
"Saya pikir, kamu sudah melupakan anak kamu." Ibu Santi menatap Claudia yang terlihat terkejut.
"Mana mungkin saya melupakan anak saya?" Claudia tidak terima.
"Bertahun-tahun saya mencari Ibu, tapi saya tidak pernah menemukan Ibu," lanjut Claudia. Wajahnya berubah sendu.
Perempuan itu kemudian menceritakan apa yang terjadi setelah hari itu. Hari di mana dia menitipkan bayi yang baru lahir dari rahimnya.
Claudia terpaksa menitipkan anak yang baru dilahirkannya itu ke panti asuhan. Saat itu, dia tidak punya pilihan. Claudia melahirkan tanpa suami, dia hamil di luar nikah karena
lelaki yang menghamilinya tidak mau bertanggung jawab kemudian meninggalkannya.
Claudia sangat putus asa. Saat lelaki yang menghamilinya pergi meninggalkannya. Dia hampir saja menghabisi calon bayi dalam kandungannya.
Beruntung, saat itu ada salah satu teman yang menasihatinya agar dia tidak menggugurkan kandungannya. Biar bagaimanapun, bayi dalam kandungannya itu tidak bersalah. Dia berhak hidup dan lahir ke dunia seperti anak-anak lain.
"Dulu, saya datang ke panti asuhan untuk menemui anak saya, tapi saat saya sampai di sana, panti asuhan itu sudah tidak ada. Orang bilang, panti itu digusur oleh pemilik lahan. Namun, saat saya menanyakan keberadaan Ibu, tidak ada satu orang pun di antara mereka yang mengetahuinya," jelas Claudia panjang lebar. Wanita itu tidak terima karena Ibu Panti mengatakan kalau dia sudah melupakan anaknya.
Ibu Santi mendengarkan cerita Claudia tanpa menyelanya sama sekali. Wanita itu ingin tahu apa alasan Claudia membohonginya.
"Saya tidak bermaksud mengingkari janji saya, Bu. Saat itu, saya tidak bisa langsung menemui Ibu di panti asuhan karena keadaan. Saya belum punya pekerjaan yang mapan sehingga tidak bisa langsung menjemput putri saya untuk tinggal bersama saya." Claudia kembali menceritakan keadaannya saat itu.
__ADS_1
Ibu Santi terdiam. Wanita itu belum mau menanggapi ucapan Claudia karena perempuan itu masih menceritakan kejadian puluhan tahun yang lalu.
"Saya dan suami saya mencari Ibu kemana-mana, tetapi, kami berdua tidak menemukan Ibu." Claudia masih menatap sendu pada wanita baya di hadapannya.
"Sekarang, saya mohon, tolong katakan di mana anak saya?" Tetesan air bening mengalir pada pipi Claudia. Wanita yang begitu angkuh itu menangis.
Bertahun-tahun dia kehilangan harapan untuk bertemu dengan Ibu Santi. Namun, takdir ternyata menemukannya kembali dengan wanita itu.
Ibu Santi menarik napas panjang. Wanita tua itu menerima genggaman tangan Claudia pada tangannya.
"Apa hubungan kamu dengan Indira?" tanya Ibu Santi.
"Menantumu?" Ibu Santi merasa kaget mendengar ucapan Claudia.
"Ya. Dia menantuku, tapi aku kurang menyukainya." Claudia mengeluh.
"Kenapa? Apa dia membuat kesalahan?" Suara Ibu Santi bergetar. Bukan karena mendengar Claudia mengatakan tidak menyukai Indira, tetapi, ada sesuatu yang membuatnya merasa khawatir.
"Tidak! Dia tidak membuat kesalahan. Aku tidak menyukainya karena dia datang ke rumah dalam keadaan hamil dan meminta putra saya untuk menikahinya, padahal saat itu putra saya akan menikah dengan perempuan lain." Claudia menjelaskan dari pertama dia tidak menyukai Indira. Hanya saja, dia tidak membeberkan kejahatan yang dia lakukan untuk melenyapkan Indira.
"Jadi, Indira dimadu?" Ibu Santi mengepalkan kedua tangannya. Tidak menyangka jika sang putri angkat yang dia sayangi ternyata begitu menderita.
__ADS_1
Selama ini, Indira tidak pernah menceritakan apapun kecuali memberitahukan padanya jika dia sudah menikah dengan lelaki baik yang sangat mencintainya.
Air mata Ibu Santi mengalir dengan sendirinya.
"Kenapa kamu begitu jahat pada putri angkat saya? Dia hanya memperjuangkan apa yang menjadi haknya. Jika dia tidak memaksa putra Anda untuk bertanggung jawab, dia pasti akan bernasib sama dengan kamu."
Claudia tampak terkejut mendengar ucapan Ibu Santi yang memojokkannya. Sudut hatinya terasa nyeri saat mengingat kembali peristiwa puluhan tahun yang lalu sebelum dia hamil anak yang dia titipkan di panti asuhan Ibu Santi.
"Apa suami Indira adalah putra kandungmu?" Ibu Santi menatap Claudia dengan tatapan tajam.
"Apa maksud Ibu? Tentu saja dia adalah putra kandung saya. Kenapa Ibu bertanya tentang putra saya? Saya mengajak Ibu bicara karena saya ingin tahu di mana putri saya bukannya malah bercerita tentang putra saya!" Claudia merasa kesal.
"Aku bertanya karena ini ada hubungannya dengan putrimu."
"Apa maksud Ibu?" Claudia merasa penasaran.
Ibu panti terdiam sejenak. Wanita itu sedang menahan gejolak di dadanya. Seandainya benar suami Indira adalah putra kandung Claudia ....
"Indira adalah putrimu!"
"Apa?"
__ADS_1