PENYESALAN MERTUA KEJAM

PENYESALAN MERTUA KEJAM
PERNIKAHAN NATHAN


__ADS_3

Resepsi pernikahan yang diadakan di hotel bintang lima itu berlangsung dengan meriah.


Nathan dan Clara akhirnya resmi menikah. Mereka berdua sangat bahagia, apalagi, saat para tamu undangan memberikan selamat pada mereka berdua.


Pernikahan itu dihadiri oleh para kolega Alex, ayah Clara dan juga Abinaya. Mereka berdua sangat senang karena akhirnya mereka bisa berbesanan. Meskipun ada rasa bersalah yang mengganjal di hati Abinaya karena dia memikirkan Indira yang saat ini berada di rumah sakit.


Seandainya saja pernikahan kedua Nathan ini bisa dibatalkan, Abinaya pasti akan membatalkannya. Clara yang bersikeras dan juga Nathan yang ternyata jatuh cinta pada Clara memaksa Abinaya untuk menyetujui pernikahan itu.


Claudia tidak berhenti menyunggingkan senyum saat beberapa tamu terlihat memuja Nathan dan Clara yang terlihat sangat sempurna.


Nathan dan Clara adalah pasangan yang sangat serasi. Tampan dan cantik.


Dalam hati, Claudia berjanji, akan segera menyingkirkan Indira dari rumah secepatnya. Claudia bahkan berpikir untuk menggunakan rencana yang dikatakan oleh Alesha tanpa sengaja.


Membunuh bayi itu tanpa harus melenyapkan Indira. Jika Indira mati, tentu saja akan berbahaya untuknya, bisa-bisa dia ditangkap polisi karena telah membunuh wanita itu.


Akan tetapi, jika hanya bayinya saja yang mati, bukankah orang tidak akan curiga padanya?


Claudia akan mencari cara agar Indira keguguran. Jika dia keguguran, Nathan akan mempunyai alasan untuk menceraikan wanita itu.

__ADS_1


Apalagi, mereka hanya menikah siri. Akan mudah bagi Nathan untuk menceraikan Indira. Hanya tinggal mengucapkan talak, maka pernikahan mereka akan berakhir.


Claudia tersenyum dengan rencana yang saat ini bersarang di kepalanya.


"Lihat saja nanti, aku pasti akan segera menyingkirkan kamu, wanita murahan!" batin Claudia.


***


Indira membuka matanya. Kepalanya terasa pusing. Pandangan wanita itu berkeliling menyapu ruangan.


"Di mana aku?" batin Indira.


Rumah sakit? Kenapa tiba-tiba dia berada di rumah sakit?


Indira kemudian mengembuskan napas panjang saat ingatannya kembali normal. Wajah pucatnya berubah sendu.


"Apa sekarang kamu sudah menikah dengannya, Nathan? Kamu sungguh tega melakukannya padaku?" Indira memejamkan mata saat rasa sakit menjalar ke ruang hatinya.


Dia memang membenci Nathan, tetapi, Indira tidak memungkiri jika rasa cintanya pada pria itu masih ada. Bodohnya dia masih tetap mau menikah dengan Nathan meskipun sudah tahu konsekuensinya.

__ADS_1


Padahal, dia sendiri sudah mendengar dengan jelas dari mulut Nathan jika lelaki itu sudah tidak mencintainya lagi. Namun, kenapa waktu itu dia sangat bersikeras untuk tetap menikah dengan Nathan?


Indira kembali menarik napas panjang. Seolah ingin sekali menghilangkan semua beban di hatinya. Namun, bagaimana beban itu itu akan hilang kalau dia sendiri tidak mempunyai tempat untuk berbagi?


"Seandainya saat ini aku mempunyai banyak uang, aku lebih memilih pergi dari rumah itu. Aku memang menikah dengannya karena anak yang saat ini aku kandung. Tapi, bukan keadaan seperti ini yang aku inginkan," batin Indira.


Saat itu, pikiran bodohnya berharap kalau Nathan akan memberikan perhatian lebih padanya karena dia sedang hamil. Namun, tidak disangka, lelaki itu justru berubah dan lebih memilih memperhatikan Clara dibandingkan dengannya.


"Kenapa aku begitu bodoh? Hanya demi pria seperti itu aku menderita. Tapi, jika aku pergi dari sana, di mana aku harus tinggal sekarang? Aku bahkan tidak mempunyai uang yang cukup untuk hidup di tempat lain." Indira masih berbicaralah dengan dirinya sendiri.


Wanita itu kini sedang menangisi nasib buruk yang menimpanya. Seandainya dia tidak terjebak dalam cinta Nathan, saat ini pasti dirinya masih hidup bahagia.


Bekerja bersama teman-teman dan menikmati hidupnya dengan bahagia meskipun dia hanyalah seorang anak yatim-piatu.


Indira menangis pilu. Wanita itu sungguh tidak menyangka kalau pada akhirnya ia akan berada di kondisi seperti ini. Patah hati setelah menikah ternyata lebih menyakitkan dibandingkan parah hati ketika kita masih berpacaran.


"Kamu mau menangis sampai kapan, Indi?"


BERSAMBUNG ....

__ADS_1


__ADS_2