
"Tidak mungkin ...."
Kedua mata Claudia membola mendengar ucapan Ibu Santi.
"Ibu bohong 'kan? Tidak mungkin Indira itu adalah anak saya." Kedua mata Claudia berkaca-kaca. Tubuhnya gemetar.
"Tidak mungkin ...." Claudia kembali berucap tidak percaya.
"Saya yang mengurus bayi malang itu dari kecil. Bayi yang sudah saya anggap seperti putri saya sendiri. Mana mungkin saya membohongi kamu?" Ibu Santi menatap Claudia yang kini bersimbah air mata.
"Indira adalah anak kamu. Terserah kamu mau percaya atau tidak. Saat kamu memberikan bayi itu, kamu belum memberikan nama untuk bayimu. Saya yang memberinya nama setelah tiga hari bayi perempuan itu tinggal bersama saya di panti asuhan. Kalau kamu tidak percaya, kamu boleh tanya pada penghuni panti asuhan," jelas Ibu Santi membuat Claudia semakin menangis.
Sementara itu, tidak jauh dari tempat mereka berdua, seorang wanita hamil menutup mulutnya saat mendengar kebenaran tentang dirinya. Perempuan itu kemudian bergegas meninggalkan tempat itu tanpa berpamitan pada ibu mertuanya.
Claudia menangis tergugu mendengar ucapan Ibu Santi. Wanita paruh baya itu masih tidak percaya jika Indira adalah putrinya yang selama bertahun-tahun dia cari keberadaannya.
Hati Claudia berdenyut sakit saat perbuatan-perbuatan jahatnya pada Indira satu persatu terlintas di kepalanya.
"Kamu masih tidak percaya dengan ucapan saya Bu Claudia?"
__ADS_1
"Bu–Bukan begitu Bu, saya hanya tidak menyangka kalau putri saya selama ini berada dekat di samping saya. Seandainya saya tahu dia adalah putri saya, saya tidak mungkin memperlakukan dia ...." Claudia tidak mampu melanjutkan ucapannya.
"Kenapa? Apa kamu tidak memperlakukan dia dengan baik?" Ibu Santi menatap tajam ke arah Claudia yang semakin menangis mendengar ucapannya.
Tanpa mendengar jawaban Claudia, Ibu Santi sudah bisa menebak jika wanita di hadapannya itu pasti melakukan Indira dengan tidak baik.
Selama menikah, Indira memang tidak pernah bercerita apapun pada Ibu Santi. Meskipun terkadang wanita itu menelepon, tetapi, dia tidak pernah menceritakan kehidupan pernikahannya. Indira hanya mengatakan kalau dia baik-baik saja.
"Sekarang katakan padaku, apa putramu itu adalah anak kandungmu? Jika itu benar, berarti pernikahan Indira tidak sah karena mereka sedarah. Saya sungguh tidak bisa membayangkan seandainya itu benar. Apalagi, saat ini Indira sedang mengandung." Ibu Santi ikut menitikkan air mata mengingat nasib buruk yang terjadi pada Indira seandainya suaminya adalah saudara kandungnya.
Claudia menggeleng pelan sambil terus terisak. Ada rasa syukur dibalik rasa penyesalannya yang paling dalam karena putrinya menikah dengan Nathan yang merupakan kakak tirinya. Nathan adalah putra dari Abinaya dari istri pertamanya yang meninggal setelah melahirkan Nathan.
Claudia menikah dengan Abinaya saat Nathan berusia tiga tahun. Setelah menikah dengan Abinaya, Claudia baru bercerita tentang putrinya yang dia titipkan di panti asuhan.
"Nathan adalah anak tiri saya. Saya menikah dengan duda yang sudah mempunyai anak berusia tiga tahun. Ibunya meninggal setelah melahirkan anaknya," jawab Claudia sambil masih terisak.
"Alhamdulillah! Berarti Indira dan suaminya tidak punya hubungan darah." Ibu Santi mengucap syukur dan bernapas lega.
"Saya sudah mengatakan kebenaran tentang putrimu. Sekarang, saya serahkan semuanya sama kamu."
__ADS_1
"Saya takut ...," ucap Claudia lirih.
"Takut kenapa?"
"Takut Indira tidak mau menerima saya. Saya sudah melakukan banyak kesalahan sama dia." Claudia kembali menangis.
"Jika kamu merasa melakukan kesalahan pada putrimu, maka minta maaflah!" Ibu Santi mengusap bahu Indira yang berguncang sebelum meninggalkan wanita itu.
"Saya harus segera kembali ke meja saya, kasihan teman-teman saya sudah lama menunggu," ucap Ibu Santi sebelum pergi.
Claudia menangis menyesali semua perbuatannya. Rasanya seperti mimpi. Bagaimana selama ini dia begitu kejam terhadap putrinya sendiri?
"Maafkan mama, Nak. Mama bersalah padamu. Seandainya mama lebih tahu dari awal, mama pasti akan memperlakukan kamu dengan baik." Claudia kembali terisak. Wanita paruh baya itu bahkan tidak peduli meskipun dia menyadari beberapa orang melihat ke arahnya dengan tatapan heran.
Claudia meraih tisu untuk mengusap air matanya saat ponsel dalam tasnya berdering.
Kedua matanya membola saat melihat siapa yang memanggilnya. Saat mengetahui Indira adalah putrinya, Claudia merasa syok sekaligus terharu sampai-sampai dia lupa mengabari orang-orang suruhannya yang sudah bersiap untuk mencelakai Indira.
Tangan Claudia gemetar saat pikiran buruk berputar di kepalanya.
__ADS_1
"Ha–Halo."
"Target sudah berhasil disingkirkan."