
"Indira." Reyno menenangkan sahabat yang diam-diam dicintainya itu. Lelaki itu merasa sangat prihatin karena dengan keadaan Indira. Rasanya, Reyno ingin sekali menghabisi orang-orang yang telah membuat Indira terluka.
Lelaki itu menangis saat mendengar suara tangisan Indira yang begitu memilukan. Amarahnya naik saat membayangkan Claudia yang telah menyuruh orang untuk mencelakai Indira.
Rasa bersalah kembali menyerang Reyno. Seandainya saat itu dia langsung datang ke lokasi yang ditunjukkan oleh Indira, mungkin saat ini perempuan itu masih baik-baik saja.
Reyno terlalu percaya diri jika orang-orangnya bisa menyelamatkan Indira saat itu. Padahal, saat itu dia sadar kalau dirinya sedang berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan wanita hamil yang jelas-jelas semenjak datang ke restoran sudah menjadi incaran orang-orang suruhan Claudia.
Keputusannya untuk menyelamatkan pasiennya membuat Indira celaka. Reyno sungguh sangat menyesal karena tidak memberitahu Indira jika Claudia adalah orang yang sangat berbahaya dan selama ini selalu mengincar keselamatannya.
"Maafkan aku, Indi. Maafkan aku karena aku tidak langsung datang saat kamu memberiku lokasi keberadaanmu." Reyno menangis menyesali keputusannya yang lebih menolong orang lain daripada Indira.
"Dira!" Nathan yang baru saja datang berteriak saat melihat keadaan istrinya yang terus berteriak menanyakan keberadaan anak dalam kandungannya.
Nathan menyingkirkan Reyno yang memeluk Indira. Lelaki itu tidak suka saat melihat dokter yang menangani Indira itu sangat dekat dan bahkan dengan tidak tahu malu memeluk istrinya.
Nathan cemburu melihat pria lain mendekati istrinya apalagi sampai memeluknya.
"Dira, Sayang ... Dengarkan aku!" Nathan menangkup wajah Indira yang penuh dengan air mata.
Pria itu merasa sakit saat melihat keadaan Indira yang terlihat begitu bersedih karena kehilangan anak mereka.
"Di mana anakku, Mas? Di mana anakku? Kenapa perutku sekarang kempes? Katakan di mana anakku? Seandainya dia sudah lahir, katakan di mana dia, Mas?" Indira terus berbicara di sela isak tangisnya.
Perempuan itu sangat sedih, apalagi, saat membayangkan jika bayi yang dikandungnya selama beberapa bulan ini sudah tiada.
"Di mana dia, Mas? Di mana bayi kita? Aku ingin bersama dengannya." Indira kembali berucap dengan air mata yang terus mengalir.
"Tuhan lebih sayang sama bayi kita, Sayang. Aku tahu, ini berat buat kamu dan tentu saja sangat berat buat aku juga. Tapi kita harus ikhlas, Sayang. Bayi kita tidak selamat akibat kecelakaan yang kamu alami."
Tangis Indira semakin kencang saat mendengar ucapan Nathan.
__ADS_1
"Tidak! Tidak mungkin! Anakku tidak mungkin meninggal!" teriak Indira histeris.
Nathan memeluk istrinya yang terus berteriak histeris. Hatinya sangat sedih melihat betapa terlukanya Indira saat menghadapi kenyataan jika buah hati mereka sudah meninggal dunia akibat kecelakaan yang diduga disebabkan oleh Claudia.
Claudia memerintahkan beberapa orang untuk mencelakai Indira. Entah apa yang ada dalam pikiran ibunya itu sampai-sampai dia tega menyuruh orang untuk mencelakai menantunya sendiri.
Meskipun Nathan belum mempercayainya seratus persen jika ibunya memang bersalah tetapi, melihat para petugas polisi yang tidak ragu-ragu menangkap ibunya, Nathan sedikit merasa curiga. Biar bagaimanapun, para petugas polisi itu tidak mungkin menangkap ibunya jika memang wanita itu tidak bersalah.
Para petugas polisi itu bahkan mengatakan jika orang-orang suruhan Claudia itu sudah tertangkap karena itu, ibunya langsung ditangkap berdasarkan pengakuan dari orang-orang suruhannya itu.
"Aku mau anakku. Aku tahu, kamu dan mama tidak pernah menginginkan kehadirannya. Tapi aku ingin anakku lahir dengan selamat. Hanya dia yang aku miliki di dunia ini." Kata-kata yang keluar dari mulut Indira membuat Nathan menangis.
Hatinya terasa sakit saat mendengar kata-kata yang keluar dari mulut wanita yang berstatus sebagai istrinya itu.
Nathan memang pernah tidak menginginkan bayi yang berada dalam kandungan Indira. Akan tetapi, kejadian itu tidak berlangsung lama. Dia tahu, dia sudah melakukan kesalahan fatal dengan membenci bayi itu karena telah menjadi penyebab dia menikahi Indira.
Namun, Nathan benar-benar menyayangi bayinya. Dia sadar, kalau dia bersalah karena pernah tidak menginginkan bayi itu dan juga ibunya karena saat itu hatinya dipenuhi oleh Clara.
Kini, Nathan sungguh sangat menyesal karena pernah berpikir ingin meninggalkan Indira dan calon anaknya.
"Aku juga menginginkan anak kita lahir dengan selamat, Sayang. Maafkan aku karena aku pernah menyakitimu dan anak kita. Tapi sungguh, Dira. Aku mencintaimu dan ingin anak itu terlahir ke dunia dalam keadaan sehat. Aku bahkan akan mengingkari janjiku yang akan meninggalkanmu setelah bayi itu lahir. Aku tidak sanggup kehilangan kalian, Dira. Aku tidak sanggup! Tapi, bukankah kita tidak bisa melawan takdir? Tuhan lebih sayang pada anak kita karena itu dia mengambilnya kembali."
"Tidak! Tuhan kembali mengambilnya karena dia tahu tidak ada yang menginginkan kehadirannya di dunia ini. Termasuk kamu, Nathan!"
"Sayang ...." Nathan mendekap erat tubuh Indira yang terus menangis dan berteriak.
"Kamu jahat! Kamu jahat, Nathan!"
"Dira ...."
"Sekarang kamu pasti senang bukan, karena dia sudah pergi?"
__ADS_1
"Sayang, apa yang kamu katakan?" Nathan menatap Indira dengan rasa sakit di hatinya. Tuduhan Indira melukai hatinya.
"Aku juga sedih dan terluka karena kehilangan anak kita, Sayang. Mana mungkin aku bahagia melihatnya pergi meninggalkan kita?"
"Bohong! Kamu bohong, Nathan! Saat ini kamu dan istri barumu pasti sangat senang karena anakku telah pergi bahkan sebelum dilahirkan!" teriak Indira. Perempuan yang baru saja keguguran akibat kecelakaan itu mengungkapkan perasaan yang selama ini dia tahan di hatinya yang paling dalam.
"Aku membencimu Nathan Abinaya! Aku sangat membencimu!"
"Indira ...." Nathan menangis mendengar ungkapan kebencian yang keluar dari mulut Indira.
Hatinya sangat sakit mendengar kata-kata kebencian yang keluar dari mulut istrinya.
"Aku membencimu! Aku membencimu!"
"Dira ...." Nathan melepaskan pelukannya pada Indira saat perempuan itu terus berteriak padanya.
Reyno yang sedari tadi diam, langsung bergerak mendekati Indira bersama seorang perawat yang baru saja datang ke dalam ruangan itu.
Reyno memberikan obat penenang pada Indira karena perempuan itu terus saja berteriak histeris.
"Aku membencimu, Nathan! Aku sangat membencimu!" Indira masih mengucapkan kata-kata kebencian pada Nathan sebelum wanita itu menutup mata karena tidak sadarkan diri setelah obat penenang itu bereaksi.
"Sayang, aku sangat mencintaimu. Sampai kapanpun akan terus mencintaimu. Aku tahu aku salah karena telah membuatmu terluka dengan menikahi Clara. Tapi aku sungguh mencintaimu, Dira. Sangat mencintaimu.
Aku juga merasa sedih dan hancur karena kehilangan anak kita. Aku adalah orang yang sangat menginginkan kehadiran anak kita ke dunia. Bagaimana mungkin aku membencinya? Aku juga menginginkannya. Aku mencintai anak kita seperti aku mencintai kamu, Dira. Percayalah!" Suara Nathan bergetar. Lelaki itu menangis sambil menatap Indira yang kini memejamkan mata karena pengaruh obat yang diberikan oleh Reyno.
"Aku mencintaimu, Dira. Hatiku pun hancur karena kehilangan anak kita," lirih Nathan.
"Anakmu tidak akan meninggal dunia seandainya ibumu tidak sengaja melenyapkannya." Reyno menatap tajam penuh dendam pada Nathan. Lelaki pecundang yang tidak pernah bisa membela istrinya sendiri di depan keluarga dan istri barunya.
__ADS_1