
Sesuai rencana, Indira benar-benar keluar dari rumah sakit tanpa menunggu suaminya datang. Wanita itu sudah bulat ingin meninggalkan Nathan.
Sesuai surat perjanjian yang sudah mereka tanda tangani bersama sebelum pernikahannya dengan Nathan.
Saat itu, Clara, Nathan dan juga dirinya membuat surat perjanjian yang mengatakan kalau dia akan bercerai dengan Nathan setelah bayi itu lahir.
Meskipun sakit, saat itu yang ada dalam pikiran Indira adalah bagaimana caranya agar anak yang berada dalam kandungannya bisa mempunyai ayah. Biar bagaimanapun, Nathan harus bertanggung jawab atas kehamilannya karena pria itulah yang telah merenggut mahkotanya meskipun Indira mengakui jika mereka melakukannya atas dasar suka sama suka.
Seharusnya, dari awal Indira sadar bahwa se*ks sebelum pernikahan itu adalah dosa besar. Selain dosa, pihak perempuan juga yang paling dirugikan. Namun, saat itu logikanya lumpuh akibat rasa cintanya pada Nathan yang begitu besar.
Lelaki itu sangat pandai merayunya sehingga setiap kali Nathan menginginkannya, Indira tidak pernah bisa menolak. Kini, penyesalan itu sudah tidak ada lagi gunanya. Apalagi, benih yang berhasil tumbuh itu kini sudah tidak ada lagi.
Tidak ada lagi alasan buat Indira untuk tetap bersama Nathan karena satu-satunya alasan Indira untuk menikah dengan Nathan sudah tidak ada lagi.
Cinta?
Rasa cinta itu perlahan menghilang semenjak Nathan menolak menikah dengannya karena lebih memilih Clara dibandingkan dirinya.
__ADS_1
Indira yang kecewa pada sikap Nathan yang mengatakan sudah tidak menginginkannya lagi perlahan-lahan berusaha menghilangkan rasa cintanya pada Nathan yang awalnya begitu besar.
Selama ini, Indira bersikap baik karena dirinya ingin kembali membuat Nathan jatuh cinta lagi padanya. Dia ingin membalas dendam pada Nathan yang telah mengkhianatinya.
Saat masih berpacaran, Nathan selalu menjanjikan pernikahannya padanya. Namun, tidak disangka lelaki itu ternyata mengkhianatinya dengan berselingkuh dengan Clara. Indira bahkan baru tahu jika Nathan akan menikahi wanita itu.
Seandainya Indira tidak hamil dan meminta pertanggungjawaban pada Nathan, wanita itu pasti tidak akan pernah tahu jika lelaki yang sangat dicintainya selama ini ternyata berhubungan dengan wanita lain di belakangnya.
Kini, rasa cintanya pada Nathan sudah tidak sebesar dulu lagi. Indira sudah yakin akan meninggalkan pria itu.
Wanita itu ingin pergi ke suatu tempat untuk menenangkan diri.
"Kamu sudah siap?" Suara lembut Reyno membuyarkan lamunan Indira.
"Aku sudah siap," jawab Indira mantap dengan senyum yang dipaksakan pada bibirnya yang masih terlihat pucat.
Reyno membantu Indira duduk di atas kursi roda. Dokter tampan itu kemudian mendorong kursi roda itu keluar dari rumah sakit.
__ADS_1
Lelaki itu berjanji akan melakukan apapun untuk menolong wanita itu. Dia tidak peduli meskipun nantinya Nathan akan marah dan menuduhnya melarikan Indira.
Bagi Reyno, kebahagiaan Indira adalah yang terpenting saat ini. Luka akibat kecelakaan yang dialami oleh Indira memang belum sepenuhnya membaik, begitupun luka bekas operasi di perutnya.
Namun, luka-luka itu akan segera sembuh jika diobati. Sedangkan luka hati? Indira akan memerlukan banyak waktu untuk menyembuhkan luka hatinya.
Bukan hanya luka akibat pengkhianatan Nathan dan perlakuan lelaki itu. Akan tetapi juga luka akibat perbuatan Claudia padanya.
Sampai saat ini, Indira memang belum membuka pembicaraan tentang Claudia. Tetapi, Reyno sangat yakin jika perempuan itu sedang menyembunyikan semua kekecewaannya terhadap wanita yang ternyata adalah ibu kandungnya tersebut.
"Kamu ingin pergi ke mana?" Reyno menatap Indira yang kini duduk di sebelahnya. Kini, mereka berdua sudah berada di dalam mobil.
"Terserah kamu membawaku ke mana."
"Kamu yakin?" Reyno memastikan.
"Saat ini orang yang aku percaya hanya kamu, Rey. Seandainya kamu pun mengkhianatiku, aku anggap saja semua adalah takdir."
__ADS_1
"Indi."