PENYESALAN MERTUA KEJAM

PENYESALAN MERTUA KEJAM
BERTEMU IBU PANTI


__ADS_3

"Ibu!" seru Indira dengan senyum mengembang.


Seseorang yang dipanggil ibu itu menoleh ke arah suara. Kedua matanya membola. Wajahnya tersenyum haru melihat wanita hamil yang kini menghampirinya.


"Ibu ...." Indira menghambur pada pelukan wanita baya yang merentangkan tangan menyambut pelukannya.


"Dira, ini kamu, Nak?" Perempuan itu memeluk Indira dengan erat. Menyalurkan kerinduannya pada anak angkat yang sudah berbulan-bulan tidak pernah bertemu.


"Iya, Bu. Ini Dira. Dira kangen sama Ibu." Indira melepaskan pelukannya pada ibu angkatnya yang bernama Santi.


Perempuan berhijab itu kemudian mencium tangan Ibu Santi dengan takzim. Kedua mata Indira berkaca-kaca. Setelah berbulan-bulan tidak bertemu, Indira sungguh tidak menyangka jika dia akan bertemu dengan ibu angkatnya selama di panti asuhan.


Wanita yang telah merawatnya dari semenjak dia bayi hingga dewasa. Indira meninggalkan panti asuhan setelah dia dewasa dan mengenal Nathan.


Saat itu, Nathan memberinya tempat tinggal gratis sehingga akhirnya Indira memutuskan untuk pergi dari panti asuhan dan bekerja untuk membantu mereka dan membalas jasa Ibu Santi dan orang-orang yang dulu pernah merawatnya saat di panti asuhan.


"Maafkan Dira, Bu. Dira tidak pernah mengabari Ibu dan juga tidak sempat berkunjung ke panti asuhan untuk menemui Ibu." Indira berkata dengan nada menyesal.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Nak. Ibu tahu kamu pasti sibuk. Ibu juga minta maaf karena dulu Ibu tidak bisa menghadiri pernikahan kamu. Maafkan Ibu, Nak." Ibu Santi mengusap kepala Indira yang tertutup hijab.


"Ibu suka dengan penampilanmu yang sekarang. Kamu sangat cantik, Dira." Ibu Santi tersenyum. Kedua matanya berbinar saat melihat perut Indira yang terlihat membuncit.


"Kamu hamil, Sayang?" I u Santi mengusap perut Indira.


"Iya, Bu. Sudah jalan lima bulan. Hanya tinggal menunggu beberapa bulan lagi, aku akan menjadi seorang ibu," ucap Indira dengan senyum yang mengembang pada wajahnya.


Indira mengakui, jika dia membenci Nathan. Namun, dia tidak pernah membenci kehadiran calon bayinya yang kini bersemayam dalam rahimnya.


"Alhamdulillah! Ibu sangat senang melihat kamu sehat seperti ini, Dira." Ibu Santi tersenyum sambil terus mengusap perut Indira.


Pandangan matanya tertuju pada teman-temannya dan beberapa anak panti yang sedari tadi melihat interaksi antara Indira dan Ibu Santi.


Ibu Santi mengenalkan Indira pada teman-temannya dan juga adik-adik panti.


Sementara itu, Claudia yang sedari tadi memperhatikan Indira tampak terkejut saat melihat perempuan baya yang saat ini sedang berbicara dengan Indira dan terlihat sangat akrab.

__ADS_1


Claudia mengusap kedua matanya untuk meyakinkan pandangannya jika dia memang tidak salah melihat.


"Benar. Itu memang benar dia. Aku masih sangat jelas mengingat wajah wanita itu meskipun sudah bertahun-tahun berlalu," batin Claudia saat dia yakin jika dia mengenali perempuan tua yang saat ini sedang berbicara dengan Indira.


Claudia dengan tatapan penasaran bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati Indira.


"Dira, kamu ngapain lama-lama di sini?" Claudia sengaja memancing pembicaraan agar dia bisa melihat wajah perempuan tua dengan hijab panjang yang tampak akrab dengan menantunya.


Claudia hanya ingin meyakinkan sekali lagi jika Ibu Santi adalah orang yang pernah ditemuinya pagi itu.


Pagi yang sangat disesali sampai hari ini.


Kedua mata Claudia membesar saat melihat dengan jelas wajah Ibu Santi dari dekat.


"Ibu panti?"


BERSAMBUNG ....

__ADS_1


__ADS_2