PENYESALAN MERTUA KEJAM

PENYESALAN MERTUA KEJAM
SYOK


__ADS_3

Indira baru saja selesai melakukan pemeriksaan kandungan. Wanita itu berniat pulang setelah bertemu dengan Reyno. Namun, sepertinya sahabatnya itu sedang sibuk sehingga ia tidak bisa bertemu dengan pria itu.


Beberapa kali Indira menghubungi Reyno, tetapi, pria itu tidak mengangkat panggilan teleponnya. Indira memutuskan pulang karena Reyno tidak bisa dihubungi.


Perempuan yang sedang hamil lima bulan itu melangkah keluar dari rumah sakit. Indira berhenti sebentar di pinggir jalan raya. Wanita itu ingin memesan taksi online melalui ponselnya.


Indira yang sedang serius tidak menyadari jika ada sebuah mobil yang kini melaju kencang ke arahnya. Posisi Indira yang berdiri di pinggir jalan tentu saja membuat wanita itu berada dalam bahaya. Namun, Indira tidak menyadarinya.


Wanita itu masih memegang ponselnya. Berkutat dengan aplikasi penyedia jasa ojek dan taksi online.


"Indira, awas!" Suara teriakan seseorang membuat Indira tersentak kaget. Apalagi, saat dia merasakan seseorang menarik tubuhnya kemudian mendekapnya.


Reyno baru saja sampai di depan rumah sakit. Lelaki itu baru saja berlari karena dia ingin menemui Indira. Saat Indira menelepon tadi, Reyno sedang menangani pasien. Oleh karena itu, Reyno membiarkan panggilan teleponnya.


Sementara itu, di sebelahnya, sebuah mobil yang baru saja akan menabrak Indira melaju kencang.


"Kamu tidak apa-apa?" Reyno melepaskan pelukannya. Pria itu menangkup wajah Indira yang terlihat pucat.


Indira masih terlihat syok karena kejadian tadi.

__ADS_1


Tubuhnya terasa lemas dan gemetaran. Baru saja Reyno ingin bertanya lebih lanjut, wanita itu tiba-tiba tidak sadarkan diri.


Reyno membopong tubuh Indira, kemudian berlari ke rumah sakit. Lelaki itu berteriak memanggil petugas medis. Beberapa orang berseragam perawat berlarian mendorong brankar mendekati Reyno yang menggendong Indira.


Mereka membawa Indira ke ruang IGD.


Reyno mengepalkan tangannya. Wajahnya terlihat panik sekaligus marah. Lelaki itu itu saat ini sedang mengingat beberapa angka yang tertera di plat mobil yang hampir saja menabrak Indira. Reyno memang sempat melihat plat nomor mobil itu saat kejadian yang menimpa Indira tadi.


Lelaki itu kemudian mengambil ponsel dalam saku snellinya. Reyno menelepon seseorang.


Setelah menceritakan kejadian yang menimpa Indira pada seseorang di seberang telepon, Reyno menutup panggilan teleponnya.


Bukan tanpa alasan Reyno menduga kalau mobil itu memang sengaja berniat menabrak Indira. Akan tetapi, saat pria itu ingin mendekati Indira yang sedang berdiri di pinggir jalan, Reyno melihat mobil itu melaju kencang ke arah Indira. Beruntung, dia bisa tepat waktu berlari untuk menarik tubuh wanita hamil itu. Kalau tidak, entah apa yang akan terjadi pada sahabatnya itu.


"Semoga kamu baik-baik saja, Dira. Kamu sudah cukup menderita dengan perbuatan suamimu, semoga saja kamu tidak mengalami sesuatu yang membuat hidupmu semakin hancur," batin Reyno sambil menatap pintu ruangan IGD.


Pandangan Reyno mengarah pada tas Indira saat mendengar suara dering ponsel di dalamnya.


Reyno membuka tas wanita itu kemudian mengambil ponsel yang terus saja berbunyi.

__ADS_1


Reyno mengembuskan napas panjang. Lelaki itu menetralkan perasaannya saat melihat nama yang tertera pada layar ponsel tersebut.


"Halo, Dira. Kamu ada di mana Sayang? Aku sengaja pulang cepat biar bisa nganterin kamu ke rumah sakit, tapi kamu nggak ada." Suara Nathan terdengar di ujung sana.


"Indira berada di ruang IGD. Tadi dia pingsan setelah sebuah mobil hampir saja menabraknya."


"Apa?" Nathan sungguh terkejut mendengar ucapan Reyno.


"Kamu–"


"Saya dokter di rumah sakit di mana istri Anda dirawat. Sebaiknya Anda segera datang ke rumah sakit karena istri Anda pasti saat ini sangat membutuhkan Anda!" Reyno mematikan panggilan telepon secara sepihak.


Namun, baru saja Reyno ingin memasukkan ponsel itu ke dalam tas, benda pipih itu kembali bergetar.


"Bisakah Dokter memberitahu di mana alamat rumah sakit tempat istri saya dirawat?" Suara Nathan terdengar membuat Reyno menggeram kesal.


Keterlaluan sekali pria yang menjadi suaminya Indira itu. Bagaimana mungkin dia tidak tahu alamat rumah sakit di mana istrinya seringkali memeriksa kehamilannya.


"Istri Anda dirawat di rumah sakit tempat dia biasa memeriksa kehamilannya. Jangan bilang, kalau Anda bahkan tidak tahu di mana istri Anda melakukan pemeriksaan kehamilan?"

__ADS_1


BERSAMBUNG ....


__ADS_2