PENYESALAN MERTUA KEJAM

PENYESALAN MERTUA KEJAM
MARAH


__ADS_3

Keadaan Indira sudah membaik sehingga dokter pun mengizinkan wanita hamil itu pulang setelah menginap dua hari di rumah sakit.


Selama di rumah sakit, Reyno beberapa kali menemuinya. Pria itu memeriksa keadaan Indira. Namun, karena kedekatan Indira dan dokter itu, Nathan merasa kesal menahan cemburu.


Indira memang sudah menjelaskan padanya jika Reyno adalah sahabatnya. Akan tetapi, Nathan tetap saja merasa cemburu saat sang dokter terus saja mendekati istrinya.


Indira sudah menjelaskannya pada pria pengkhianat yang masih menjadi suaminya itu. Akan tetapi, jika Nathan memang tidak percaya dengan ucapannya, terserah dia saja. Biarkan saja pikiran buruk bersarang di otaknya. Indira tidak peduli.


"Setelah pulang ke rumah, kamu harus hati-hati dan waspada dengan semua orang di sana," bisik Reyno sambil tersenyum.


Indira pun pulang dari rumah sakit dengan Nathan. Lelaki yang biasanya acuh dan tidak memedulikan Indira itu kini begitu perhatian.


***


Setelah sampai di rumah besar miliknya, Nathan membantu Indira istirahat di kamar perempuan itu. Setelah itu, dia berniat menemui Clara untuk membicarakan masalah mereka. Istri keduanya itu pasti masih marah karena kemarin dia tidak membelanya di depan Indira.


Akan tetapi, belum sampai Nathan ke kamar, Abinaya yang baru saja pulang dari kantor memanggilnya.


"Bagaimana keadaan Indira? Apa dia baik-baik saja?" tanya Abinaya. Rasanya dia ingin sekali marah pada Nathan. Gara-gara Nathan, dia dan Alex berseteru. Namun, melihat putranya terlihat lelah, Abinaya menahan amarahnya.


Lelaki paruh baya itu menghela napas panjang. Seandainya saja waktu bisa diulang kembali, dirinya pasti tidak akan menuruti saran Clara saat perempuan itu menikahkan Indira dengan Nathan.


Seharusnya, Abinaya tetap membatalkan pernikahan Clara dan Nathan karena putranya sudah menikah dengan Indira. Namun, saat itu Abinaya tidak berpikir dengan jernih.

__ADS_1


Pernikahan Nathan dan Clara saat itu hanya tinggal sebulan lagi. Tidak mungkin dia membatalkan pernikahan sementara persiapan pernikahan itu hanya tinggal sepuluh persen saja.


Abinaya juga tidak enak hati pada sahabatnya jika membatalkan pernikahan itu secara tiba-tiba. Semua berawal dari kesalahan putranya yang begitu serakah ingin memiliki kedua wanita yang dicintainya.


Seandainya saja Abinaya tahu dari awal kalau Nathan sudah punya kekasih dan kekasihnya itu juga sedang dalam keadaan hamil, dirinya pasti tidak akan menyetujui perjodohan yang ditawarkan oleh Alex, sahabatnya.


"Indira sekarang baik-baik saja, Pa. Beruntung, lukanya tidak terlalu parah, jadi dia bisa pulang cepat dari rumah sakit," jawab Nathan. Netranya menatap Abinaya yang terlihat seperti menyembunyikan sesuatu.


"Syukurlah, kalau dia baik-baik saja. Maafkan papa karena tidak sempat menjenguknya."


"Tidak apa-apa, Pa. Aku tahu kalau Papa sibuk." Nathan tersenyum menatap sang papa.


"Ada apa, Pa? Apa ada sesuatu yang penting?"


Mendengar ucapan putranya, lelaki paruh itu menghela napas panjang. Abinaya kemudian menceritakan kedatangan mertuanya Nathan ke kantor. Dia menceritakan bagaimana Alex begitu marah karena telah mengetahui pernikahan Nathan dengan Indira.


"Clara benar-benar keterlaluan! Kenapa dia menceritakan pernikahanku dengan Indira pada ayahnya? Bukankah dia sendiri yang berjanji tidak akan memberitahukan pernikahanku dengan Indira pada keluarganya?" Nathan tidak bisa menyembunyikan kemarahannya pada Clara.


"Papa tidak menyangka kalau ternyata Clara tidak seperti yang selama ini papa bayangkan, Nathan. Seharusnya, saat itu papa membatalkan pernikahanmu dengan Clara agar kejadian seperti ini tidak terjadi." Abinaya menatap Nathan yang terlihat terkejut.


"Clara tidak jauh lebih baik dari Indira. Papa sungguh menyesal telah menuruti keinginan kamu untuk tetap menikahi Clara walaupun saat itu kamu sudah menikah dengan Indira."


"Papa ...." Nathan menatap Abinaya yang terlihat kecewa.

__ADS_1


"Maafkan aku, Pa. Semua karena kesalahanku. Seandainya saja aku–"


"Sudahlah, Nathan. Penyesalan memang selalu datang terlambat. Sekarang, lebih baik kamu urus Clara agar dia bisa membujuk Alex. Jangan sampai Alex membuktikan ucapannya." Abinaya menepuk bahu Nathan. Meskipun kecewa, tetapi, nasi sudah menjadi bubur. Apa yang sudah terjadi tidak bisa dirubah.


Kalau Abinaya bisa memilih, dia pasti akan memilih Indira. Istri pertamanya Nathan yang saat ini sedang mengandung calon cucunya. Indira tipe menantu idaman. Akan tetapi, surat perjanjian yang menyatakan Nathan akan menceraikan Indira setelah bayi itu lahir membuat Abinaya kembali menghela napas panjang.


Kasihan Indira. Dia perempuan yang baik, tetapi, nasibnya kurang beruntung. Mempunyai suami yang menikah lagi dengan wanita lain, ditambah pula mempunyai ibu mertua yang tidak menyukainya sama sekali.


"Jika bisa, aku ingin sekali Nathan mempertahankan Indira dibandingkan Clara."


***


"Clara! Kamu benar-benar keterlaluan! Apa maksud kamu memberitahukan pernikahanku dengan Indira sama papa kamu?" Nathan berteriak marah saat baru saja membuka pintu kamar.


Kemarahannya semakin menjadi saat dia melihat Clara justru tertawa bukannya menyadari kesalahannya.


"Kenapa? Apa kamu takut?" Clara menatap sinis pada Nathan setelah menertawakan pria yang masih sah menjadi suaminya itu.


"Kamu takut papaku membatalkan kerjasama dengan perusahaanmu?"


"Clara–"


"Dengarkan aku, Nathan. Bukankah aku sudah pernah bilang padamu kalau aku tidak menyukai perempuan kampung itu? Kenapa kamu lebih memperhatikan dia daripada aku? Memangnya apa kelebihan wanita hamil itu sampai-sampai kamu begitu mengkhawatirkan dia dan mengabaikan aku?"

__ADS_1


"Indira sakit, Clara! Kenapa kamu tidak mau mengerti? Aku memperhatikan dia karena dia sedang sakit. Lagipula, Indira adalah istriku, jadi wajar kalau aku perhatian sama dia. Bukankah selama ini aku lebih memperhatikan kamu daripada Indira?


Setiap hari aku bersamamu, Clara. Aku bahkan melanggar janjiku sebagai suami karena aku belum bisa bersikap adil pada kalian berdua. Indira sedang sakit. Seandainya dia tidak sakit, Indira juga tidak akan mau diperhatikan sama aku. Kamu tahu sendiri bukan, kalau dia sudah tidak mau memedulikan aku setelah aku menikah denganmu?"


__ADS_2