
"Kamu yakin akan pulang sekarang?" Reyno menatap perempuan di hadapannya.
"Aku yakin, Rey. Bukankah dokter juga mengatakan kalau keadaan aku sekarang baik-baik saja?" Indira menatap Reyno yang terus saja menatapnya. Lelaki Itu seolah tahu apa yang sedang dipikirkannya saat ini.
"Kamu tidak ingin menunggu suamimu?" Gelengan kepala Indira membuat Reyno mendesah pelan. Lelaki itu menarik napas panjang.
Tidak lagi ingin berdebat dengan Indira. Reyno sudah menebak kalau Indira pasti sedang menyembunyikan sesuatu. Hanya saja, seperti kebiasaannya, wanita itu tidak akan cerita sebelum dia siap menceritakan semua masalahnya.
"Kamu yakin?" Reyno meyakinkan Indira sekali lagi.
"Rey!" Indira mendelik sebal. Dia merasa dipermainkan. Kata-kata Reyno yang terus-menerus mengulang kata-katanya membuat Indira geram.
Reyno tersenyum melihat kekesalan Indira. Dia sungguh tidak mengerti apa yang terjadi saat ini pada sahabatnya itu. Yang jelas, Reyno sempat mendengar kalau Indira dan Nathan bertengkar.
Hanya saja, saat ini Reyno masih segan untuk bertanya pada Indira terkait masalah itu. Fokus Reyno saat ini adalah kesembuhan Indira. Wanita itu harus segera sembuh agar bisa membalas semua kejahatan Claudia.
Wanita paruh baya itu saat ini masih berada di dalam kantor polisi karena perbuatan jahatnya. Pengacara yang disewa oleh Abinaya sudah berulangkali mendatangi pengacara Reyno agar mereka bisa menyelesaikan masalah itu melalui jalur damai.
Namun, Reyno jelas-jelas tidak akan membiarkan itu terjadi. Apa yang dilakukan oleh Claudia sudah sangat keterlaluan. Reyno tidak peduli walaupun Claudia saat ini sudah tidak lagi muda. Siapapun yang berbuat jahat harus menanggung semua akibat kejahatannya.
Apalagi, Apa yang dilakukan oleh Claudia itu tidaklah main-main. Perempuan itu sudah berulang kali ingin membunuh Indira. perempuan baik dan tidak bersalah yang merupakan menantunya sendiri.
"Aku ingin pergi dari sini, Rey. Aku ingin menenangkan diri. Dadaku terasa sakit, Rey. Aku nggak kuat," ucap Indira akhirnya.
Air mata yang sedari tadi dia tahan airnya mengalir juga. Indira sungguh tidak tahan. Beberapa hari ini, dia berusaha kuat agar orang-orang tidak khawatir padanya. Termasuk Reyno. Namun, kali ini dia tidak bisa lagi menahannya.
__ADS_1
"Bisakah kamu membawaku pergi jauh dari sini, Rey? Aku sungguh tidak tahan." Reyno menggenggam tangan Indira yang bergetar.
"Tentu saja. Aku siap membawamu kemanapun kamu mau." Reyno menarik perempuan itu dalam pelukannya.
Lelaki itu membiarkan Indira menangis dalam pelukannya. Perempuan itu menumpahkan segala rasa sakit, dan juga kemarahan yang sedari kemarin ditahan olehnya.
Kecelakaan yang menyebabkan keguguran, kehilangan suami dan mendapati kenyataan jika sang mertua yang bersikap sangat kejam padanya selama ini ternyata adalah ibu kandungnya. Semua kenyataan itu membuat Keira hancur. Namun, dia tidak bisa berbicara apapun.
Kesakitan demi kesakitan terus dirasakannya semenjak dia memutuskan menikah dengan Nathan. Pria yang dulu sangat mencintainya sehingga Indira pun rela memberikan kesuciannya pada pria itu.
"Katakan kemana kamu ingin pergi sekarang, aku akan menyiapkan semuanya. Kamu hanya tinggal ikut saja denganku." Reyno mengusap lembut rambut Indira.
"Kemanapun?" Indira mendongak menatap Reyno.
"Iya. Kemanapun kamu mau."
"Aku ingin bercerai, Mas." Suara Indira kembali terngiang di telinga Nathan.
Lelaki itu kini sedang berada di kantor. Dia meninggalkan Indira di rumah sakit sendirian karena dia tidak mungkin terus menerus meninggalkan pekerjaannya di kantor meskipun dia sendirilah pemilik perusahaan itu.
"Aku tidak mungkin terus berada di sisimu sementara selama ini kamu hanya mementingkan Clara. Aku lelah, Mas." Suara Indira kembali terdengar membuat Nathan tidak berkonsentrasi pada pekerjaannya.
Sebelum meninggalkan rumah sakit, Nathan dan Indira bertengkar. Pria itu merasa kesal karena Indira terus menerus membicarakan tentang perceraian.
Nathan benar-benar tidak suka. Lelaki itu sangat mencintai Indira bagaimana mungkin dia menceraikan wanita itu?
__ADS_1
Memang benar apa yang dikatakan Indira kalau selama ini perhatiannya hanya untuk Clara. Dia tidak pernah bersikap adil pada Indira. Nathan lebih condong pada Clara dibandingkan pada Indira.
Lelaki itu bahkan memperlakukan Indira seperti istri simpanan di rumahnya sendiri karena Nathan hanya akan menemui Indira saat Clara tidak ada di rumah.
Nathan memperlakukan istri pertamanya itu seperti selingkuhan. Dia takut istri keduanya mengetahui kalau dirinya seringkali menemui Indira. Padahal, Indira adalah istri pertamanya, tetapi, dia justru kalah oleh Clara yang hanya berstatus sebagai istri kedua.
Nathan selalu menyuruh Indira untuk bersabar dan terus bertahan di sisinya meskipun pria itu menyadari kalau dia tidak pernah memperlakukan Indira dengan baik.
Egois?
Ya! Nathan memang seegois itu setelah menyadari betapa cintanya begitu besar pada Indira.
Bayangan pertengkarannya dengan Indira kembali melintas di kepalanya.
"Aku tidak akan pernah menceraikan kamu, Dira. Aku mencintaimu!" Suara Nathan meninggi.
"Cintamu tidak bisa membuatku bahagia, Nathan. Aku tidak pernah bahagia selama menikah denganmu." Indira menatap Nathan dengan air mata yang mengalir pada pipinya.
"Selama ini aku menahan semuanya. Aku mencoba mengerti kamu, aku selalu mencoba bersabar menghadapi sikap kamu yang selalu berpihak pada Clara. Aku ...." Indira menatap Nathan dengan rasa sakit di hatinya. Begitupun Nathan, yang hatinya serasa diremas-remas mendengar kata-kata yang keluar dari mulut perempuan itu.
"Aku ... aku kesakitan, Mas." Tangis Indira pecah.
"Aku benar-benar sudah tidak tahan lagi. Semuanya terlalu menyakitkan. Aku tidak sanggup ...."
"Indira."
__ADS_1