
Setelah berkali-kali gagal, Claudia akhirnya memutuskan untuk meminta bantuan orang lain untuk melenyapkan bayi Indira.
Wanita paruh baya itu benar-benar ingin sekali melenyapkan calon bayi Indira yang merupakan cucunya sendiri.
Entah dendam apa yang ada di hati Claudia sampai-sampai wanita itu begitu jahat pada Indira dan calon bayinya.
Claudia menelepon seseorang yang akan membantunya melancarkan rencananya. Perempuan paruh baya itu tersenyum saat seseorang di seberang sana menyetujui permintaannya.
"Saya akan bayar setengahnya lagi setelah kamu melakukan tugasmu."
***
Indira sudah bersiap pergi ke rumah sakit setelah Reyno mengingatkan jadwal periksa kehamilannya. Perempuan hamil itu mematut dirinya di depan cermin. Memastikan kalau penampilannya sudah rapi.
Tadi pagi, dia sudah mengatakan pada Nathan tentang jadwal periksanya hari ini, tetapi, seperti biasanya, lelaki tidak punya pendirian itu justru menuruti Clara yang mengatakan sudah punya janji terlebih dahulu dengan Nathan yang katanya akan mengantarkannya belanja.
Sepertinya Clara tidak tahu apa artinya berbagi suami, karena dari yang dilihat Indira selama ini, perempuan itu tidak pernah mau berbagi sama sekali. Dia bahkan tidak mengijinkan Nathan untuk bersamanya. Oleh karena itu, orang yang katanya akan bersikap adil itu selalu sembunyi-sembunyi saat menemuinya.
__ADS_1
Nathan bahkan terkadang menunggu Clara pergi dari rumah kemudian baru menemui Indira. Laki-laki itu tidak mau membuat keributan dengan Clara jika dia memaksa untuk terus bersama Indira.
Sungguh! Nathan memang tidak bisa dipercaya. Bagaimana orang tidak punya pendirian seperti itu berani melakukan poligami? Nathan bahkan tidak bisa memperlakukan istrinya dengan adil. Pria itu lebih condong pada istri keduanya dibanding pada istri pertamanya yang jelas-jelas sedang mengandung anaknya.
Claudia memperhatikan Indira yang kini baru saja keluar dari kamar. Wanita hamil itu terlihat sangat cantik dengan balutan gamis dan hijab panjang yang menutupi semua auratnya sebagai seorang perempuan.
"Mau kemana kamu, Indira?" Claudia berkacak pinggang di hadapan Indira.
"Saya mau pergi ke rumah sakit, Nyonya. Hari ini adalah jadwal saya periksa kandungan," jawab Indira sambil menatap sang mertua terlihat galak.
"Seperti biasanya, Nyonya. Saya akan pergi sendiri ke rumah sakit karena suami saya lebih mementingkan pergi berbelanja daripada menemani istrinya periksa kandungan." Indira menyindir suaminya.
Claudia tersenyum sinis mendengar ucapan Indira.
"Kamu itu harusnya sadar diri. Dari awal, Nathan itu tidak menyukai kamu, tapi kamu ngeyel minta dinikahi Nathan. Sekarang, tanggung sendiri akibatnya. Saya pastikan kalau Nathan tidak akan memedulikan kamu lagi, apalagi, anak haram di dalam perut kamu itu!"
"Terserah apa kata Nyonya, aku tidak peduli. Nyonya tidak tahu saja kalau setiap malam Nathan menyelinap ke kamar saya. Dia peduli pada Clara bukan karena mencintainya, tetapi, karena Nathan takut Clara membuat ulah yang akan merugikan perusahaan milik kalian," jelas Indira yang membuat kedua mata Claudia melotot karena tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh perempuan hamil di hadapannya itu.
__ADS_1
"Tidak mungkin. Nathan tidak mungkin masuk ke dalam kamar kamu kalau kamu tidak merayunya terlebih dahulu," sangkal Claudia, sambil menggelengkan kepalanya.
"Terserah Nyonya mau percaya atau tidak, yang jelas, itulah kenyataannya. Saya permisi, Nyonya." Indira tersenyum sebelum akhirnya meninggalkan wanita paruh baya itu.
Claudia menggeleng tak percaya. Dalam hati, dia tidak percaya kalau Nathan berani membohongi Clara.
Claudia pikir, Nathan benar-benar sudah tidak memedulikan Indira, tetapi, kenyataannya justru putranya itu diam-diam sering menyelinap masuk ke kamar Indira tanpa sepengetahuan Clara.
"Dasar wanita murahan!"
Claudia kemudian mengambil ponselnya. Wanita itu menelepon seseorang.
"Jangan sampai gagal! Kalau kamu sampai gagal, saya tidak akan memberikan sisa uangnya!"
"Beres, Nyonya!"
BERSAMBUNG
__ADS_1