
Hari yang telah ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Hari ini adalah hari pernikahan Nathan dan Clara.
Semenjak insiden pagi itu, Indira sama sekali tidak menegur Nathan. Begitupun Nathan, dia sadar kalau dirinya bersalah. Tetapi, untuk meminta maaf pada Indira laki-laki itu terlalu gengsi.
Pembelaan dari ibunya membuat Nathan besar kepala dan menganggap Indira tidak berarti meskipun hati kecilnya menolak. Biar bagaimanapun, Indira adalah perempuan yang sangat atau pernah dicintainya.
Nathan pernah merasakan bagaimana ia begitu tergila-gila pada Indira sampai nekad menodainya karena dia tidak mau Indira direbut oleh pria lain.
Indira masih terbaring di atas ranjang saat seseorang masuk ke dalam kamarnya. Padahal, perasaan dia sudah mengunci pintu kamar tadi malam.
Pagi itu, Indira merasa tidak enak badan. Tubuhnya panas dingin. Mungkin karena dia kelelahan. Ibu mertuanya menyuruhnya mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa saat pernikahan Nathan dengan Clara.
Dibantu asisten rumah tangganya yang lain, wanita yang sedang hamil muda itu bekerja sampai tengah malam. Pernikahan suaminya akan digelar di hotel mewah. Tetapi, entah kenapa ibu mertuanya begitu repot mempersiapkan segala sesuatu yang seharusnya juga sudah dipersiapkan oleh pihak hotel.
"Dira." Nathan mendekati wanita yang berstatus sebagai istrinya, tetapi, tidak diperlakukannya dengan baik.
Pria itu menatap wajah Indira yang terlihat pucat. Tangannya terulur mengusap wajah Indira yang masih tertidur.
Tidak biasanya Indira masih tertidur di jam segini. Biasanya dia sudah sibuk di dapur bersama dengan asisten rumah tangga untuk memasak. Jika tidak, ibunya tidak akan segan-segan memarahinya bahkan sampai memukulnya.
__ADS_1
Nathan tersentak kaget saat merasakan suhu tubuh Indira yang sangat panas. Indira demam. Pantas saja dia belum bangun jam segini.
Rasa bersalah mengalir ke ruang hati Nathan. Dia melihat bagaimana perlakuan ibunya pada Indira, tetapi, Nathan tidak bisa berbuat apa-apa.
Rasa hormatnya pada sang mama mengalahkan rasa cintanya pada Indira. Tidak! Bukankah dirinya sudah tidak mencintai Indira lagi? Tetapi, kenapa perasaannya sangat sakit melihat Indira seperti ini?
Nathan sedang mencoba menyangkal perasaannya sendiri. Jelas-jelas, dalam hatinya yang paling dalam dirinya masih menginginkan wanita itu, tetapi, kenapa ia terus menyangkalnya?
Rasa cintanya pada Indira dan Clara sama-sama besar. Namun, Nathan jelas lebih memilih Clara karena Clara menurutnya jauh lebih baik dari Indira.
Wanita cantik penuh pesona seperti Clara jelas sangat pantas bersanding dengannya dibandingkan dengan Indira yang begitu sederhana dan lemah lembut.
Wajah cantik Clara dan penampilannya yang elegan membuat wanita itu sangat pantas bersanding dengannya untuk dipamerkan pada teman-temannya.
"Dira." Nathan kembali menempelkan punggung tangannya pada kening Indira. Melihat Indira yang masih terdiam dengan kedua mata terpejam dan suhu tubuhnya yang panas membuat Nathan seketika panik.
Bayangan wajah Clara seketika menghilang. Nathan bergegas keluar dari kamar Indira, menemui asisten rumah tangganya untuk meminta obat demam. Namun, baru saja Nathan keluar dari kamar Indira, Claudia yang masih berjalan di atas tangga, berteriak memanggil Indira.
"Indira!"
__ADS_1
"Indira!"
Nathan mendekati ibunya yang kini sudah terlihat cantik. Satu jam lagi, mereka bersiap ke hotel tempat resepsi pernikahannya dengan Clara diadakan.
"Indira demam, Ma. Dia tidak mungkin ikut ke hotel." Nathan menatap sang mama, mencoba memberikan pengertian.
Tubuh Indira demam, tidak mungkin dia memaksa Indira untuk datang ke pernikahannya dengan Clara. Nathan sungguh tidak mengerti kenapa mamanya begitu ngotot ingin membawa Indira ke sana.
"Kamu pikir mama percaya? Mama tahu, kalau dia hanya berpura-pura saja. Semalam saja dia baik-baik saja. Tidak mungkin pagi ini dia langsung demam bukan?" Claudia bergegas melangkah ke kamar Indira. Namun, Nathan segera menyusulnya.
"Ma, aku tidak bohong. Indira benar-benar demam. Badannya panas banget." Nathan kembali membujuk ibunya.
"Alah! Kamu ini, mau-maunya dibohongi oleh wanita sialan itu. Lagian kamu kenapa sih? Kenapa kamu belain dia? Kamu udah nggak sayang lagi sama mama?"
"Ma!" Nathan berteriak kesal. Pria itu mencoba menghalangi ibunya. Namun, dengan kasar Claudia mendorong tubuh Nathan.
"Minggir! Jangan halangi mama!" teriak Claudia. Wanita itu menerobos masuk kemudian langsung membuka selimut yang menutupi tubuh Indira dengan kasar.
"Mama!"
__ADS_1
BERSAMBUNG ....