
Indira mematut wajahnya di depan cermin. Wanita itu tersenyum puas saat melihat wajahnya sendiri. Semenjak Indira melakukan perawatan, wajahnya semakin terlihat cantik.
Apalagi, sekarang wanita hamil itu juga sudah pandai berdandan. Indira mengikuti apa yang dikatakan oleh Reyno. Lelaki itu benar-benar sangat membantunya. Bukan hanya membantunya dalam hal materi, Reyno juga membantunya lewat nasihat dan semangat yang selalu dia ucapkan.
"Dandan yang cantik biar suamimu terpesona. Kalau bisa, rayu dia agar setiap malam dia tidur di kamarmu." Ucapan Reyno kembali terngiang di telinganya.
"Layani dia dengan baik biar tambah klepek-klepek!"
Indira tersenyum sendiri saat mengingat ucapan Reyno yang menasihatinya tentang melayani Nathan di atas ranjang. Bukannya apa-apa, meskipun dia sudah menikah, bagi Indira, menceritakan adegan ranjang adalah hal tabu.
Lagipula, Reyno itu adalah jomblo sejati. Bisa-bisanya pria itu menasihatinya tentang adegan ranjang. Entahlah! Apa jangan-jangan jomblo itu hanya gelarnya saja? Bisa saja 'kan, Reyno mengaku jomblo, tetapi, dia mengumbar keperjakaannya pada siapapun wanita yang disukainya?
Indira menyemprotkan minyak wangi kesukaan Nathan. Bau harum menguar di seluruh kamar. Malam ini, Indira ingin mengikuti apa yang dikatakan oleh Reyno, yaitu merayu Nathan.
Andai saja bukan karena ingin balas dendam, Indira tidak akan mau melakukan hal memalukan seperti itu. Rasa cinta Indira sudah hilang untuk Nathan. Kalaupun ada, mungkin hanya sebagian kecil saja.
Hatinya sudah mati rasa sejak Nathan berselingkuh dengan Clara dan memilih menikahi wanita itu. Indira bahkan masih mengingat saat pria itu mengatakan kalau dia sudah tidak mencintainya lagi.
Hati Indira yang sudah hancur karena pengkhianatan Nathan, semakin bertambah hancur karena pengakuan lelaki itu.
Akan tetapi, Nathan memang buaya. Setelah mengatakan sudah tidak mencintainya lagi hanya karena ingin menikahi Clara, kini, lelaki itu kembali mendekatinya.
__ADS_1
Nathan bahkan dengan tidak tahu malu mengatakan kalau dia sangat mencintainya. Indira sungguh tidak mengira kalau lelaki yang dulu sangat dicintainya selama tiga tahun itu ternyata mempunyai sifat yang munafik. Bodohnya Indira karena sedari dulu dia begitu mempercayai Nathan. Wanita itu bahkan rela memberikan kesuciannya demi lelaki itu.
Indira tersenyum saat mendengar suara pintu terbuka. Wanita hamil yang saat ini memakai baju transparan itu tersenyum saat melihat Nathan masuk dan langsung mengunci pintu kamarnya.
"Sayang, kamu cantik sekali?" Nathan mendekati Indira yang tersenyum manis padanya.
"Kamu baru sadar kalau aku cantik, Mas?" Indira menerima pelukan Nathan. Wanita itu juga membiarkan lelaki itu menciumnya.
"Bukan begitu, hanya saja, kali ini kamu tampak sangat berbeda." Nathan mengecup lembut bibir Indira. Bibirnya bergerak menyusuri leher jenjang istrinya.
"Aku suka sekali harum tubuhmu," ucap Nathan. Hidungnya menghirup rakus aroma tubuh Indira yang begitu memabukkan.
Nathan tidak pernah jatuh cinta pada wanita lain selain Indira. Bertahun-tahun lelaki itu hanya menjadi kekasihnya Indira. Nathan bahkan memperlakukan Indira seperti seorang istri hingga menyebabkan wanita itu hamil.
Indira tersenyum mendengar ucapan Nathan. Wanita itu melepaskan wajah Nathan pada lehernya. Kedua netranya menatap wajah tampan Nathan yang pernah membuatnya tergila-gila.
Namun, wajahnya berubah cemberut saat wajah Clara melintas di kepalanya. Wanita itu terkadang seperti hantu, tiba-tiba muncul mengganggunya. Clara tidak pernah mengijinkan Nathan untuk menemui Indira karena dia takut lelaki itu kembali menyukai istri pertamanya itu.
"Kamu yakin, kali ini Clara tidak akan mengganggu kita?" Indira menatap pria di hadapannya dengan raut wajah cemberut. Namun, justru membuat wanita itu terlihat semakin cantik.
"Aman, Sayang, Clara baru saja berpamitan ingin pergi bersama teman-temannya," jawab Nathan.
__ADS_1
Indira melirik ke arah jam dinding di kamarnya. Hampir jam sepuluh malam.
"Kamu membiarkan dia pergi malam-malam begini?" Indira menatap Nathan yang terlihat mengembuskan napas panjang.
"Sayang, bisakah kita tidak membicarakan dia sekarang? Aku hanya ingin bersamamu. Menikmati malam ini denganmu." Nathan menatap wajah cantik Indira dengan tatapan tak terbaca.
Dirinya malu pada Indira karena kelakuan Clara. Istri keduanya itu sama sekali tidak mendengarkan larangannya. Clara bahkan tetap pergi bersama teman-temannya meskipun Nathan sudah melarangnya. Wanita itu pergi ke klub malam karena salah satu temannya ada yang berulang tahun.
Nathan sudah menyia-nyiakan Indira dengan menduakan wanita itu. Akan tetapi, wanita yang dia kira lebih baik dari Indira ternyata tidak ada apa-apanya dibandingkan wanita cantik yang kini berada dalam pelukannya.
Clara memang cantik, kaya dan terlihat sangat elegan. Wanita itu secara fisik dan nama keluarganya yang terpandang jelas sangat bisa dibanggakan. Akan tetapi, perempuan itu ternyata minim akhlak. Clara tidak seperti Indira yang selalu menuruti semua ucapannya dan selalu menghormati kedua orang tuanya meskipun perlakuan ibunya terhadap Indira sungguh keterlaluan, tetapi, Indira tetap menghormatinya.
Seandainya Indira melawan pun karena dia tidak terima sang ibu mertua selalu menghinanya. Mengingat semua perlakuan ibunya, membuat Nathan semakin merasa bersalah.
Nathan sudah membuat wanita itu terluka dengan menikahi Clara, ditambah lagi, perbuatan ibunya yang selalu berusaha menindas Indira. Sungguh! Nathan tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan perempuan di hadapannya ini.
"Sayang, maafkan aku. Aku janji, mulai sekarang, aku akan bersikap adil padamu. Aku tahu, aku salah karena telah melukai hatimu dengan menikahi Clara. Tapi percayalah padaku, Dira. Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu meskipun sudah ada Clara di antara kita. Aku mencintaimu, Sayang, sungguh!" Nathan memeluk erat tubuh Indira. Lelaki itu seolah sangat takut kalau Indira tiba-tiba pergi meninggalkannya.
Aku mencintaimu, Indira. Aku benar-benar takut jika suatu saat kamu meninggalkan aku. Kini, aku baru sadar, jika kamu memanglah wanita yang sangat ku inginkan. Aku sungguh menyesal karena telah membawa Clara dalam pernikahan kita.
BERSAMBUNG ....
__ADS_1