
"Aku dalam perjalanan menuju restoran. Aku akan mengirimkan lokasinya setelah aku sampai di sana nanti." Indira membalas pesan Reyno.
Kedua matanya melirik Claudia yang masih sibuk dengan ponselnya.
"Kenapa Reyno menyuruhku berhati-hati pada ibu mertuaku?" batin Indira.
Reyno memang sering mengingatkan padanya untuk berhati-hati dengan keluarga Nathan. Namun, sahabatnya itu tidak pernah mengatakan secara detail siapa saja yang harus diwaspadai di dalam rumah itu. Saat Indira bertanya, Reyno hanya menjawab, suatu saat pasti kamu akan tahu sendiri.
"Kenapa sekarang dia menyuruhku berhati-hati dengan mama Claudia? Apa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Reyno tentang ibu mertuaku?" Indira masih menerka-nerka dalam hati.
"Tetap waspada dan jangan lengah! Jangan lupa beritahu lokasimu dengan segera." Sebuah pesan dari Reyno kembali masuk.
"Kenapa kamu begitu khawatir, Rey? Aku pergi bersama ibu mertuaku, bukan sedang pergi dengan penjahat." Indira membalas dengan sedikit kesal karena merasa penasaran.
"Turuti saja perintahku, Indi!" Indira mengembuskan napas panjang melihat pesan yang dikirimkan Reyno.
Mobil yang ditumpangi Indira dan Claudia sampai di depan restoran. Sebuah restoran yang cukup mewah menurut Indira. Perempuan hamil itu melirik ke arah mertuanya.
__ADS_1
"Kenapa? Kamu baru pertama kali datang ke restoran mewah?" ejek Claudia saat melihat raut terkejut pada wajah cantik Indira.
"Bukan begitu, Nyonya. Saya hanya kaget karena Nyonya membawa saya makan di restoran mewah seperti ini." Indira menjawab sambil tersenyum.
"Jangan ge-er! Saya bawa kamu makan di sini karena saya pengen ada yang menemani makan. Saya ingin memesan banyak menu makanan yang tidak mungkin bisa saya habiskan sendiri. Makanya aku ngajak kamu." Claudia bicara dengan nada ketus.
Wanita itu entah kapan akan bersikap baik pada Indira. Padahal, Indira sudah melakukan yang terbaik untuk ibu mertuanya itu.
Mereka berdua melangkah menuju ke dalam restoran. Seorang pelayan menyambut kedatangan mereka berdua dengan senyum ramah kemudian mempersilahkan Claudia dan Indira duduk di kursi yang sudah dipesan oleh Claudia sebelum datang ke sana.
Wanita paruh baya itu hanya memesan makanan untuk dirinya sendiri.
"Saya sudah memesan banyak makanan, jadi kamu nggak usah pesan lagi," ucap Claudia setelah pelayan perempuan itu pergi dari hadapannya.
Indira hanya mengangguk paham. Lagipula, memang benar apa yang dikatakan oleh Claudia. Perempuan berstatus sebagai ibu mertuanya itu memang sudah memesan beberapa macam makanan yang entah habis atau tidak saat dimakan sendirian.
"Nggak apa-apa, Nyonya. Lagian, kita 'kan cuma berdua. Makanan sebanyak itu tidak mungkin habis kalau hanya kita yang menghabiskannya."
__ADS_1
Jawaban Indira membuat Claudia sedikit kesal. Namun, apa yang dikatakan oleh Indira ada benarnya juga. Makanan yang dia pesan memang sangat banyak.
Claudia menghubungi orang suruhannya lewat pesan. Sedangkan Indira, saat dia melihat ibu mertuanya mulai sibuk dengan ponselnya, dia pun langsung mengirim pesan pada Reyno.
Indira mengirimkan lokasi di mana keberadaannya saat ini sesuai permintaan pria itu. Setelah itu, kedua mata Indira fokus mengamati sekeliling restoran.
Perempuan hamil itu berdecak kagum dengan dekorasi restoran yang terlihat begitu mewah. Saat pandangannya sedang berkeliling, kedua mata Indira menemukan sosok wanita paruh baya yang sangat dia kenal.
Kedua mata Indira berbinar dengan senyum yang mengembang pada bibirnya. Sudah lama sekali dia tidak pernah bertemu dengan wanita itu. Kini, wanita yang sangat dirindukannya itu ternyata ada di sana, sedang berkumpul dengan beberapa orang ibu-ibu sebayanya dan beberapa anak-anak yang Indira yakini adalah adik-adiknya.
Adik-adik panti yang tinggal di panti asuhan yang dulu pernah ditinggalinya.
Tanpa meminta izin pada Claudia, Indira mendekati meja yang tak jauh dari tempatnya duduk. Claudia yang melihat pergerakan Indira hanya terdiam, tidak mencegah atau bertanya pada menantunya, tetapi, kedua matanya mengawasi kemana Indira melangkah.
"Ibu!"
BERSAMBUNG ....
__ADS_1