PENYESALAN MERTUA KEJAM

PENYESALAN MERTUA KEJAM
DI MANA ANAKKU?


__ADS_3

Reyno menatap Indira yang baru saja sadarkan diri. Lelaki itu merasa iba melihat sahabatnya itu terlihat tidak berdaya.


Dalam ruangan itu hanya ada Reyno dan ketiga perempuan yang baru Reyno ketahui ternyata berasal dari panti asuhan tempat Indira tinggal.


Sementara itu, Nathan sebagai suami Indira justru tidak terlihat. Sepertinya lelaki itu masih sibuk mengurusi ibunya yang digelandang oleh polisi.


Reyno bertindak cepat melaporkan Claudia ke polisi karena dia sudah tidak tahan. Wanita tua itu begitu jahat karena telah berulang kali mencoba melukai Indira sehingga akhirnya kaki ini orang suruhannya berhasil membuat Indira terluka.


Bukan hanya terluka, Indira juga harus kehilangan bayinya akibat perempuan paruh baya yang berstatus sebagai mertuanya itu.


Sebagai seorang ibu mertua, seharusnya Claudia menganggap Indira seperti anaknya sendiri bukannya menganggap sebagai musuh yang harus disingkirkan.


Sebenci-bencinya mertua pada menantu, biasanya mereka hanya sekedar saling berbalas ucapan atau saling julid. Akan tetapi, ternyata semua itu tidak berlaku buat Claudia.


Perempuan itu belum puas jika belum menyingkirkan Indira dari muka bumi. Sungguh malang sekali nasib Indira. Padahal, dia adalah perempuan yang sangat baik. Akan tetapi, hidupnya dipenuhi oleh orang-orang , yang berbuat jahat padanya.


Bukan hanya ibu mertuanya yang jahat, tetapi, suami beserta adik madunya pun begitu jahat pada Indira.


"Indi ...," ucap Reyno lirih saat perempuan itu membuka mata kemudian menatapnya.


"Rey, aku di mana?"

__ADS_1


Pandangan pertama yang Indira lihat adalah wajah Reyno. Kedua matanya berkeliling ke seluruh ruangan. Indira tidak mendapatkan yang dia cari. Akan tetapi, Indira tersenyum karena di sana dia melihat ibu panti bersama dua orang perempuan yang menemaninya.


"Ibu ...."


"Dira, Sayang ...." Ibu Santi mendekati Indira yang memanggilnya.


"Sakit, Bu ...," lirih Indira saat Ibu Santi memeluknya dengan pelan. Air mata Indira mengalir. Hanya pada Ibu Santi Indira selalu memperlihatkan kelemahannya.


Hanya pada Ibu Santi dia bisa bermanja-manja. Indira belum menyadari kalau saat ini dirinya terluka parah dan kehilangan bayinya.


"Iya, Sayang, kamu yang sabar ya. Kamu baru saja mengalami kecelakaan. Tubuh kamu penuh luka, karena itu kamu merasa kesakitan." Ibu Santi ikut menangis mendengar ucapan Indira.


Betapa malangnya nasib putri angkatnya itu. Ibu Santi baru mendengar sebagian kisah yang telah menimpa Indira selama ini. Dia baru tahu kalau putri kesayangannya yang selalu mengatakan baik-baik saja itu ternyata selama ini hidup menderita.


Ibu Santi sungguh tidak membayangkan seandainya Indira tahu jika orang yang selama ini dia cari ternyata adalah seseorang yang saat ini telah menyebabkan dia kehilangan bayinya.


Putri angkatnya itu pasti akan sangat sedih karena ibu kandung yang selama ini dia cari ternyata adalah ibu mertua yang selama ini berbuat jahat padanya.


Reyno sudah menceritakan pada Ibu Santi jika Claudia yang telah mencelakai Indira. Dokter tampan itu terpaksa mengatakan kebenarannya pada Ibu Santi karena perempuan itu terus saja menyebut nama Claudia sebagai ibu kandung Indira.


Reyno sendiri sangat kaget saat mengetahui fakta jika Claudia adalah ibu kandung Indira. Namun, siapapun Claudia, dia tetap harus bertanggung jawab pada kejahatan yang telah dia lakukan pada Indira.

__ADS_1


Bahkan, Reyno mengumpati Claudia yang telah tega ingin membunuh anaknya sendiri meskipun Reyno yakin kalau Claudia awalnya tidak tahu jika Indira adalah putri kandungnya yang dulu pernah dititipkan di panti asuhan.


Mendengar kata kecelakaan, Indira langsung mengusap perutnya yang berubah rata. Indira memperhatikan perutnya. Tubuhnya bergetar saat menyadari jika perutnya yang awalnya membuncit itu kini berubah datar.


"Anakku ... di mana anakku? Kenapa perutku ...." Indira tidak melanjutkan ucapannya. Kedua matanya menatap Reyno yang mengusap air matanya kasar dan Ibu Santi yang menangis.


"Tidak!" Indira menggeleng pelan saat mengingat kecelakaan yang menimpanya.


"Tidak mungkin ...."


"Indi ...."


"Dira, Sayang ...."


"Di mana anakku, Rey? Di mana anakku?" Indira berteriak histeris.


Perempuan itu meronta dan terus berteriak membuat semua orang yang ada di ruangan itu ikut menangis.


"Indi, Sayang, kamu yang sabar ya ...." Reno memeluk Indira yang terus menangis sambil terus berteriak mempertanyakan tentang buah hatinya.


"Di mana anakku, Rey?"

__ADS_1


Sambil nunggu update, yuk, mampir dulu di novel karya temen aku



__ADS_2