
"Apa maksud Bapak? Tidak mungkin istri saya terlibat kejahatan. Apalagi, merencanakan pembunuhan pada menantunya sendiri." Abinaya yang masih terkejut dengan ucapan pria berseragam polisi itu mencoba membela istrinya.
Abinaya tahu kalau Claudia memang sangat membenci Indira. Wanita itu bahkan seringkali menunjukkan ketidaksukaannya pada Indira secara terang-terangan.
Namun, jika sampai melakukan pembunuhan berencana, Abinaya tidak pernah sampai berpikir ke sana. Abinaya hanya tahu kalau istrinya membenci Indira. Dia tidak pernah tahu dan juga tidak pernah membayangkan kalau Claudia akan melakukan hal di luar batas seperti yang polisi katakan.
"Sebaiknya Nyonya Claudia ikut kami, biar semuanya nanti kami jelaskan di kantor."
"Tapi, Pak. Mama saya sedang sakit. Apa Bapak tidak melihat jika dia sedang dirawat?" ucap Nathan emosi.
"Saya sudah bekerja sama dengan dokter. Berdasarkan pemeriksaan dokter, Nyonya Claudia hanya terkejut setelah mendengar Nyonya Indira keguguran. Oleh karena itu, kami tetap akan membawa Nyonya Claudia ke kantor," ucap salah satu petugas kepolisian itu dengan tegas.
"Tapi, Pak–"
__ADS_1
"Kami hanya menjalankan tugas Pak." Petugas itu menyingkirkan Nathan.
Sementara itu, Claudia berteriak tidak terima dengan apa yang dilakukan oleh para petugas itu.
Dalam hati Claudia bertanya-tanya kenapa polisi tiba-tiba menangkapnya. Apa orang suruhannya telah tertangkap karena itu dia ketahuan? Lalu, siapa sebenarnya yang telah melaporkannya ke polisi? Bukankah tidak ada satu orang pun yang tahu tentang kejahatannya kecuali dua orang yang dia suruh untuk mencelakai Indira?
"Ma, apa maksud mereka menangkap Mama dengan tuduhan telah mencelakai Indira?" Nathan merasa penasaran mengajukan pertanyaan pada Claudia yang histeris karena tidak terima jika dirinya ditangkap.
"Mama tidak bersalah, Nathan! Mama tidak bersalah!" teriak Claudia tidak terima.
"Pa! Lepaskan aku, Pa! Aku tidak bersalah. Aku tidak melakukan apapun pada putri kita, mereka salah paham!" Claudia kembali berteriak. Kali ini dia menatap suaminya yang masih terdiam tak percaya.
Abinaya memang masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh polisi. Lelaki paruh baya itu masih belum bisa mempercayai jika istrinya telah berbuat kejahatan. Apalagi, kejahatan itu dilakukan pada menantunya sendiri.
__ADS_1
Beberapa anggota polisi itu itu tetap membawa Claudia meskipun wanita terus berteriak tidak terima.
Nathan kebingungan. Sungguh dia tidak percaya jika ibunya nekad mencelakai istrinya. Nathan tahu, sang mama memang sangat membenci Indira, tetapi, jika Claudia memang sengaja ingin melukai Indira apalagi membunuhnya, rasanya Nathan sungguh tidak mempercayainya.
Bagaimana mungkin sang mama tega melakukan kejahatan pada istrinya?
"Apa Papa percaya jika mama melakukannya pada Indira?" Nathan menatap Abinaya yang bergegas mengikuti polisi yang membawa Claudia.
"Papa akan ke kantor polisi menemani mama kamu. Sebaiknya, sekarang kamu temui Indira. Jangan sampai dia sendirian di sana," ucap Abinaya.
"Tapi, Pa–"
"Jangan membantah, Nathan! Istri kamu lebih membutuhkan kamu sekarang!" teriak Abinaya.
__ADS_1
"Baiklah, Pa. Tolong temani mama dan kabari aku jika terjadi sesuatu pada mama." Abinaya mengangguk kemudian mengikuti Claudia yang sudah dibawa masuk ke dalam mobil polisi.
"Semoga saja apa yang dituduhkan pada mama tidak benar. Seandainya benar, aku tidak akan sanggup membenci mama karena telah tega mencelakai istriku."