PENYESALAN MERTUA KEJAM

PENYESALAN MERTUA KEJAM
RENCANA CLAUDIA


__ADS_3

"Sayang, maafkan aku. Aku sungguh tidak bermaksud mengabaikanmu. Aku hanya membalas pesan dari Indira. Dia baru saja pulang dari rumah sakit. Indira hanya minta uang untuk biaya rumah sakit. Tidak lebih!" Nathan mencoba menjelaskan pada Clara yang saat ini sedang marah padanya.


Wanita itu kesal karena mengetahui Nathan menghubungi Indira. padahal, Nathan baru saja selesai bercinta dengan Clara.


"Aku nggak peduli apapun alasan kamu, Nathan! Aku hanya nggak suka kamu menghubunginya saat kamu ada bersamaku!" teriak Clara.


"Iya, Sayang. Aku minta maaf karena aku sudah menghubungi dia. Aku salah, maafkan aku. Aku janji, aku tidak akan mengulanginya lagi." Nathan mencoba merayu Clara.


Lelaki itu meraih tubuh polos Clara dan langsung memeluknya.


"Maafkan aku, Sayang," ulang Nathan sambil menciumi wajah Clara.


"Lain kali, aku tidak mau lihat kamu menghubunginya di depanku. Mengerti?"


Nathan mengangguk mendengar ucapan Clara.


"Indira itu hanya istri siri. Kamu menikah dengannya karena dia hamil anakmu. Tidak lebih!" Clara menatap ke arah Nathan dengan tajam. Meskipun pada awalnya dia menyetujui Nathan menikah dengan Indira, tetap saja, wanita yang menjadi istri siri Nathan itu cepat atau lambat akan dia singkirkan.

__ADS_1


Wanita mana yang mau dimadu? Dia tidak akan sudi berbagi Nathan dengan Indira. Apalagi, wanita sekelas Indira bukanlah tandingannya. Indira berbeda status dengannya. Bagaikan langit dan bumi.


"Ingat ya, Nathan, aku adalah istri sah kamu. Wanita yang kamu cintai dan kamu pilih sebagai istrimu. Jadi, kamu harus memperlakukan aku lebih istimewa dari Indira. Jangan lupa, ceraikan dia setelah anak itu lahir!"


***


Pagi itu, wajah Indira terlihat cerah. Sudah beberapa hari setelah pulang dari rumah sakit, dia menuruti petunjuk dokter untuk memakan makanan sehat dan tidak boleh stres.


Malam itu, Nathan mengirimkan sejumlah uang yang lumayan banyak meskipun tidak sebanyak uang yang diberikan oleh Reyno. Nathan mengirimkan setengah dari nominal yang diberikan Reyno padanya. Lumayan, bisa buat pegangan.


Setelah mendapatkan uang dari Nathan, Indira membeli beberapa baju hamil dan juga beberapa produk kecantikan yang tentunya aman digunakan untuk ibu hamil.


Meskipun Indira belum sempurna sebagai umat muslim, tetapi, dia ingin sedikit demi sedikit memperbaiki dirinya. Indira bahkan memutuskan menutup auratnya. Wanita itu menggunakan hijab untuk menutupi mahkotanya.


Meskipun sudah menggunakan earphone, suara Claudia tetap terdengar. Suara wanita paruh baya itu memang sangat tinggi. Saat dia marah dan mengomel, suaranya menggema di seluruh ruangan rumah itu.


Seperti biasanya, setiap pagi Indira akan bertugas memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah. Hanya saja, Indira sekarang tidak terlalu memforsir tenaganya. Dia hanya mengerjakan apa yang mampu dia kerjakan.

__ADS_1


Apalagi, Abinaya selalu mengingatkan Indira di depan Claudia agar dia tidak terlalu lelah hingga bisa membahayakan calon bayinya.


Claudia tentunya merasa sangat kesal. Namun, wanita itu tidak berani melawan Abinaya. Dia tidak mau posisinya sebagai nyonya besar Abinaya terancam hanya karena setiap hari dia membuat suaminya kesal.


Abinaya tidak pernah main-main dengan ucapannya. Sekali dia mengatakan ingin meninggalkan Claudia, maka dia akan membuktikannya tanpa pikir panjang.


Claudia hanya bisa mengganggu Indira saat suaminya itu sedang di kantor atau dinas di luar kota. Contohnya seperti sekarang, Claudia mengendap-endap ke arah dapur saat melihat Indira yang sedang asyik membuat segelas susu hamil.


Claudia berniat ingin mencampur obat yang dia beli siang tadi dengan susu yang akan diminum oleh Indira.


Wanita paruh baya itu ingin mempraktekkan ucapan Alesha yang mengatakan tentang menggugurkan bayi.


Claudia tersenyum licik.


"Sebentar lagi, aku pasti akan menendangmu dari sini!"


BERSAMBUNG ....

__ADS_1



__ADS_2