamanya Nathan.
"Dasar perempuan kampung! Aku sungguh menyesal karena pernah menyetujui pernikahanmu dengan Nathan. Perempuan sialan!" Clara kembali mengumpat.
"Kau lihat saja nanti. Aku akan membuat hidupmu seperti di neraka!"
***
Indira mengulas senyum setelah mengirimkan pesan pada madunya. Wanita itu kemudian menghapus semua pesan yang dia kirim pada Clara setelah memastikan kalau istri kedua suaminya itu telah membacanya.
Indira sangat yakin, kalau saat ini Clara pasti sedang kesal karena Nathan bersamanya. Indira menatap lelaki yang saat ini sedang tertidur itu dengan lekat. Indira mengembuskan napas panjang saat rasa sakit menyelinap masuk meremas hatinya.
"Tinggal sedikit lagi. Setelah aku memastikan jika kamu kembali jatuh cinta padaku, aku akan langsung pergi meninggalkan kamu," batin Indira.
Rasanya dia ingin sekali menangis saat rasa sakit kembali menjalar ke ujung hatinya. Namun, air mata Indira tidak bisa keluar dari kedua matanya. Entahlah! Mungkin, hatinya sudah mati rasa, sehingga Indira tidak bisa menangis.
__ADS_1
Akan tetapi, jika benar hatinya sudah mati rasa, lalu, kenapa rasa sakit itu begitu menyesakkan dadanya?
Luka yang diberikan oleh Nathan begitu dalam dan sangat membekas di hatinya. Tidak mudah bagi Indira untuk memaafkan Nathan setelah kesalahan yang lelaki itu perbuat padanya.
Meskipun Indira mengatakan iya saat Nathan meminta maaf padanya, tetapi, hatinya belum bisa sepenuhnya menerima permintaan maaf dari lelaki yang masih sah menjadi suaminya itu.
Jangan lupakan Indira yang sengaja bertahan karena wanita itu ingin menaklukkan Nathan kembali seperti saat wanita kedua itu belum hadir di tengah-tengah mereka.
Nathan menggeliat. Lelaki itu membuka matanya secara perlahan. Bibir tipisnya menyunggingkan senyum saat melihat Indira berbaring di sebelahnya dengan pandangan mata yang lekat menatap dirinya.
"Maafkan aku, Sayang, aku ketiduran." Nathan merasa tidak enak. Istrinya sedang sakit, tetapi, dia malah tertidur.
"Aku ini suamimu, Dira. Mana mungkin aku merasa direpotkan sama kamu. Apalagi, saat ini kamu sedang tidak sehat karena baru saja mengalami kecelakaan." Nathan bangkit dari ranjang. Lelaki itu kemudian meraih gelas berisi minum dan memberikannya pada Indira setelah membantu perempuan itu duduk di atas ranjang.
"Apa kamu lapar? Aku akan membelikan makanan untukmu di luar." Nathan meraih ponselnya. Dia sangat tahu, kalau Indira tidak bisa memakan makanan rumah sakit.
Dulu, saat dirinya masih berpacaran dengan Indira, perempuan itu beberapa kali jatuh sakit dan berakhir menjalani rawat inap di rumah sakit.
Saat dirawat, Indira begitu tidak menyukai masakan rumah sakit yang menurutnya terasa hambar dan tidak enak. Padahal, semua orang tahu jika makanan yang disediakan oleh pihak rumah sakit untuk pasiennya itu adalah makanan sehat yang tentu saja sangat bermanfaat bagi para pasien.
__ADS_1
"Terserah kamu saja, Mas."
***
Pagi itu, Clara mendatangi Nathan di rumah sakit. Sesuai dengan ucapan madunya, lelaki itu benar-benar tidak pulang semalam. Nathan bahkan tidak ke kantor hari ini membuat Clara semakin kesal.
Saat baru saja membuka pintu ruang rawat Indira, Clara justru disuguhi pemandangan yang membuatnya semakin kesal.
Di sana, dia melihat pria yang menjadi suaminya itu sedang menyuapi Indira sambil sesekali mencium kening wanita itu.
"Sialan!" Clara mengepalkan kedua tangannya dengan erat.
Suaranya yang terdengar nyaring membuat Indira dan Nathan menoleh ke arahnya.
"Clara?"
"Dasar wanita sialan! Kamu sengaja pura-pura sakit agar kamu bisa bermesraan dengan Nathan di sini bukan?"
"Clara!"
__ADS_1