PENYESALAN MERTUA KEJAM

PENYESALAN MERTUA KEJAM
TUMPAH


__ADS_3

Indira baru saja ingin meminum susu yang baru saja selesai dibuat olehnya. Namun, baru saja wanita hamil itu ingin meminumnya, dia teringat camilan yang dibelikan Bi Inah pagi tadi.


Seperti biasanya, Indira akan memesan makanan atau barang yang diinginkannya pada Bi Inah saat asisten rumah tangga mertuanya itu pergi berbelanja kebutuhan dapur.


Indira melangkah menuju kulkas. Sebelum makan malam tadi, Bi Inah mengatakan kalau camilan yang ia pesan tadi siang sudah disimpan di dalam kulkas.


Saat Indira ingin mengambil camilan di kulkas, Claudia yang sedari tadi mengendap-endap langsung beraksi.


Wanita paruh baya itu kemudian mengeluarkan botol berisi obat penggugur kandungan yang dia beli tadi siang.


Claudia tersenyum smirk sambil menatap Indira yang sama sekali tidak menyadari kehadirannya. Wanita paruh baya itu kemudian bergegas pergi setelah berhasil mencampur obat itu dengan susu hamil yang masih terasa hangat itu.


"Setelah anak ini mati, aku akan langsung mengusirmu dari sini, Wanita murahan! Wanita sepertimu tidak pantas bersanding dengan Nathan, anakku. Aku akan menyuruh Nathan menceraikanmu dengan segera setelah kau mengalami keguguran," batin Claudia.


Sesampainya di kamar, wanita itu tertawa puas. Apalagi, saat membayangkan Indira yang menangis-nangis saat Nathan menceraikannya dan mengusirnya dari rumah.


"Ini belum apa-apa, Indira. Aku bisa saja melakukan yang lebih kejam dari ini jika kamu masih tetap bersikeras tinggal di rumah ini." Claudia kembali tertawa senang membayangkan apa yang akan terjadi beberapa saat lagi.


Penjual obat itu mengatakan jika obat itu sangat ampuh dan mempunyai reaksi yang cepat. Claudia sungguh tidak sabar menunggunya.


Wanita paruh baya itu bahkan rela menahan kantuk demi mendengar kabar gembira itu.


***

__ADS_1


Indira sudah memegang gelas berisi susu itu dan siap meminumnya. Namun, tiba-tiba gelas itu meluncur jatuh dari pegangannya. Beruntung, gelas itu tidak pecah karena hanya jatuh di atas meja dan langsung dipegang oleh Indira.


Indira menatap gelas yang reflek dipegangnya dengan kedua tangan dalam posisi tidur. Susu di dalamnya tumpah membasahi taplak meja tebal berwarna putih dengan corak bunga yang menutupi meja makan berbahan kaca.


Indira mengembuskan napas panjang. Kedua bola matanya menatap kedua tangan dan camilan dalam toples secara bergantian.


Tangannya baru saja memegang camilan, kemudian langsung memegang gelas susu. Indira menatap tangannya yang belepotan dan sedikit berminyak. Kepalanya menggeleng pelan.


Sambil berdecak pelan, Indira kemudian bangkit dari duduknya. Indira berniat membersihkan kekacauan yang dia buat.


Akan tetapi, Bi Inah tiba-tiba datang dan sangat terkejut melihat apa yang terjadi.


"Non Indira!" pekik Bi Inah saat melihat Indira bangkit dari kursi. Wanita itu bergegas mendekati Indira saat melihat tumpahan susu di atas lantai.


"Apa yang terjadi, Non? Non Indira tidak kenapa-kenapa 'kan?" tanya Bi Inah khawatir.


"Aku nggak apa-apa, Bi. Tadi aku mau minum susu, eh, susunya malah tumpah. Tanganku kotor, jadi gelasnya licin," terang Indira.


Bi Inah mengangguk mendengar ucapan Indira. Wanita itu menyuruh Indira bangun setelah memastikan kalau lantai itu kering dan tidak licin.


"Non Indira tunggu saja di kamar, biar bibi bikinin susunya buat Non."


"Tapi, Bi–"

__ADS_1


"Nggak ada tapi-tapian. Ini sudah malam, waktunya Non istirahat. Inget, Non, besok pagi Non Indira harus menyiapkan diri dan hati untuk menyambut pengantin baru." Bi Inah memelankan suaranya di kalimat terakhir.


"Maafkan bibi, Non. Bibi tidak bermaksud lancang. Bibi hanya merasa–"


"Aku baik-baik saja, Bi. Doakan aku dan anakku kuat menjalani cobaan ini."


"Tentu saja, Non. Bibi doakan semoga Non Indira bahagia." Bi Inah mengusap air matanya. Setiap kali mengingat anak majikannya, Nathan yang menikahi Clara, Bi Inah tidak bisa membayangkan bagaimana rasa sakit hatinya Indira menghadapi kenyataan jika suaminya menikah lagi dengan wanita lain.


Bi Inah sungguh merasa kasihan dengan nasib Indira. Wanita itu masih muda tetapi, sudah mengalami penderitaan yang begitu berat. Seandainya Bi Inah yang berada di posisi Indira mungkin dia tidak akan kuat. Bi Inah pasti akan memilih pergi meninggalkan Nathan daripada harus bertahan menahan rasa sakit karena dimadu.


Indira menuruti kata-kata Bi Inah. Perempuan hamil itu melangkah menuju kamarnya. Dia menunggu Bi Inah mengantarkan susu padanya.


***


Claudia sangat terkejut saat dirinya membuka mata dan melihat jam yang tergantung di dinding kamarnya itu menunjukkan waktu jam 07.00 pagi.


Wanita jahat itu ketiduran setelah semalaman menunggu kabar tentang Indira. Saking penasarannya dengan reaksi obat yang dia beli, Claudia rela menahan kantuk. Namun, setelah berjam-jam, Claudia tidak mendapatkan kabar apapun dan akhirnya dia tertidur.


Claudia bergegas ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Setelah rapi, wanita itu dengan semangat empat lima menuju dapur. Ia ingin memastikan apa yang terjadi semalam. Apakah wanita itu sekarang sedang menangisi kepergian bayinya? Ataukah wanita itu saat ini sedang sekarat mengingat dosis yang dia berikan?


BERSAMBUNG ....


Sambil nunggu update, kepoin novel karya temen Author yuk!

__ADS_1



__ADS_2