PENYESALAN MERTUA KEJAM

PENYESALAN MERTUA KEJAM
CEMBURU


__ADS_3

"Kamu jangan khawatir, Rey, aku akan baik-baik saja. Aku janji padamu." Indira menatap wajah khawatir Reyno dengan menyunggingkan senyuman.


"Saat ini mungkin kamu masih baik-baik saja. Tapi besok, lusa–"


"Apa kau sedang menyumpahiku, Rey?" kesal Indira.


"Tidak! Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya–"


"Aku tahu apa yang harus aku lakukan, Rey, kamu nggak usah khawatir."


"Tapi Indi–" Ucapan Reyno terhenti saat terdengar suara pintu terbuka.


"Sayang," ucap seorang pria yang baru saja masuk. Pria itu langsung mendekati Indira dengan wajah yang terlihat sangat khawatir.


"Mas, kamu–"


"Iya, Sayang, Maafkan aku karena aku baru bisa datang ke sini. Tadi aku pulang ke rumah, tapi saat sampai di rumah, aku mendapatkan kabar jika kamu mengalami kecelakaan," jelas Nathan. Lelaki itu mengecup kening Indira kemudian mengusap kepala Indira yang tertutup hijab.


Indira tersenyum manis. Pandangannya beralih pada Reyno yang kini menatap Nathan dengan tajam.


Indira mengembuskan napas panjang melihat Reyno yang menatap Nathan dengan aura permusuhan. Lelaki itu kemudian bangkit dari duduknya.


"Untuk sementara, istri Anda harus bedrest dulu. Dia tidak boleh melakukan pekerjaan apapun demi keselamatan janinnya," ucap Reyno sambil menatap Nathan yang duduk di sebelah Indira.


Nathan mengangguk mendengar ucapan pria berpakaian snelli di hadapannya itu. Netranya menatap Reyno dengan penasaran.

__ADS_1


Dokter pria itu tadi duduk di sebelah ranjang istrinya. Padahal, biasanya seorang dokter akan langsung pergi setelah memeriksa pasiennya bukan?


Mendapati tatapan Nathan yang seolah menyelidik, Reyno mengulurkan tangannya.


"Saya Reyno. Saya yang tadi menelepon Anda dan memberitahu kejadian yang telah menimpa istri Anda."


Nathan tersenyum sambil menjabat tangan Reyno. Meskipun pria itu sangat kesal saat mengingat ucapan Reyno di telepon, tetapi, dia juga sangat berterima kasih karena dokter itu meneleponnya dan memberitahu tentang keadaan Indira.


"Terima kasih karena Dokter sudah menelepon saya dan memberitahu tentang keadaan yang menimpa istri saya," ucap Nathan.


"Sama-sama. Saya hanya menjalankan kewajiban saya sebagai dokter."


Kedua pria itu sama-sama mengangguk sambil tersenyum.


"Istirahatlah! Ingat pesanku baik-baik, Indi," ucap Reyno pada Indira. Lelaki itu tersenyum pada sahabat baiknya itu.


"Aku pegang ucapanmu, Indi. Tapi, jika suatu saat apa yang aku pikirkan itu benar-benar terbukti, kamu tahu kemana kamu harus pergi."


Indira menganggukkan kepala mendengar ucapan Reyno.


"Kamu tenang saja, aku tahu benar apa yang harus aku lakukan jika saat itu tiba." Indira kembali berucap pada Reyno.


Nathan yang sedari tadi memperhatikan interaksi mereka berdua merasa kesal. Lelaki itu merasa cemburu melihat kedekatan Indira dengan dokter itu.


Reyno menghela napas panjang. Netranya menatap ke arah Nathan sekilas. Pria itu terlihat kesal membuat Reyno tersenyum tipis.

__ADS_1


"Tolong jaga istri Anda baik-baik, Pak Nathan. Dari hasil pantauan kamera cctv di rumah sakit, mobil itu memang sengaja ingin menabrak istri Anda."


"Apa?" Nathan begitu terkejut mendengar ucapan Reyno.


"Maksud Dokter, ada orang yang sengaja ingin mencelakai istri saya?"


Anggukan kepala Reyno membuat Nathan kembali terkejut.


"Tidak mungkin, Dokter. Istri saya ini orang baik, dia juga tidak pernah macam-macam. Tidak mungkin dia punya musuh bukan? Apalagi, sampai berniat mencelakainya seperti itu." Nathan merasa khawatir sekaligus tidak percaya.


"Sepertinya Bapak lupa jika orang baik justru berpotensi mempunyai banyak musuh. Banyak orang yang tidak menyukai orang baik karena orang baik itu membuat mereka merasa terancam." Reyno menatap Nathan yang masih terlihat tidak percaya dengan ucapannya.


"Istrimu cantik. Di luaran sana, pasti banyak orang yang menginginkannya. Bisa saja orang yang ingin mencelakai istrimu adalah orang yang merasa kesal karena pacar atau suaminya menyukai istrimu bukan?" Reyno tersenyum tipis karena berhasil memprovokasi Nathan.


Sementara itu, Indira melotot tajam ke arah Reyno.


"Jaga istrimu baik-baik! Panggil dokter jika terjadi sesuatu padanya."


"Baik, Dokter."


Nathan memandangi kepergian Reyno sampai lelaki itu menghilang di balik pintu.


"Sepertinya, kamu sangat dekat dengan dokter itu."


"Jangan berlebihan. Dia hanya dokter yang memeriksaku, tidak lebih," ucap Indira dengan malas.

__ADS_1


"Sayang, memangnya kamu nggak lihat jika dokter itu menyukaimu? Aku tidak suka jika kamu dekat-dekat dengan dia. Aku bahkan tadi mendengar sendiri saat dia menyebut namamu."


"Kamu cemburu sama dia?"


__ADS_2