
Indira menatap Nathan dengan tajam. Rasa cinta bercampur rasa sakit juga kebencian menyatu dalam hatinya hingga saat mendengar ucapan Nathan, rasanya ia ingin sekali tertawa.
"Apa kamu bilang, puaskan aku malam ini?" Indira mencibir.
"Kamu pikir, setelah apa yang kamu lakukan padaku, aku akan menuruti semua keinginanmu, Nathan Abinaya?" Indira menatap Nathan yang tampak terkejut mendengar ucapannya.
"Jangan mimpi!" Indira melepaskan tangan Nathan yang melingkar pada perutnya.
Namun, tentu saja Nathan tidak melepaskannya begitu saja. Apa yang dikatakan oleh Indira melukai harga dirinya. Ia sungguh tidak menyangka kalau sekarang Indira begitu berani melawannya.
"Sepertinya, kamu lupa kalau kamu adalah istriku, Dira. Kita sudah menikah jadi aku bebas menyentuhmu!" Nathan mengeratkan pelukannya. Tangannya sudah bergerak merangsang titik sensitif di tubuh Indira.
Indira mencoba memberontak, tetapi, Nathan justru semakin tidak mau melepaskannya.
"Kita bahkan sudah melakukannya sebelum kita menikah. Tapi, kenapa di saat kita sudah menikah, kamu malah tidak mau memuaskan aku?" Nathan terus memaksa Indira meskipun perempuan itu terus memberontak.
Gairahnya semakin naik melihat Indira yang terlihat begitu seksi saat menolaknya.
"Lepaskan aku, Nathan!" Indira terus berusaha memberontak, tetapi, lelaki itu terus memaksanya.
"Aku akan melepaskan kamu setelah aku puas." Nathan menarik tengkuk Indira kemudian memaksa mencium bibir wanita itu.
Pada akhirnya, Indira tidak bisa melawan saat Nathan dengan kasar melucuti pakaiannya satu persatu dengan paksa.
Wanita itu hanya bisa menangis sambil mengusap perutnya. Berharap, janin yang ada dalam kandungannya itu baik-baik saja saat Nathan menghujam tubuh bagian intinya dengan brutal.
"Brengsek, kau, Nathan!"
__ADS_1
Indira memejamkan mata saat rasa sakit menghantam hatinya hingga hancur berkeping-keping. Apa yang dilakukan oleh Nathan hari ini menunjukkan jika cinta Nathan memang sudah tidak ada lagi untuknya.
Nathan yang dikenalnya dulu, bukanlah Nathan yang seperti ini. Meskipun mereka seringkali melakukan dosa, tetapi, Nathan tidak pernah memaksa Indira untuk melayaninya.
Sedangkan kini, Nathan justru memperkosanya karena Indira tidak mau melayaninya.
Air mata Indira mengalir membasahi pipinya. Tubuhnya serasa remuk redam. Sementara itu, Nathan terus bergerak semakin cepat di atas tubuh Indira hingga akhirnya mengerang saat nikmatnya surga dunia akhirnya ia dapatkan.
Nathan tampak tertegun sebentar saat melihat air mata yang mengalir di pipi Indira. Ada rasa tak tampak yang menyelinap ke ruang hatinya dan seolah *******-***** jantungnya.
"Bajingan!" Indira mendorong tubuh Nathan dari atas tubuhnya.
"Dira ...."
****
"Indira!"
Wanita itu sangat marah karena sudah hampir jam enam pagi Indira belum juga keluar dari kamarnya. Seharusnya wanita itu kini sedang memasak. Bergabung dengan asisten rumah tangganya yang kini sedang memasak di dapur.
"Indira!" Saking kesal, wanita paruh baya berambut pendek itu menggedor pintu kamar Indira.
"Maafkan saya, Nyonya. Sa–saya kesiangan." Indira menjawab dengan gugup.
Untung saja dia sudah membersihkan kamarnya dari kekacauan yang dibuat oleh Nathan semalam. Kalau tidak, Indira pasti merasa malu melihat ibu mertuanya tiba-tiba datang ke kamarnya.
"Dasar pemalas! Jam segini kamu baru bangun. Memangnya apa yang kamu lakukan semalaman sampai-sampai kamu bangun kesiangan?!" Claudia tidak terima mendengar jawaban Indira. Wanita itu kemudian menerobos masuk ke dalam kamar yang ditempati oleh Indira.
__ADS_1
Kedua matanya melotot saat melihat siapa yang sedang tertidur pulas di ranjang Indira.
"Nathan! Apa-apaan kamu ini? Kenapa kamu tidur di dalam kamar wanita murahan itu?" Suara Claudia melengking membuat Nathan yang awalnya tidak terganggu dengan suara teriakan ibunya langsung terbangun.
Sedangkan Indira, wanita itu melangkah keluar kamar sambil mengusap air matanya yang keluar saat kembali mendengar mertuanya menyebutnya wanita murahan.
Wanita murahan?
Mungkin memang benar kalau dia adalah wanita murahan. Kalau dia tidak murahan, tidak mungkin dia hamil di luar nikah bukan?
"Indiraa!"
Indira menghentikan langkahnya. Namun, belum sempat dia menjawab panggilan Claudia, wanita yang menjadi ibu mertuanya itu sudah menampar wajahnya dengan kencang hingga membuat Indira hampir saja terjatuh saking kerasnya tamparan itu.
"Wanita ******! Berani-beraninya kau menggoda putraku!"
Claudia dengan marah meraih kerah baju Indira.
"Dengar, wanita murahan! Aku tidak pernah menyetujui pernikahan sirimu dengan Nathan. Sampai kapanpun aku tidak akan menyetujuinya!" Tangan Claudia beralih ke rahang Indira.
"Minggu depan Nathan akan menikah dengan Clara, jadi, jangan coba-coba kau merayu Nathan untuk tidur di kamarmu. Jika itu sampai terjadi, aku tidak akan segan-segan membunuh bayimu!"
Bola mata Indira melotot mendengar ucapan Claudia.
"Dasar ****** tidak tahu diri!" Claudia mendorong tubuh Indira hingga tubuh perempuan itu hampir saja terjatuh. Beruntung, seseorang datang menahan tubuh Indira hingga wanita itu urung terjatuh.
"Kau benar-benar keterlaluan, Claudia!"
__ADS_1
BERSAMBUNG ....