PENYESALAN MERTUA KEJAM

PENYESALAN MERTUA KEJAM
MENAHAN RASA


__ADS_3

Nathan terpaksa menahan amarahnya saat Clara justru semakin marah saat dia memarahinya. Istri keduanya itu memang benar-benar keras kepala dan selalu membuatnya kesal. Namun, Nathan tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti keinginan wanita itu saat Clara kembali mengancamnya.


Melihat keseriusan Clara, nyali Nathan menciut juga. Jika bukan karena perusahaan dan juga sang papa, Nathan sudah pasti tidak akan memedulikan kemarahan dan juga ancaman Clara padanya.


***


Abinaya menghela napas panjang. Lelaki paruh baya itu benar-benar merasa pusing akibat ulah Clara. Namun, tidak memedulikan ancaman wanita yang berstatus sebagai menantunya itu juga bukanlah keputusan yang benar.


Biar bagaimanapun, perusahaan milik Nathan saat ini sedang bergantung pada perusahaan milik ayah mertuanya. Abinaya memang menikahkan Nathan dengan Clara agar putranya bisa membangun usaha sendiri dengan bantuan Alex. Perusahaan Abinaya tidak sebesar perusahaan Alex. Oleh karena itu, dia memanfaatkan kebaikan Alex untuk membantu Nathan.


Saat Abinaya melakukan perjodohan itu, dia belum tahu kalau Nathan berhubungan dengan Indira. Seandainya dia tahu, lebih baik dia membatalkan perjodohan walaupun nantinya Nathan tidak bisa membangun perusahaan sendiri karena kekurangan modal. Sayangnya, Abinaya terlambat mengetahui semuanya sehingga akhirnya, masalahnya jadi semakin rumit.


Mempunyai dua orang istri bukanlah hal mudah. Apalagi, pernikahan mereka dilakukan atas dasar nafsu bukan agama. Jika pernikahan poligami mereka berlandaskan agama, mungkin kejadiannya tidak akan seburuk sekarang. Meskipun tidak menutup kemungkinan jika berlandaskan sesuai syariat pun akan ada di antara kedua istri itu yang merasa cemburu saat merasa diperlakukan dengan tidak adil.


Biar bagaimanapun, kita adalah manusia biasa. Tidak ada yang sempurna meskipun kita berusaha bersikap adil sekali pun.


Apa yang menimpa Nathan menjadi pelajaran buat Abinaya. Pria itu memikirkan putri tercintanya, Alesha. Abinaya tidak mau apa yang menimpa Nathan terjadi pada Alesha. Pria itu berdoa semoga nasib baik akan selalu berada pada putrinya.


"Semoga Tuhan mengampuni dosaku, dan melindungi putriku dari jeratan pria-pria tidak bertanggung jawab."

__ADS_1


Tiba-tiba saja, Abinaya mengingat tentang karma. Dia tidak mau apa yang dilakukan oleh Nathan justru berbalik pada putri kesayangannya.


***


Setelah bertengkar dengan Clara, Nathan menuju ke kamar Indira. Pria itu ingin mengatakan pada Indira bahwa beberapa hari ke depan, dirinya tidak bisa menemani istri pertamanya itu. Nathan akan menuruti keinginan Clara untuk menjauhi Indira seperti sebelumnya.


Namun, dalam hati Nathan, dia akan mencuri-curi waktu untuk berdekatan dengan Indira. Biar bagaimanapun, Indira adalah istrinya. Apalagi, saat ini perempuan itu sedang mengandung buah hatinya.


"Sayang, gimana keadaan kamu? Apa kamu merasa jauh lebih baik?" Nathan mendekati Indira yang sedang terbaring di atas ranjang.


"Aku baik-baik saja, Mas. Kamu nggak usah khawatir." Indira memperhatikan wajah Nathan yang terlihat kusut. Melihat wajah suaminya yang terlihat tidak bersemangat tentu saja membuat Indira sudah bisa menebak apa yang terjadi.


"Kamu bertengkar dengan Clara, Mas?"


"Dia marah karena kamu merawatku?"


"Dia bukan hanya marah. Tapi dia juga mengancamku. Clara sudah mengatakan rahasia pernikahan kita pada papanya, Dir." Nathan menatap Indira sambil mengusap rambut Indira dengan penuh kasih sayang.


Nathan mendekatkan wajahnya, kemudian mencium bibir pucat Indira.

__ADS_1


"Aku sungguh ingin menemanimu setiap saat sampai kamu pulih, tapi aku juga tidak bisa mengabaikan Clara. Dia mengancam akan menyuruh papanya untuk membatalkan kerjasama dengan perusahaan dan menarik kembali dana yang pernah dia berikan padaku saat membangun perusahaan," ucap Nathan frustasi.


Indira sudah tahu tentang cerita itu karena apa yang dikatakan oleh Nathan adalah alasan yang sering Nathan pakai saat pria itu tidak bisa menemaninya karena Clara melarangnya.


Dalam hati Indira, dia ingin sekali mengatakan pada Nathan, kalau itu adalah resiko karena dia telah menikahi Clara dengan alasan agar dia bisa mempunyai perusahaan sendiri dengan bantuan papanya Clara alias ayah mertuanya.


Entah harus merasa senang atau sedih. Hanya saja, melihat Nathan begitu frustasi, membuat Indira merasa sedih sekaligus senang secara bersamaan.


"Maafkan aku karena mungkin, beberapa ke depan aku tidak bisa menemanimu." Nathan memeluk Indira. Rasanya begitu berat. Padahal, selama menikah dengan Clara, Nathan juga seringkali mengabaikan Indira dan memilih tidur bersama dengan istri keduanya itu.


Namun, entah kenapa, kali ini dia begitu berat menjauh dari Indira. Calon bayi dari anaknya itu kini kembali menguasai hatinya, sehingga membuat Nathan merasa dilema. Pria itu tidak mau menjauh dari Indira tetapi, juga tidak ingin kehilangan perusahaan.


"Tapi aku janji, aku akan berusaha untuk menemuimu diam-diam tanpa sepengetahuan Clara." Nathan melepaskan pelukannya kemudian memindai wajah cantik Indira.


"Tidak perlu menemuiku jika itu memang membuatmu kesulitan, Mas. Lagipula, aku juga sudah terbiasa tanpa kamu."


"Sayang ...."


"Kamu juga jangan lupa, kalau setelah anak ini lahir, kita akan segera berpisah. Bukankah kamu pernah bilang kalau kamu sudah tidak mencintai aku lagi?"

__ADS_1


"Aku mencintaimu, Indira. Dulu, sekarang, dan sampai kapanpun! Dulu aku mengatakan seperti itu karena aku ingin kamu mengizinkan aku menikah dengan Clara, Dira." Nathan berucap dengan penuh rasa bersalah. Apalagi, saat melihat kedua mata perempuan di depannya itu sudah berkaca-kaca.


"Maafkan aku. Tapi, percayalah! Aku mencintaimu. Meskipun saat ini ada Clara bersamaku, rasa cinta yang aku punya untukmu masih sama dan tidak akan pernah berubah sampai kapan pun!"


__ADS_2