
"Sialan!" Claudia mengumpat kesal. Kini, dia tahu alasan kenapa tidak terjadi apa-apa pada Indira.
Jadi, bukan karena obatnya yang tidak manjur, tetapi, karena susu itu jatuh sebelum Indira meminumnya.
"Sial banget sih! Harusnya Indira saat ini sedang menangis karena kehilangan bayinya dan juga menangis karena sebentar lagi Nathan menceraikannya. Tetapi, gara-gara susu tumpah semuanya gagal!" Claudia menggerutu kesal.
Saat ini, Indira sedang berada di kamarnya. Wanita jahat itu sedang memikirkan rencana apalagi yang harus ia lakukan untuk menyingkirkan Indira dari rumah besarnya.
Beberapa hari ini adalah kesempatan paling bagus untuk menyingkirkan Indira karena Nathan sedang tidak ada di rumah sehingga ia bisa bebas melakukan apapun pada wanita itu.
Meskipun ada Nathan, Claudia yakin, putranya itu tidak akan berani membantahnya seandainya dia melakukan sesuatu pada Indira.
"Ayo, berpikir, Claudia! Kau harus memikirkan cara agar wanita itu segera pergi dari rumah ini," batin Claudia.
Wanita itu mondar-mandir di dalam kamar. Dalam kepalanya banyak ide untuk melenyapkan Indira, hanya saja dia juga mempertimbangkan segala resikonya. Claudia ia ingin bermain cantik agar dia tidak berurusan dengan pihak yang berwajib saat dia melakukan kejahatan pada menantu yang tak pernah dianggapnya itu.
"Kau tunggu saja, Indira. Aku pasti akan melakukan sesuatu yang akan membuatmu menyesal karena pernah hadir di keluarga Abinaya."
***
Melihat istri keduanya tertidur pulas, Nathan mengendap-endap keluar kamar. Lelaki itu menutup pintu dengan pelan.
Clara baru saja tertidur. Wanita itu satu jam yang lalu baru pulang dari Club malam untuk merayakan pernikahannya. Sedangkan dirinya baru saja pulang dari kantor untuk mengurus pekerjaannya yang yang tertunda akibat cuti bulan madu.
__ADS_1
Nathan sebenarnya merasa lelah karena tenaganya terkuras oleh pekerjaan di kantor. Namun, saat seseorang menelepon dan memberitahukan pada Nathan jika istrinya sedang mabuk berat di sebuah Club malam, Nathan mau tidak mau langsung menuju ke lokasi untuk menjemput wanita yang baru dinikahinya sepuluh hari yang lalu itu.
Nathan mengirimkan pesan pada Indira untuk membuka pintu kamar. Dia merasa sangat lelah, tetapi, dia tidak bisa tidur bersama Clara yang saat ini berada dalam pengaruh alkohol. Nathan tidak tahan. Nathan bukanlah peminum. Selama berpacaran dengan Indira, dia tidak pernah datang ke tempat-tempat hiburan malam, apalagi, menghabiskan waktu untuk minum-minum.
Berbeda dengan Clara yang yang memang selalu bersenang-senang dengan teman-temannya di Club malam dan berakhir dengan mabuk berat saat pulang.
Hal ini, Nathan ketahui dua minggu sebelum pernikahan mereka berlangsung. Menurut Clara dunia malam adalah gaya hidupnya, yang penting dia bisa menjaga diri dan hanya menghabiskan malam untuk mencari hiburan bersama teman-teman perempuannya. Itu bukanlah hal tabu. Clara bahkan menyebut kalau Nathan itu kampungan karena tidak mau diajak clubing.
Ah! Kenapa Nathan sekarang seolah baru sadar jika Clara sangat berbeda dengan Indira yang begitu adem saat dilihat dan nyaman saat didekati? Indira bahkan sangat penurut dan sangat menghormatinya.
Selain itu, Indira yang sekarang juga sangat pandai memuaskannya. Nathan mengingat beberapa hari lalu saat Indira mengirimkan pesan dan mengatakan rindu padanya.
Malam itu, Nathan mendatangi Indira karena malam harinya, Clara pergi keluar dan baru pulang saat dini hari. Nathan tidak menemani Clara dengan alasan lelah karena tidak bisa tidur saat siang hari.
Nathan sangat puas karena Indira tidak menolak saat melayaninya. Hanya saja, Indira meminta Nathan menggunakan pengaman saat melakukannya.
"Dira, buka pintunya. Malam ini aku tidur di kamarmu." Pesan yang dikirimkan oleh Nathan yang membuat Indira tersenyum senang.
Pintu terbuka, Nathan segera masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya. Lelaki itu tersenyum saat Indira menyuruhnya naik ke atas ranjang.
"Apa Clara tidak marah kamu tidur di kamarku malam ini?"
"Clara sudah tidur. Dia juga dalam keadaan tidak sadar karena pengaruh alkohol."
__ADS_1
"Clara mabuk?" Indira merasa tidak percaya. Bukan karena tidak percaya kalau wanita seperti Clara bisa mabuk. Dia hanya tidak percaya karena Clara berani pulang dalam keadaan mabuk di rumah mertuanya.
Apa kabar ibu dan ayah mertuanya jika mengetahui menantu kesayangan mereka ternyata berkelakuan seperti itu?
Nathan tidak menjawab pertanyaan Indira. Lelaki itu menyelusupkan wajahnya pada dada Indira dan memeluk wanita itu.
"Peluk, Dira," ucap Nathan.
Indira menghela napas panjang, kemudian memeluk pria yang telah menyakitinya dengan begitu dalam.
Apa sekarang kamu menyesal karena ternyata wanita itu tidak jauh lebih baik dariku?
Indira tersenyum mengejek. Tangannya membelai lembut rambut Nathan.
"Dira, maafkan aku. Aku menyesal karena aku telah memperlakukan kamu dengan tidak baik. Jujur, dalam hatiku yang paling dalam, aku masih sangat mencintaimu. Meskipun saat ini ada Clara di sampingku, tapi, cintaku padamu tidak berubah."
"Aku mencintaimu, Indira. Maafkan aku karena aku membohongimu dengan mengatakan padamu jika aku sudah tidak mencintaimu lagi. Saat itu, aku sedang emosi. Aku melakukannya agar kamu mengijinkan aku menikah dengan Clara.
Kini, aku semakin sadar, jika cintaku padamu masih begitu besar seperti dulu. Apalagi, sekarang ada dia yang sebentar lagi hadir dalam hidup kita." Nathan mengungkapkan perasaannya pada Indira panjang lebar.
"Tapi, bukankah saat anak ini lahir, kita akan bercerai?"
BERSAMBUNG
__ADS_1