
Senyum Claudia memudar. Begitupun dengan senyuman Clara. Wanita itu tidak mengira jika wanita berhijab di hadapannya itu adalah Indira. Istri pertamanya Nathan. Ucapan wanita itu yang menyebutnya sebagai madu sungguh membuatnya kesal.
Berbeda dengan Clara dan Claudia, Nathan justru terpesona dengan wajah cantik Indira. Nathan sungguh tidak menyangka jika Indira bisa berpenampilan cantik seperti itu. Indira bahkan berkali lipat terlihat lebih cantik menggunakan hijab.
"Maafkan aku, Mas, aku tidak meminta izinmu terlebih dahulu saat menggunakan hijab karena aku yakin, kamu pasti tidak akan melarangku untuk memakainya bukan?" Indira menyalami Nathan kemudian mencium punggung tangannya dengan takzim. Kayaknya istri solehah yang menyambut suaminya. Hanya saja, kali ini Indira menyambut suaminya yang baru pulang dari bulan madu dengan perempuan lain.
Marah? Sakit hati? Tentu saja. Wanita mana yang tidak marah dan sakit hati saat melihat suaminya menikah lagi? Apalagi, saat melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah suaminya saat bersama dengan wanita yang kini resmi menjadi istrinya sekaligus madu baginya.
Indira menekan rasa sakit dan amarahnya. Dalam hati, ia berdoa memohon kesabaran dan kekuatan pada sang Maha Pencipta agar air mata itu tidak turun saat melihat kebahagiaan Nathan dengan istri barunya.
"Tidak apa-apa. Aku tidak melarangmu memakai hijab. Kamu bahkan terlihat sangat cantik dengan penampilanmu yang baru." Nathan baru saja ingin memeluk Indira, tetapi, teriakan Clara membuat Nathan mengurungkan niatnya.
"Nathan!"
"Mas Nathan itu suamiku juga, Madu. Jadi dia juga berhak untuk memelukku." Melihat Nathan mundur, Indira berinisiatif maju mendekati Nathan kemudian memeluk pria itu di hadapan Clara dan Claudia.
Kedua wanita itu begitu kesal melihat tingkah Indira.
__ADS_1
"Dasar wanita tidak tahu diri! Wanita murahan! Apa kamu tidak malu memeluk suami orang?" teriak Claudia membuat Nathan tercengang. Sementara Indira justru tersenyum manis dalam pelukan Nathan.
Ia sungguh sangat menikmati ekspresi kesal Clara dan Claudia. Ternyata benar kata Reyno, bermain halus jauh lebih bagus daripada kita bermain kasar. Apalagi, terus menangisi apa yang terjadi. Rasanya memang sangat sakit. Namun, justru kesakitan itulah yang akhirnya memberi kekuatan pada Indira.
Tekadnya sudah bulat. Dia benar-benar ingin membalas dendam dan memberikan pelajaran pada ketiga orang di hadapannya itu agar mereka juga ikut merasakan bagaimana seandainya mereka ada di posisinya sekarang.
"Mama ini lucu. Sejak kapan memeluk suami sendiri termasuk perbuatan murahan?" Indira melepaskan pelukannya pada Nathan, yang parahnya justru dibalas oleh Nathan dengan sebuah kecupan pada keningnya.
Sepertinya Nathan melakukannya tanpa sadar. Lelaki itu bahkan tidak menyadari jika Clara terlihat seperti singa kelaparan yang siap memangsanya. Bukan hanya Clara, Claudia juga tidak kalah kesal melihat perlakuan putranya pada Indira.
Claudia tidak tahu terbuat dari apa hatinya Indira hingga wanita itu terlihat baik-baik saja saat melihat suaminya bersama dengan wanita lain. Apalagi, wanita itu adalah istri kedua dari suaminya.
Apa Indira benar-benar tidak merasakan sakit hati sama sekali? Kalau memang benar Indira sangat mencintai Nathan, seharusnya dia merasakan sakit hati bukan? Atau, paling tidak, dia marah atau mengamuk seperti orang-orang di luar sana ketika melihat suaminya selingkuh dan menikah lagi dengan wanita lain.
"Putraku adalah suami dari Clara. Hanya dia satu-satunya wanita yang aku anggap sebagai menantuku!" Mendengar ucapan Indira, Claudia semakin naik pitam.
"Nyonya juga jangan lupa, jika saat itu Nyonya dan Clara sendirilah yang telah menjadi saksi saat aku menikah dengan Mas Nathan!" Indira menjawab dengan penuh penekanan.
__ADS_1
"Dasar ******! Kalau kau tidak hamil, aku juga tidak akan sudi menikahkan kamu dengan putraku!"
"Sayangnya, wanita yang Nyonya sebut ****** ini adalah menantu Nyonya. Suka atau tidak, itu tidak akan merubah fakta. Biar bagaimanapun, aku dan Mas Nathan sudah sah menjadi suami istri meskipun hanya nikah siri.
Jangan lupa, kita bahkan sudah tanda tangan di atas materai kalau aku dan Mas Nathan bisa bersama sampai anak ini lahir.
Jadi, selama anak ini masih berada dalam perutku, Nyonya dan juga kamu, tidak berhak menyuruhku bercerai dengan Mas Nathan!" jelas Indira penuh penekanan. Indira menatap Clara yang wajahnya sudah memerah karena amarah.
"Ayo, Suamiku, kita masuk. Aku sudah memasak beberapa macam makanan kesukaan kamu. Hitung-hitung ikut merayakan pernikahanmu dengan Clara," ajak Indira sambil tersenyum. Wanita itu memeluk lengan Nathan kemudian mengajak pria itu ke meja makan.
"Madu, ayo, kamu juga ikut!"
BERSAMBUNG ....
Mampir dulu di novel keren milik temen Author yuk! Dijamin seru.
__ADS_1